Dicegat Israel, 31 Aktivis Global Sumud Flotilla Terluka

- Sedikitnya 31 aktivis Global Sumud Flotilla terluka setelah kapal mereka dicegat militer Israel di perairan internasional saat membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza.
- Sejumlah negara seperti Turki, Spanyol, Jerman, dan Italia mengecam tindakan Israel yang dianggap melanggar hukum internasional, sementara AS menilai armada GSF terkait kelompok Hamas.
- Pejabat PBB memperingatkan kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk akibat serangan berkelanjutan dan pembatasan akses bantuan penting oleh Israel.
Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 31 aktivis dilaporkan terluka saat Israel mencegat sejumlah kapal dari armada Global Sumud Flotilla (GSF) yang membawa bantuan ke Gaza di perairan internasional. Para aktivis tersebut berasal dari berbagai negara, termasuk Selandia Baru, Australia, Italia, Amerika Serikat (AS), Inggris hingga Kanada.
GSF mengatakan bahwa sejak Rabu (29/4/2026), sedikitnya 22 kapal telah dicegat oleh militer Israel di dekat pulau Kreta, Yunani, sementara 47 kapal yang tersisa masih berlayar. Organisasi relawan peduli Palestina itu menyebutkan sedikitnya 168 aktivis yang berada di kapal telah dibawa ke Kreta, sementara dua lainnya masih ditahan oleh pihak berwenang Israel.
Armada tersebut, yang berangkat dari Spanyol, Prancis dan Italia, mulai berlayar 2 pekan lalu dengan tujuan menembus blokade Israel di Gaza. Setiap kapal membawa sekitar satu ton makanan, pasokan medis, dan peralatan penting lainnya.
1. Sejumlah aktivis menghadapi penganiayaan oleh tentara Israel

Dilansir dari Anadolu, komite GSF mengatakan bahwa para aktivis mengalami perlakuan tidak layak selama berada di atas kapal angkatan laut Israel selama hampir 40 jam. Mereka juga sengaja tidak diberi cukup air dan makanan serta dipaksa tidur di lantai yang basah.
Bahkan, mereka yang menolak penahanan Saif Abukeshek, warga negara Spanyol keturunan Palestina, dan Thiago Avila, warga negara Brasil, mendapat tindakan kekerasan dari tentara Israel.
"Seperti yang bisa Anda lihat, hidung saya kemungkinan patah. Tulang rusuk saya sakit, mungkin juga patah. Saya tidak yakin. Leher saya juga. Mereka menendang kami, memukul kami, dan menyeret kami di tanah, dan kami bahkan mendengar tembakan dilepaskan ke arah orang-orang,” kata salah satu aktivis.
2. Sejumlah negara kecam pencegatan kapal GSF

Sejumlah pejabat negara turut mengecam pencegatan kapal GSF dan menilainya sebagai pelanggaran hukum internasional. Turki bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai aksi pembajakan.
“Dengan menargetkan Global Sumud Flotilla, yang misinya adalah menarik perhatian terhadap bencana kemanusiaan yang dihadapi warga sipil tak bersalah di Gaza, Israel juga telah melanggar prinsip kemanusiaan dan hukum internasional,” demikian pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Turki, dikutip dari Al Jazeera.
Spanyol menyebut pencegatan itu ilegal, sementara Jerman dan Italia menyampaikan keprihatinan mendalam dan menyerukan pembebasan para tahanan.
Dalam pernyataan pada Kamis, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengancam akan memberikan konsekuensi terhadap pihak-pihak yang mendukung armada GSF, yang disebutnya pro-Hamas. Namun, para aktivis pro-Palestina mengatakan bahwa Israel dan AS keliru menyamakan dukungan terhadap hak-hak Palestina dengan dukungan terhadap pejuang Hamas.
3. Pejabat PBB sebut situasi di Gaza terus memburuk

Pada Oktober 2025, militer Israel juga mencegat sekitar 40 kapal dari armada pertama GSF yang berupaya membawa bantuan ke Gaza. Lebih dari 450 peserta ditangkap dan dibawa ke Israel, termasuk cucu pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela, aktivis iklim asal Swedia Greta Thunberg dan Anggota Parlemen Eropa Rima Hassan.
Sebagian dari mereka mengaku mengalami kekerasan fisik dan psikologis selama dalam penahanan. Israel kemudian mendeportasi para awak kapal dan aktivis yang ditangkap tersebut.
Awal pekan ini, pejabat senior Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa situasi di Gaza terus memburuk, dengan 2,1 juta penduduknya terus menghadapi serangan mematikan dari Israel dan kondisi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan.
“Meskipun ada beberapa perbaikan dalam akses dan penyaluran bantuan dalam beberapa pekan terakhir, akses yang tidak menentu, terbatasnya perlintasan operasional, serta pembatasan terhadap barang-barang kemanusiaan penting yang dikategorikan sebagai ‘dual use’ oleh Israel masih terus menghambat respons PBB,” kata Asisten Sekretaris Jenderal Khaled Khiari kepada Dewan Keamanan, dikutip dari BBC.


















