Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

China Tuntut Penjelasan Jepang soal Penyerangan Kedubes di Tokyo

China Tuntut Penjelasan Jepang soal Penyerangan Kedubes di Tokyo
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian. (x.com/SpoxCHN_LinJian)
Intinya Sih
  • China menuntut Jepang memberikan penjelasan dan penyelidikan menyeluruh atas pembobolan Kedutaan Besar China di Tokyo oleh perwira militer bersenjata, menilai permintaan maaf Jepang belum memadai.
  • Pemerintah Jepang menyatakan penyesalan mendalam, bekerja sama dengan penyelidikan polisi, serta berjanji memperketat keamanan diplomatik agar insiden serupa tidak terulang di masa depan.
  • Pelaku bernama Kodai Murata, letnan dua Pasukan Bela Diri Darat berusia 23 tahun, memasuki kedutaan secara ilegal sambil membawa pisau sebelum ditangkap tanpa menyebabkan korban luka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China menegaskan bahwa permintaan maaf Jepang atas pembobolan kedutaannya di Tokyo oleh seorang perwira militer bersenjata tajam masih jauh dari cukup. Juru bicara kementerian tersebut, Lin Jian, mendesak Tokyo untuk segera melakukan penyelidikan menyeluruh.

"Kami mendesak Jepang memberikan penjelasan yang bertanggung jawab atas insiden serius ini," kata Lin dalam konferensi pers pada Jumat (27/3/2026), dilansir Asahi Shimbun.

Insiden ini memperkeruh hubungan Beijing-Tokyo yang telah menegang sejak November lalu. Gesekan meningkat setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengisyaratkan kesiapan militer jika aktivitas China di Taiwan mengancam wilayah Jepang. Sementara itu, Beijing menilai insiden kedutaan ini sebagai bentuk kegagalan perlindungan diplomatik yang memerlukan tindakan tegas melampaui sekadar kata-kata penyesalan.

1. China mengklaim kebangkitan neo-militerisme di Jepang di bawah pemerintahan Takaichi

Sebelumnya, Kemenlu China mengecam insiden tersebut dan telah mengajukan protes kepada pihak Jepang, baik di Beijing maupun di Tokyo. China menyoroti bahwa insiden tersebut secara serius mengancam keselamatan staf kedutaan, mengganggu ketenangan di kedutaan, dan merendahkan martabatnya. China juga menyerukan Jepang untuk membawa pelaku ke hadapan hukum.

"Insiden ini sekali lagi menyoroti bahaya penyebaran pengaruh sayap kanan ekstrem dan neo-militerisme yang merajalela di Jepang. Hal ini juga menunjukkan kegagalan Jepang dalam menjaga disiplin di Pasukan Bela Diri, serta dalam memenuhi tanggung jawabnya untuk melindungi gedung, personel diplomatik, dan konsuler China," kata kementerian tersebut di X.

Neo militerisme adalah sebuah istilah yang baru-baru ini digunakan untuk mengkritik kebijakan Takaichi, yang dikenal sebagai tokoh garis keras dalam bidang keamanan. Di sisi lain, Beijing telah menyatakan keprihatinan atas apa yang dipandangnya sebagai kemungkinan kebangkitan militerisme di Jepang, di tengah upaya Takaichi untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negaranya dan mempercepat pembahasan tentang amandemen Konstitusi pasifis pascaperang.

2. Pihak Jepang berjanji akan mencegah terulangnya insiden serupa

Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Fumiaki Hayashi)
Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Fumiaki Hayashi)

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan pada Jumat bahwa insiden tersebut sangat disayangkan. Ia juga mengatakan kementeriannya sepenuhnya bekerja sama dengan penyelidikan polisi yang sedang berlangsung.

"Kami juga akan menanggapi dengan tegas setelah fakta-fakta terungkap," ujarnya.

Sementara itu, juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, mengatakan pemerintah akan mengambil langkah-langkah untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, sesuai dengan hukum internasional dan domestik yang berlaku. Kihara juga mengungkapkan bahwa polisi sedang meningkatkan jumlah petugas di lokasi kejadian. Menurutnya, insiden tersebut terjadi meskipun polisi telah memberikan pengamanan yang diperlukan

"Insiden ini sangat disayangkan, mengingat anggota militer seharusnya menjunjung tinggi hukum," ungkapnya, dikutip dari NHK News.

3. Kronologi kejadian menurut kepolisian Jepang

Ilustrasi pisau. (pexels.com/Lum3n)
Ilustrasi pisau. (pexels.com/Lum3n)

Menurut informasi yang dirilis oleh Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo, tersangka bernama Kodai Murata. Ia adalah seorang letnan dua berusia 23 tahun, dari Pasukan Bela Diri Darat (GSDF) yang bertugas di Prefektur Miyazaki.

Murata memasuki Kedutaan Besar China di Tokyo secara ilegal, pada 24 Maret 2026. Ia memanjat tembok kedutaan sekitar 09.00 pagi waktu setempat sambil membawa pisau dengan bilah sepanjang 18 cm, sebelum akhirnya ditahan oleh staf kedutaan.

Tersangka mengaku berniat menyampaikan pendapatnya kepada duta besar dan mengancam akan melakukan bunuh diri, jika aspirasinya ditolak. Tidak ada staf kedutaan yang terluka dalam insiden tersebut, Kyodo News melaporkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More