1.639 Orang Dieksekusi Mati di Iran selama 2025

- Iran mengeksekusi sedikitnya 1.639 orang sepanjang 2025, rekor tertinggi sejak 1989, dengan rata-rata empat hingga lima eksekusi per hari di berbagai kota.
- Tahun 2025 mencatat lonjakan eksekusi terhadap perempuan dan kelompok minoritas, termasuk warga Baluch, Kurdi, Arab, serta pekerja migran dari Afganistan dan Irak.
- Pasca-protes nasional awal 2026, Iran melanjutkan eksekusi publik terhadap demonstran; aktivis mendesak dunia internasional menekan penghentian hukuman mati sebagai agenda diplomatik utama.
Jakarta, IDN Times - Iran mencatatkan rekor eksekusi mati tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Sepanjang tahun 2025, pemerintah Iran dilaporkan telah mengeksekusi ribuan orang, sebuah langkah yang dinilai sejumlah kelompok hak asasi manusia sebagai upaya pengendalian politik di tengah berbagai krisis domestik.
Laporan dari berbagai lembaga kemanusiaan internasional menunjukkan bahwa praktik penegakan hukuman mati ini tidak hanya menjerat pelaku tindak pidana umum, tetapi juga berdampak signifikan pada perempuan dan kelompok minoritas etnis. Memasuki awal tahun 2026, eksekusi publik juga mulai dilakukan terhadap partisipan demonstrasi.
1. 1.639 orang dieksekusi sepanjang tahun 2025
Data mencatat sedikitnya 1.639 orang dieksekusi sepanjang tahun 2025, dengan rata-rata empat hingga lima eksekusi per hari. Lonjakan tertinggi terjadi pada bulan November dan Desember 2025, di mana angka eksekusi mencapai 12 orang per hari di berbagai kota. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak 1989.
"Dengan menciptakan efek intimidasi melalui eksekusi terhadap 4 hingga 5 orang setiap hari selama tahun 2025, pemerintah berupaya meredam gelombang protes. Namun, masyarakat tetap turun ke jalan untuk menuntut hak-hak mereka," ujar Mahmood Amiry-Moghaddam, Direktur Iran Human Rights, dilansir Times of India.
Angka 1.639 eksekusi tersebut merupakan data minimum yang berhasil diverifikasi. Jumlah sebenarnya diperkirakan lebih tinggi karena pengumuman resmi pemerintah ditaksir hanya mencakup sekitar 7 persen dari total eksekusi. Selain itu, pemadaman internet selama masa krisis turut menyulitkan pemantauan independen oleh dunia luar.
2. Lonjakan angka kematian pada tahanan perempuan
Tahun 2025 juga mencatatkan lonjakan angka kematian pada tahanan perempuan. Sedikitnya 48 perempuan dieksekusi, naik 55 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa banyak dari perempuan tersebut adalah korban kekerasan dalam rumah tangga yang membela diri, namun tetap dijatuhi hukuman mati.
"Hukuman mati di Iran kerap berujung pada penindasan. Kelompok minoritas dan warga yang terpinggirkan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak dalam proses pengadilan yang dinilai kurang transparan," kata Raphaël Chenuil-Hazan, Direktur Eksekutif Together Against the Death Penalty (ECPM), dilansir Al Monitor.
Kelompok minoritas seperti warga Baluch, Kurdi, Arab, serta warga negara asing dari Afganistan dan Irak, menjadi kelompok rentan dalam isu ini. Hampir separuh dari total eksekusi berkaitan dengan kasus narkoba, yang mayoritas melibatkan warga dari kelompok ekonomi prasejahtera dengan akses bantuan hukum yang terbatas.
3. Aktivis mendesak dunia internasional untuk menghentikan hukuman mati di Iran
Pemerintah Iran juga melakukan tindakan represif pasca-protes nasional pada Januari 2026. Pada 19 Maret 2026, tiga pria—Saleh Mohammadi, Saeed Davodi, dan Mehdi Ghasemi—dieksekusi secara publik di kota Qom atas tuduhan pembunuhan petugas kepolisian. Sejumlah lembaga hak asasi manusia melaporkan dugaan bahwa pengakuan ketiganya diperoleh melalui tindakan penyiksaan.
"Ratusan pengunjuk rasa yang ditahan saat ini berada dalam bayang-bayang hukuman mati. Jika dunia internasional tidak segera bertindak, eksekusi terhadap para demonstran ini berpotensi terus berlanjut," tambah Amiry-Moghaddam.
Keterlibatan Iran dalam ketegangan geopolitik dengan Israel dan Amerika Serikat juga dikhawatirkan mengalihkan perhatian dunia dari isu domestik ini. Para aktivis kini mendesak dunia internasional agar menjadikan penghentian hukuman mati sebagai agenda atau syarat utama dalam setiap perundingan diplomatik dengan Iran di masa mendatang.
















