Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Berkedok Hibah Penelitian, Lembaga China Diduga Susupi Riset Strategis

3 min read
Berkedok Hibah Penelitian, Lembaga China Diduga Susupi Riset Strategis
Ilustrasi salah satu universitas riset di Inggris (pexels.com/Syzmon Shields)
  • MI5 meminta akademisi Inggris menghentikan kerja sama dengan CGTRI, yang diduga menjadi kedok intelijen China untuk menyalurkan hibah dan memperoleh riset strategis.
  • Pendanaan CGTRI menjangkau lebih dari 100 akademisi dalam bidang AI, keamanan siber, komunikasi terselubung, dan steganografi; kerja sama berlanjut berisiko dipidana berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional 2023.
  • Menteri Keamanan Dan Jarvis meminta seluruh universitas memutus hubungan dengan CGTRI, sementara China membantah tuduhan di tengah peringatan berkelanjutan soal risiko spionase dan perekrutan terselubung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Laporan dari Dinas Keamanan Inggris (MI5) meminta para akademisi di negaranya untuk menghentikan seluruh bentuk kerja sama dengan Institut Penelitian Teknologi Umum China (CGTRI). Lembaga yang juga dikenal sebagai Akademi Teknologi Umum China itu diduga menjadi kedok intelijen untuk membantu kegiatan spionase teknis Kementerian Keamanan Negara China (MSS).

Kegiatan spionase itu termasuk dengan menyalurkan hibah penelitian ke sejumlah universitas dan meneruskan hasilnya ke jaringan intelijen pemerintah. Akses terhadap riset strategis membuat kegiatan tersebut dinilai berkaitan langsung dengan keamanan nasional Inggris.

“Kegiatan ini mendukung spionase MSS, yang menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional Inggris,” kata MI5 pada Rabu (30/9/2026), dikutip Al Jazeera.

  1. 1. CGTRI danai riset teknologi strategis Inggris

    ilustrasi riset teknologi
    ilustrasi riset teknologi (pexels.com/ThisIsEnginerering)

    Dana dari lembaga tersebut mengalir ke penelitian mengenai sejumlah teknologi penting, mulai dari kecerdasan buatan, keamanan siber, sistem komunikasi terselubung hingga steganografi. Lebih dari 100 akademisi dari berbagai perguruan tinggi menerima pendanaan itu. Sementara itu, MI5 mengklaim memiliki bukti bahwa informasi sensitif, termasuk riset pengerukan media sosial, telah diterima pihak intelijen dan beberapa peneliti memperoleh tanda kehormatan dari pemerintah yang menyediakan dana.

    MI5 menilai sebagian besar peneliti membangun kemitraan tersebut dengan niat baik dan tak mengetahui hubungan lembaga itu dengan MSS yang disamarkan. Namun, pemerintah memperingatkan bahwa kelanjutan kerja sama tersebut dapat dipidana berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional 2023 karena membantu dinas intelijen asing dan memperoleh keuntungan materiil darinya. Penegasan mengenai risiko pidana ini disampaikan setelah peringatan hukum tersebut dibahas bersama Layanan Penuntutan Mahkota (CPS).

  2. 2. Dan Jarvis minta universitas putus hubungan

    Bendera Inggris
    ilustrasi bendera Inggris (pexels.com/James Frid)

    Menteri Keamanan Inggris Dan Jarvis langsung mengirim surat kepada seluruh wakil rektor universitas untuk memastikan kerja sama tersebut dihentikan. Jarvis menyatakan pemerintah tetap mendukung kemitraan internasional, tetapi akan menggunakan seluruh kekuatan hukum untuk melindungi negara. Langkah tegas ini diambil demi membendung ancaman infiltrasi asing pada sektor pendidikan tinggi.

    “Peringatan ini mengungkap upaya intelijen China untuk secara terselubung mengambil manfaat dari keahlian dan penelitian para akademisi kami, yang merusak keamanan nasional kami, dan keamanan para sekutu kami,” kata Jarvis, dikutip The Guardian.

    Pimpinan asosiasi perguruan tinggi turut merespons langkah pemerintah tersebut secara kooperatif. Kepala Eksekutif Universitas-Universitas Inggris (UUK) Vivienne Stern menyatakan 142 institusi anggotanya menangani keamanan riset secara serius melalui penguatan uji tuntas dan penilaian risiko. Sedangkan Kepala Eksekutif Grup Russell Libby Hackett menyampaikan bahwa universitas anggotanya terus berkoordinasi erat dengan pemerintah dan dinas keamanan untuk menjaga kepentingan nasional.

  3. 3. Inggris hadapi risiko spionase China

    Bendera China
    Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

    Peringatan keamanan tersebut muncul di tengah hubungan Inggris dan China yang cukup rumit. Pemerintah London tetap berupaya memperkuat hubungan dagang dengan partner dagang terbesar ketiganya itu, sementara MI5 terus mengingatkan peningkatan risiko spionase. Bahaya ini termasuk melalui lowongan kerja palsu yang menurut Direktur Jenderal MI5 Ken McCallum digunakan agen rahasia negara tersebut untuk menipu para profesional.

    Peringatan mengenai perekrutan terselubung melalui platform kerja daring juga disampaikan aliansi intelijen Lima Mata (Five Eyes), yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Di sisi lain, Kedutaan Besar China di London secara tegas membantah seluruh tuduhan yang dilayangkan tersebut. Pihak kedutaan bahkan menyebut peringatan keamanan dari Inggris itu sebagai bentuk fitnah belaka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More