Ia pun mempertanyakan pernyataan pemerintah yang menyebut Aceh Tengah tidak menjadi prioritas penanganan, apakah hal itu bermakna nyawa mereka tidak menjadi fokus utama pemerintah.
Aktivis Lingkungan Asal Aceh Farwiza Farhan Raih Whitley Gold Award

- Farwiza Farhan, aktivis lingkungan asal Aceh, meraih Whitley Gold Award 2026 atas kontribusinya melindungi ekosistem Leuser dan memberdayakan masyarakat lokal dalam menjaga keanekaragaman hayati.
- Farwiza menyoroti dampak deforestasi terhadap bencana besar seperti Siklon Senyar 2025 yang menyebabkan banjir dan longsor di Aceh, serta mengkritik lambatnya respons pemerintah.
- Ia juga mengecam pemangkasan anggaran lembaga penanggulangan bencana oleh pemerintah dan menyerukan koordinasi cepat untuk membantu wilayah Aceh yang masih terisolir pascabencana.
Jakarta, IDN Times - Aktivis lingkungan asal Aceh, Farwiza Farhan, diganjar penghargaan Whitley Gold Award 2026 pada Rabu (29/4/2026). Penghargaan tertinggi ini kembali diberikan kepada Farwiza karena dinilai memiliki kontribusi luar biasa dalam perlindungan lingkungan atau keanekaragaman hayati.
Farwiza sendiri pernah mendapat Whitley Award pada 2016 lalu. Penghargaan yang disebut 'Piala Oscar Hijau' diberikan kepada Farwiza dan LSM HAkA atas kontribusinya melestarikan spesies ikonik di ekosistem Leuser, dengan memberdayakan komunitas lokal untuk menentang rencana pembangunan yang berisiko bagi masa depan hutan, satwa liar, dan masyarakat.
Dikutip dari akun YouTube Whitley Awards, dengan penghargaan tertinggi itu, maka Farwiza dan HAkA berhak mendapatkan pendanaan senilai 100 ribu Poundsterling atau setara Rp2,3 miliar dari organisasi asal Inggris, Whitley Fund for Nature. Dana itu akan dipakai untuk melakukan integrasi pemantauan hutan, memberdayakan komunitas, memperkuat ketahanan dan melindungi ekosistem Leuser.
1. Farwiza Farhan frustasi saat melihat siklon Senyar

Di dalam potongan video yang ditampilkan di akun Whitley Awards, Farwiza menggambarkan hutan di Pulau Sumatra mayoritas sudah lenyap. Tetapi, di area Leuser, Aceh, kehilangan area hijau mencapai 2,7 juta hektare.
"Padahal, itu merupakan tempat terakhir di muka bumi di mana bisa menyaksikan hewan-hewan langka Sumatra seperti harimau, gajah, badak, dan orangutan. Mereka hidup berdampingan di hutan liar hingga saat ini," kata Farwiza yang dikutip pada Kamis (30/4/2026).
Ia kemudian mengenang kembali momen terjadinya Siklon Senyar pada 26 November 2025. Dampaknya terjadi longsor dan banjir yang menyapu sebagian besar wilayah di tiga provinsi termasuk, Aceh.
Pemprov Aceh akhirnya menyatakan status tanggap darurat dan diperpanjang hingga 29 Januari 2026. Hal itu lantaran Aceh menjadi provinsi dengan dampak paling parah dibandingkan dua provinsi lainnya.
"Tolong, dukung kami. Aceh masih membutuhkan bantuan segera dan juga pelindung untuk melindungi rakyatnya, hutan, dan alam liar setiap hari," tutur dia.
Ia pun mengaku frustasi karena sudah berulang kali memperingatkan dampak buruk dari pembabatan hutan adalah bencana seperti yang menimpa akhir 2025 lalu. Bahkan peringatan itu sudah disampaikan beberapa tahun lalu.
"Kami bisa mengaitkan dampak bencana ini dengan deforestasi yang terjadi 30 hingga 40 tahun yang lalu. Saya banyak meneteskan air mata pada pekan itu. Saya menangis karena frustasi hingga minimnya respons pemerintah," imbuhnya.
2. Farwiza meneteskan air mata karena pemerintah pangkas anggaran untuk badan penanganan bencana

Sebelumnya, di program Ngobrol Seru bersama IDN Times, Farwiza meneteskan air mata ketika menyampaikan pesan kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia gemas melihat respons pemerintah yang dianggap lambat ketika banjir menghantam tiga provinsi di waktu berdekatan.
Farwiza menepis pernyataan Prabowo bahwa kondisi di Sumatra, khususnya Aceh sudah mulai membaik. Justru di lapangan masih banyak wilayah yang terisolir.
"Bagaimana ini semua bisa tetap dibiarkan? Sementara pemerintah mengatakan bahwa ini bencana biasa saja? Bahwa keadaan sudah terkontrol, stabil. Sama sekali jauh dari itu kenyataannya," ujar Farwiza ketika berbincang pada 1 Desember 2025 lalu.
Ia pun berharap Prabowo bisa segera menetapkan banjir di Sumatra sebagai bencana nasional. Perempuan yang bekerja sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh itu juga mengaku heran mengapa Prabowo tega memotong anggaran bagi tiga lembaga penting yang sehari-hari mengatasi bencana. Ketiga lembaga tersebut yakni Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan SAR Nasional.
"Keputusan Bapak untuk mengecilkan budget di semua lini penopang kehidupan pemerintah dan memfokuskan semuanya ke MBG mempunyai dampak sangat besar. Karena pada akhirnya demi makan siang gratis, kami semua membayar dengan harta, nyawa, apa yang kami punya. Bagaimana BMKG gak punya cukup budget? Bagaimana BNPB gak punya cukup budget? Bagaimana ini semua bisa dibiarkan?" tanyanya.
3. Kolega berjalan kaki dari Linge ke Takengon selama 3 hari 2 malam tanpa makan

Farwiza juga mengisahkan koleganya yang terpaksa berjalan kaki selama tiga hari dua malam dari Linge ke Takengon ketika banjir menimpa Aceh. Mereka berjalan kaki tanpa makanan dan perlindungan.
"Di malam hari, mereka beristirahat di bawah pohon sambil mendengar gunung bergerak. Rasanya mengerikan sekali. Saya hanya bisa membayangkan seperti apa perjalanan tersebut," kata Farwiza.
Ketika ditanyakan apa yang harus mulai dilakukan pemerintah, Farwiza berharap bisa mulai dilakukan rapat koordinasi untuk memetakan di mana saja titik yang masih terisolir. "Kedua, umumkan setiap langkah yang diambil tiap hari kepada masyarakat dan publikasi pembaruan data setiap enam jam. Kita perlu tahu apa yang sudah terjadi, dilakukan, kita perlu tahu bagian mana yang masih perlu di-cover," tutur dia.
Berdasarkan data terakhir dari BNPB per 20 April 2026, korban meninggal dunia di Aceh akibat banjir pada akhir 2025 mencapai 564 jiwa. Sedangkan, di Sumatra Utara 376 jiwa meninggal dan 267 jiwa di Sumatra Barat juga berpulang. Sementara, masih ada 138 jiwa lainnya yang belum ditemukan.


















