171 Mayat Ditemukan di Kuburan Massal Kongo usai M23 Mundur

- Otoritas Kongo menemukan dua kuburan massal di Uvira berisi 171 mayat, diduga korban eksekusi oleh pemberontak M23 setelah kelompok itu mundur dari wilayah tersebut.
- Konflik antara M23 dan militer Kongo menewaskan ribuan orang serta memaksa jutaan warga mengungsi, meski berbagai upaya diplomasi internasional gagal menghentikan kekerasan.
- Militer Kongo melancarkan serangan drone ke tambang coltan strategis yang dikuasai M23, sementara bentrokan darat terus berlangsung dan memperburuk situasi keamanan di Kivu Utara dan Selatan.
Jakarta, IDN Times - Otoritas Republik Demokratik Kongo menemukan dua kuburan massal di pinggiran kota timur Uvira pada Kamis (26/2/2026). Penemuan mengerikan ini terjadi di wilayah yang baru saja ditinggalkan oleh kelompok pemberontak M23. Sedikitnya 171 mayat ditemukan di lokasi tersebut setelah hujan lebat menyingkap timbunan tanah.
Lokasi penggalian berada di lingkungan Kiromoni dan Kavimvira di provinsi Kivu Selatan. Warga sekitar awalnya mencium bau menyengat dari tanah yang terkikis air hujan. Penemuan ini menambah catatan kelam konflik bersenjata yang terus berkecamuk di wilayah kaya mineral tersebut.
1. Ratusan mayat diduga korban eksekusi massal oleh M23

Gubernur Kivu Selatan, Jean-Jacques Purusi, mengonfirmasi penemuan dua titik kuburan massal di dekat perbatasan Burundi. Sekitar 30 mayat ditemukan di Kiromoni, sementara 141 jasad lainnya berada di Kavimvira. Angka korban ini menambah rentetan korban setelah penemuan sepuluh mayat sebelumnya di kota Sange.
Korban tewas diduga merupakan warga yang dieksekusi oleh pemberontak M23. Eksekusi brutal tersebut dilakukan karena para korban dicurigai bekerja sama dengan tentara Kongo atau milisi pro-pemerintah. Kelompok pemberontak itu sempat menduduki Uvira pada bulan Desember sebelum akhirnya menarik mundur pasukan.
Dilansir Al Jazeera, Jaringan Lokal untuk Perlindungan Warga Sipil menyatakan militer Kongo sempat mencegah mereka mengunjungi lokasi. Sebelumnya, kelompok hak asasi manusia telah berulang kali menuduh kedua belah pihak melakukan pembunuhan di luar hukum.
2. Krisis kemanusiaan imbas perebutan wilayah

Kelompok M23 melancarkan serangan yang menewaskan lebih dari 1.500 orang selama perebutan Uvira. Serangan mematikan tersebut juga memaksa sekitar 300 ribu penduduk melarikan diri dari rumah mereka. Pemberontak kemudian berdalih penarikan pasukan adalah langkah membangun kepercayaan yang diminta Amerika Serikat (AS).
Konflik yang melibatkan lebih dari 100 kelompok bersenjata ini menciptakan krisis kemanusiaan parah. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lebih dari tujuh juta orang mengungsi akibat pertempuran yang tiada henti. Wilayah timur Kongo yang kaya mineral terus menjadi medan pertempuran demi memperebutkan kendali sumber daya.
AS sebenarnya telah memediasi kesepakatan damai antara pemerintah Kongo dan Rwanda yang dituduh mendukung M23. Angola juga mengusulkan gencatan senjata yang seharusnya mulai berlaku pada 18 Februari lalu. Berbagai upaya diplomasi internasional tersebut nyatanya gagal menghentikan bentrokan bersenjata di garis depan.
"Misi stabilisasi PBB akan mengerahkan pasukan di Uvira untuk memantau gencatan senjata," tutur seorang pejabat PBB, dilansir Anadolu Agency.
3. Militer Kongo dan M23 lanjut saling serang
Pasukan pemerintah Kongo kini mulai meluncurkan serangan balasan ke berbagai garis depan. Militer Kongo menggunakan drone untuk menyerang situs pertambangan strategis Rubaya yang diduduki M23. Tambang ini sangat krusial karena memproduksi 15 hingga 30 persen pasokan coltan global untuk perangkat elektronik.
Juru bicara militer M23, Willy Ngoma, dilaporkan tewas akibat serangan drone di dekat wilayah pertambangan Rubaya. Kelompok pemberontak merespons dengan melancarkan serangan balasan ke wilayah Masisi.
Pasukan M23 berhasil merebut kembali desa Kasenyi dan Luke setelah pertempuran sengit melawan tentara Kongo. Bentrokan ini memaksa lebih banyak penduduk desa melarikan diri mencari tempat berlindung.
Pemerintah Kongo saat ini mengandalkan drone jarak jauh buatan China dan Turki untuk menguasai ruang udara. Keunggulan udara ini menjadi aset penting untuk menghadapi pasukan M23 yang didukung pasukan Rwanda di darat. Namun, pertempuran darat dan udara terus memperburuk kondisi keamanan di seluruh provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan.















