Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tekan Polusi Udara, Pemkot Bogor Riset Sampah di Situ Gede

Tekan Polusi Udara, Pemkot Bogor  Riset Sampah di Situ Gede
Pemkot Bogor Edukasi Pemilihan Sampah Ke Warga di Situgede. Istimewa
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Pemkot Bogor dan Diet Plastik Indonesia menjalankan proyek Fireflies di Situ Gede untuk menekan polusi udara akibat pembakaran sampah dan mendorong pemilahan dari sumbernya.
  • Riset mencakup studi sosial, pemantauan udara, serta analisis komposisi sampah dari 150 rumah guna memahami perilaku warga dan mengurangi pembakaran, dengan fokus pada pengelolaan popok bayi sebagai residu utama.
  • Sistem pemilahan sampah disiapkan menjadi rantai pasok PLTSa agar residu seperti popok bayi dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar energi terbarukan sekaligus mengurangi beban TPA.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bogor, IDN Times – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berkolaborasi dengan organisasi Diet Plastik Indonesia melalui proyek "Fireflies" untuk memperbaiki kualitas udara di wilayah RW 10 Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat.

Langkah ini diambil guna menghilangkan kebiasaan warga membakar sampah akibat penumpukan dan keterlambatan pengangkutan yang berdampak buruk pada lingkungan.

Penanggung Jawab Proyek Fireflies dari Diet Plastik, Farhan, menjelaskan, riset ini mencakup aspek sosial hingga komposisi sampah guna mendorong pemilahan dari sumbernya.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengatakan, edukasi ini krusial menjelang pembangunan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di masa depan.

"Apa yang kita dorong adalah perbaikan kualitas udara yang masalahnya muncul dari pembakaran sampah. Sampah yang tidak dikelola dengan baik akhirnya dibakar warga sebagai solusi," ujar Farhan, Jumat(24/4/2026).

1. Riset antropologi sosial dan komposisi sampah warga

Ilustrasi pilah sampah. (IDN Times/Yuko Utami)
Ilustrasi pilah sampah. (IDN Times/Yuko Utami)

Farhan mengatakan, proyek Fireflies saat ini tengah menjalankan tiga riset utama, yakni antropologi sosial, pemantauan kualitas udara, dan Waste Analysis and Characterization Study (WACS). Dalam riset WACS, tim mengambil sampel sampah dari 150 rumah selama delapan hari berturut-turut untuk dipetakan kategorinya mulai dari organik, nonorganik, hingga residu.

Data ini akan menjadi dasar penanganan sampah yang lebih spesifik agar tidak ada lagi material yang berakhir di pembakaran warga. Farhan memaparkan pentingnya pemahaman perilaku masyarakat dalam transisi ini.

"Kita bekerja sama dengan peneliti antropologi Universitas Indonesia untuk mengetahui secara sosial bagaimana kebiasaan dan pandangan warga Situgede terkait persampahan," kata Farhan.

2. Pemilahan residu popok bayi jadi fokus utama

Ilustrasi tumpukan popok bayi yang dibuang sembarangan (shutterstock.com/A_Lesik)
Ilustrasi tumpukan popok bayi yang dibuang sembarangan (shutterstock.com/A_Lesik)

Dalam sosialisasi di lapangan, ditemukan fakta bahwa salah satu timbulan sampah terbanyak di permukiman adalah popok bayi yang masuk dalam kategori residu.

Pemkot Bogor berencana menyediakan penampungan khusus untuk jenis sampah ini agar tidak tercampur dengan sampah organik atau dibuang ke aliran sungai yang dapat memicu banjir lintasan.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengatakan, kesadaran masyarakat adalah kunci utama keberhasilan kebijakan lingkungan dari hulu ke hilir.

"Ternyata sampah yang paling banyak itu adalah popok bayi. Ini masuk kategori residu, jadi tidak boleh dicampur dengan sisa makanan," kata Dedie.

3. Persiapan bahan baku energi listrik terbarukan

Ilustrasi pembangkit listrik dari sampah (Jatimnow.com)
Ilustrasi pembangkit listrik dari sampah (Jatimnow.com)

Penerapan sistem pemilahan sampah di tingkat RW ini juga diproyeksikan sebagai rantai pasok untuk fasilitas PLTSa yang akan dibangun. Sampah residu seperti popok bayi memiliki potensi besar sebagai bahan bakar pembangkit listrik jika dikelola dengan teknologi yang tepat.

Dengan mengubah sampah menjadi energi, pemerintah berharap beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berkurang signifikan sekaligus memberikan asas kemanfaatan bagi warga. Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menjelaskan arah kebijakan pemanfaatan sampah di masa depan.

"Kalau nanti dijadikan pembangkit listrik, sampah itu akan memiliki asas kemanfaatan; kita nantinya punya kewajiban untuk menyetor sampah ke fasilitas tersebut," kata Dedie.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Related Articles

See More