Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

PSI: Jangan Karena Politik, Sejarah Pembangunan NTT Era Jokowi Dihapus

PSI: Jangan Karena Politik, Sejarah Pembangunan NTT Era Jokowi Dihapus
Presiden Jokowi meresmikan Jalan Akses Labuan Bajo-Golo Mori di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa (14/3/2023) (dok. Sekretariat Presiden)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Sekretaris DPW PSI NTT Junaidin Mahasan meminta publik memisahkan perbedaan politik dari penilaian rekam jejak pembangunan era Jokowi, menjelang kunjungan Jokowi ke NTT pada 31 Juli-2 Agustus 2026.
  • Junaidin menyebut pembangunan infrastruktur, jalan, pelabuhan, pariwisata, dan Tol Laut mencerminkan pergeseran paradigma dari Jawa-sentris ke Indonesia-sentris serta memperkuat konektivitas NTT.
  • Menurut Junaidin, kunjungan Jokowi akan mengingatkan masyarakat NTT pada kebijakan dan pembangunan yang masih dirasakan, sekaligus mencerminkan hubungan emosional yang terbentuk selama masa pemerintahannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sekretaris DPW PSI Nusa Tenggara Timur (NTT), Junaidin Mahasan, mengajak publik untuk memisahkan perbedaan pilihan politik dari penilaian terhadap rekam jejak pembangunan di NTT.

Hal itu disampaikan jelang kunjungan Presiden ketujuh RI, Joko "Jokowi" Widodo, ke NTT pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026. Ia menilai masyarakat masih mengingat berbagai pembangunan yang dilakukan pada masa pemerintahan Jokowi.

1. Masyarakat NTT ingat pembangunan era Jokowi

PSI: Jangan Karena Politik, Sejarah Pembangunan NTT Era Jokowi Dihapus
Presiden Jokowi meresmikan Bendungan Temef di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu (2/10/2024). (Youtube.com/Sekretariat Presiden)

Menurut Junaidin, setiap kali nama Jokowi kembali disebut, masyarakat NTT kembali mengingat berbagai program pembangunan yang dinilai membawa perubahan bagi daerah tersebut.

"Setiap kali nama beliau (Jokowi) kembali disebut, ingatan masyarakat NTT tentang legacy dan jejak pembangunan di NTT pun ikut muncul ke permukaan. Di era Bapak Jokowi, paradigma pembangunan bergeser dari Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris," kata Junaidin kepada jurnalis, Kamis (30/7/2026).

Junaidin menyebut, bagi sebagian besar masyarakat NTT, perubahan paradigma pembangunan tersebut bukan sekadar slogan, melainkan dirasakan melalui berbagai program pemerintah.

"Bagi sebagian besar masyarakat NTT, perubahan paradigma itu bukan sekadar slogan. Masyarakat melihatnya melalui pembangunan infrastruktur, penguatan konektivitas, pembangunan jalan dan pelabuhan, pengembangan kawasan pariwisata, serta program Tol Laut. Tol Laut bukan sekadar kapal yang berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Tol Laut adalah simbol perubahan cara negara melihat NTT," ujarnya.

Junaidin menyebut, kehadiran Tol Laut menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas antarwilayah di NTT.

"Laut yang dulu menjadi pemisah, perlahan diubah menjadi jalan. Jarak yang dulu menjadi hambatan, mulai diubah menjadi konektivitas. Dan pulau-pulau yang dulu terasa jauh, mulai dihubungkan dengan denyut pembangunan nasional,” jelasnya.

2. Perbedaan pandangan politik jangan menghapus fakta pembangunan yang telah dirasakan masyarakat

PSI: Jangan Karena Politik, Sejarah Pembangunan NTT Era Jokowi Dihapus
Sekretaris DPW PSI Nusa Tenggara Timur (NTT), Junaidin Mahasan (dok. PSI)

Junaidin juga menegaskan, perbedaan pandangan politik seharusnya tidak menghapus fakta-fakta pembangunan yang telah dirasakan masyarakat.

"Karena itu, kalau ada yang hari ini mencoba mengecilkan arti pembangunan di NTT hanya karena alasan politik, saya ingin mengatakan, Silakan berbeda pilihan politik. Tetapi jangan menghapus fakta sejarah. Di era Bapak Jokowi, paradigma pembangunan bergeser dari Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris,” tegas Junaidin.

Menurutnya, konsep Indonesia-sentris menjadi bukti kehadiran negara hingga ke wilayah kepulauan, perbatasan, dan daerah yang selama ini menghadapi keterisolasian.

"Inilah makna Indonesia-sentris: negara hadir bukan hanya di pusat-pusat pertumbuhan, tetapi juga di wilayah perbatasan, kepulauan, dan pelosok yang selama ini menghadapi keterisolasian. Sehingga bagi sebagian masyarakat NTT, Bapak Jokowi bukan sekadar mantan Presiden. Beliau adalah sosok yang meninggalkan cerita, kebijakan, dan pembangunan yang masih dirasakan hingga hari ini,” jelasnya.

3. Hubungan emosional antara Jokowi dengan masyarakat NTT

PSI: Jangan Karena Politik, Sejarah Pembangunan NTT Era Jokowi Dihapus
Presiden Jokowi bermain sepak bola dengan warga NTT (dok. Sekretariat Presiden)

Junaidin mengatakan, kunjungan Jokowi ke NTT bukan hanya dipandang sebagai agenda politik, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat berbagai kebijakan yang pernah dijalankan pemerintah pusat di wilayah tersebut. Dia menyebut, kedatangan Jokowi kembali ke NTT akan membangkitkan memori masyarakat terhadap berbagai pembangunan yang telah dilakukan.

"Karena itu, ketika Bapak Jokowi datang kembali ke NTT, yang muncul bukan hanya nostalgia, tetapi juga memori kolektif masyarakat NTT tentang apa yang pernah dikerjakan dan apa yang masih menjadi legacy beliau,” ungkapnya.

Junaidin menekankan, pihaknya tidak bermaksud mengkultuskan tokoh tertentu, melainkan mengingat rekam jejak pembangunan yang menurutnya masih dirasakan hingga sekarang. Menurutnya, hubungan emosional antara Jokowi dengan masyarakat NTT terbentuk melalui perhatian dan kebijakan yang dirasakan langsung oleh masyarakat selama masa pemerintahannya.

"Bagi banyak masyarakat NTT, Pak Jokowi telah meninggalkan jejak. Dan jejak itu masih bisa dilihat, masih bisa dirasakan, dan masih menjadi bagian dari cerita pembangunan NTT. Maka ketika Pak Jokowi kembali datang ke NTT, jangan heran kalau masyarakat menyambut dengan hangat. Karena hubungan emosional antara Pak Jokowi dan masyarakat NTT tidak lahir kemarin sore. Hubungan itu dibangun melalui proses cukup lama, melalui perhatian, dan melalui kebijakan yang dirasakan masyarakat,” katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More