Tiga Malam Rahasia Pembesar Quraisy Mendengar Al-Quran

- Tiga tokoh Quraisy, termasuk Abu Sufyan dan Abu Jahal, diam-diam mendengarkan bacaan Al-Qur’an Rasulullah SAW selama tiga malam berturut-turut meski secara terbuka menentang dakwah beliau.
- Abu Sufyan dan Al-Akhnas mengakui keindahan bacaan itu, sementara Abu Jahal menolak karena gengsi dan persaingan kabilah, menggambarkan hati yang tertutup dari kebenaran wahyu.
- Mereka kemudian menuduh Nabi terkena sihir dan meragukan kebangkitan, namun Al-Qur’an menjawab tuduhan itu dengan penegasan kekuasaan Allah yang mampu menghidupkan kembali makhluk
Jakarta, IDN Times - Penentangan kaum Quraisy terhadap dakwah Rasulullah SAW kerap digambarkan begitu keras dan terbuka. Namun, di balik sikap permusuhan itu, tersimpan kisah yang jarang dibicarakan: beberapa tokoh utama Quraisy justru diam-diam mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan Nabi Muhammad SAW pada malam hari.
Dari buku Sirah Nabawiyah susunan Ibnu Ishaq, dikisahkan para pembesar Quraisy pernah keluar malam secara terpisah, demi menyimak bacaan Rasulullah yang sedang melaksanakan salat malam di rumahnya. Mereka tidak saling mengetahui kehadiran satu sama lain, dan rela begadang hingga fajar menyingsing.
Kisah ini menunjukkan meskipun menentang secara terbuka, hati mereka tetap terusik oleh keindahan dan kekuatan wahyu yang dibacakan Nabi.
1. Tiga pembesar Quraisy begadang demi mendengar bacaan Al-Qur’an

Menurut riwayat yang disampaikan Ibnu Ishaq, suatu malam tiga tokoh Quraisy keluar secara terpisah untuk menyimak bacaan Rasulullah SAW, yang sedang melaksanakan salat malam di rumahnya. Mereka adalah Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahal bin Hisyam, dan Al-Akhnas bin Syariq.
Menariknya, masing-masing tidak mengetahui dua orang lainnya melakukan hal yang sama. Mereka rela begadang hanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan Nabi.
Ketika fajar menyingsing, mereka bubar dan tanpa sengaja bertemu di jalan. Masing-masing saling menyalahkan dan berpesan agar tidak mengulangi perbuatan itu, karena khawatir menimbulkan kecurigaan di kalangan Quraisy.
Namun, malam berikutnya, hal yang sama berulang. Bahkan sampai malam ketiga. Barulah setelah itu mereka berjanji tidak lagi mendatangi rumah Rasulullah untuk mendengar bacaan Al-Qur’an.
2. Pengakuan jujur Abu Sufyan dan Al-Akhnas

Keesokan harinya, Al-Akhnas mendatangi Abu Sufyan dan bertanya tentang pendapatnya terhadap bacaan yang ia dengar. Abu Sufyan menjawab dengan jujur bahwa ada bagian yang ia pahami, dan ada pula yang tidak ia mengerti. Al-Akhnas mengakui merasakan hal serupa.
Namun, ketika Al-Akhnas bertanya kepada Abu Jahal, responsnya berbeda. Ia tidak menyangkal keindahan bacaan itu, tetapi gengsi dan rivalitas dengan Bani Abdu Manaf membuatnya menolak beriman.
Menurutnya, persaingan kehormatan antar kabilah membuat ia mustahil menerima kenabian dari keluarga tersebut. Ia pun bersumpah tidak akan pernah membenarkan Nabi.
Sikap ini kemudian tercermin dalam firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 45–46:
وَإِذَا قُرَأْتَ ٱلْقُرْءَانَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱلْـَٔاخِرَةِ حِجَابًا مَّسْتُورًا
وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرًا
Artinya:
“Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka…” (QS. Al-Isra: 45–46).
Ayat ini menggambarkan bagaimana penolakan bukan semata karena tidak mendengar, melainkan karena hati yang tertutup.
3. Sindiran, tuduhan sihir, dan jawaban Al-Qur’an

Al-Qur’an juga merekam bagaimana mereka saling berbisik dan menuduh Nabi sebagai orang yang terkena sihir. Allah berfirman:
نَّحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَسْتَمِعُونَ بِهِۦٓ إِذْ يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ وَإِذْ هُمْ نَجْوَىٰٓ إِذْ يَقُولُ ٱلظَّٰلِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَّسْحُورًا
(QS. Al-Isra: 47)
“Dan Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan ketika mereka mendengarkan kamu, dan ketika mereka berbisik-bisik, yaitu ketika orang-orang zalim itu berkata: ‘Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang terkena sihir.’”
Tak hanya itu, mereka juga meragukan kebangkitan setelah kematian:
وَقَالُوا۟ أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمًا وَرُفَٰتًا أَءِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا
(QS. Al-Isra: 49)
Dan Allah menjawab melalui firman-Nya:
قُلْ كُونُوا۟ حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا
أَوْ خَلْقًا مِّمَّا يَكْبُرُ فِى صُدُورِكُمْ ۚ فَسَيَقُولُونَ مَن يُعِيدُنَا ۖ قُلِ ٱلَّذِى فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ
(QS. Al-Isra: 50–51)
“Katakanlah: Jadilah kamu batu atau besi, atau makhluk apa pun yang menurut pikiranmu sulit (untuk dihidupkan kembali). Maka mereka akan bertanya: Siapa yang akan menghidupkan kami kembali? Katakanlah: Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama.”
Kisah ini menegaskan satu hal: penolakan kaum Quraisy bukan karena mereka tak pernah mendengar kebenaran. Mereka mendengar. Mereka memahami sebagian. Bahkan hati mereka tergetar. Namun kesombongan, gengsi, dan kepentingan dunia membuat mereka berpaling.
Di situlah letak pelajaran besarnya. Al-Qur’an mampu menyentuh siapa saja, tetapi hidayah hanya akan menetap pada hati yang bersedia merendah dan menerima kebenaran.


















