Gempa NTT, DPD Dorong Penguatan Dana Darurat TKD untuk Daerah Bencana

- Sultan Baktiar Najamudin mengapresiasi penguatan dana darurat kebencanaan melalui alokasi Transfer ke Daerah.
- Ia menilai dukungan TKD proporsional penting bagi daerah terdampak bencana dengan ruang fiskal dan PAD rendah, seperti NTT.
- BNPB mencatat 68 korban meninggal, 213 korban luka, serta 1.576 gempa susulan setelah gempa M 7,7 di NTT.
Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Baktiar Najamudin mengapresiasi pemerintah yang memutuskan akan memperkuat dana darurat kebencanaan melalui alokasi Transfer ke Daerah (TKD). Keputusan tersebut dinilai mendesak bagi daerah yang sedang dilanda bencana alam.
Sultan menyebut, hampir semua daerah terdampak bencana seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan daerah dengan ruang fiskal yang relatif sempit serta Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat rendah.
"Sebagai bangsa kita patut bersyukur bahwa APBN tahun depan akan mencapai 4000 sekian triliun Rupiah. Ruang fiskal yang cukup besar untuk memperkuat pertumbuhan sekaligus pemerataan ekonomi Nasional hingga ke daerah terjauh," ujar Sultan dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
1. Dukungan TKD proporsional penting bagi daerah terkena bencana

Ketua DPD RI,Sultan Bachtiar Najamudin dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD 2026 di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026). (Youtube.com/Sekretariat Presiden) Mantan ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bengkulu itu mendorong agar porsi belanja pemerintah pusat dan daerah perlu diatur, agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat di tengah tantangan bencana dan tantangan lainnya.
"Sehingga daerah-daerah yang sedang dilanda bencana alam perlu diberikan suntikan anggaran darurat bencana. Daerah seperti NTT adalah daerah dengan potensi Komoditas yang belum dioptimalkan, namun dihadapkan dengan resiko bencana alam yang cukup tinggi," kata dia.
Kondisi ini, menurut dia, akan menimbulkan persoalan bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) mereka. "Sehingga dukungan TKD yang proporsional menjadi penting bagi daerah terkait," tambahnya.
2. Apresiasi penetapan tanggap darurat

Presiden Prabowo Subianto (kanan bawah) berpidato disaksikan Ketua MPR RI Ahmad Muzani (kiri), Ketua DPR RI Puan Maharani (kedua kiri), dan Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (ANTARA FOTO/Fauzan) Lebih lanjut, Sultan mengapresiasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT yang secara cepat menetapkan status tanggap darurat bencana, menyusul gempa bumi berkekuatan 7,7 Magnitudo. Sehingga upaya penanggulangan bencana gempa NTT dapat dilaksanakan secara lebih cepat, terkoordinasi dan efektif.
Kendati demikian, Sultan mendorong pemda terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah pusat guna memperoleh data korban dan kerusakan lainnya yang dialami masyarakat.
"Kita mengapresiasi upaya serius Pemerintah dalam melakukan penanganan bencana Gempa NTT secara cepat dan cermat. Semua bantuan logistic telah dikirim untuk didistribusikan kepada masyarakat yang masih dilokalisir di tenda-tenda pengungsian," kata dia.
3. Korban meninggal gempa NTT mencapai 68 orang

Rumah warga di Bima yang mengalami kerusakan dampak gempa NTT, Sabtu (15/8/2026). (dok. BPBD NTB) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin (17/8/2026) kembali memperbarui data jumlah korban yang terdampak gempa berkekuatan M 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Jumlah korban meninggal sementara per kemarin sore mencapai 68 jiwa.
"Data yang kami peroleh sementara ini sudah ada 68 jiwa, sekali lagi 68 jiwa yang meninggal. Dengan rincian, di Kabupaten Manggarai sebanyak 26 jiwa, Kabupaten Manggarai Timur 24 jiwa, Kabupaten Nadekeo sebanyak 8 jiwa, Kabupaten Sikka 4 jiwa, Kabupaten Ende sebanyak 2 jiwa, Kabupaten Manggarai Barat 2 jiwa dan Kabupaten Ngada 2 jiwa," ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Panjaitan di dalam jumpa pers kemarin.
Ia menambahkan angka korban tersebut akan terus diperbarui bila ada korban yang ditemukan. Sementara, jumlah korban yang mengalami luka mencapai 213 jiwa. Kemudian, BNPB mencatat terdapat 1.576 gempa susulan sejak gempa pertama terjadi pada Sabtu pekan lalu. Magnitude tertinggi di angka M6,2.



















