Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Diduga Terinfeksi Hantavirus, 2 Warga Singapura Diisolasi

Diduga Terinfeksi Hantavirus, 2 Warga Singapura Diisolasi
Bendera Singapura (pexels.com/aboodi vesakaran)
Intinya Sih
  • Dua warga Singapura diisolasi di NCID setelah diduga terpapar hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius, dengan satu menunjukkan gejala ringan dan satu tanpa gejala.
  • Wabah hantavirus strain Andes telah menewaskan tiga orang dan memicu pelacakan lintas negara, sementara WHO menegaskan virus ini berbeda dari Covid-19 dan risikonya bagi publik masih rendah.
  • Upaya pelacakan kontak dilakukan di berbagai negara termasuk AS dan Eropa, dengan sejumlah penumpang serta kru kapal dipantau ketat karena kemungkinan paparan selama perjalanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Sebanyak dua warga Singapura kini diisolasi dan menjalani serangkaian tes di Pusat Nasional untuk Penyakit Menular (NCID) Singapura, menyusul keterlibatan mereka dalam wabah hantavirus yang merebak di atas kapal pesiar MV Hondius.

Keduanya, seorang pria berusia 67 tahun berkewarganegaraan Singapura dan seorang pemegang izin tinggal tetap berusia 65 tahun, berada di penerbangan yang sama dengan kasus terkonfirmasi hantavirus, yakni rute St Helena ke Johannesburg pada 25 April 2026.

Badan Penyakit Menular Singapura (CDA) mengungkapkan, hasil tes keduanya masih menunggu. Salah satu dari mereka mengalami gejala ringan, sementara yang lain sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.

"Salah satunya mengalami pilek tetapi kondisinya baik-baik saja, dan yang lainnya tidak menunjukkan gejala. Risiko bagi masyarakat umum di Singapura saat ini rendah," demikian pernyataan CDA, dikutip dari Channel News Asia, Jumat (8/5/2026).

Keduanya tiba di Singapura pada awal Mei dan langsung ditempatkan dalam isolasi setelah otoritas kesehatan menelusuri riwayat perjalanan mereka. Adapun kasus terkonfirmasi yang satu penerbangan dengan keduanya diketahui tidak ikut ke Singapura dan telah meninggal di Afrika Selatan.

CDA menegaskan, jika dinyatakan negatif, keduanya tetap harus menjalani karantina selama 30 hari terhitung dari tanggal paparan terakhir. Sebaliknya, jika hasil tes positif, keduanya akan tetap dirawat di rumah sakit untuk pemantauan dan penanganan lebih lanjut.

1. Hantavirus telah merenggut tiga nyawa

Hantavirus telah merenggut tiga nyawa
Mikrograf elektron dari Hantavirus. (commons.wikimedia.org/Photo Credit: Content Providers(s): CDC/Cynthia Goldsmith)

Wabah hantavirus di MV Hondius pertama kali terdeteksi pada awal Mei, meski para ahli menduga penularan sudah berlangsung jauh sebelumnya. Tiga orang dilaporkan tewas, yakni sepasang suami istri asal Belanda dan seorang warga negara Jerman. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lima kasus terkonfirmasi dan tiga lainnya berstatus suspek.

Kapal itu sempat berlabuh di Pulau St Helena, Samudra Atlantik Selatan, pada 24 April. Seluruh penumpang yang turun di sana kini sudah dihubungi oleh operator kapal, Oceanwide Expeditions, berasal dari setidaknya 12 negara, termasuk tujuh warga Inggris dan enam warga Amerika Serikat. Oceanwide menyatakan tengah menelusuri seluruh data penumpang dan kru yang naik dan turun di berbagai pelabuhan sejak 20 Maret.

Tiga pasien dievakuasi dari kapal pada Rabu. Kemudian, dua dirawat di rumah sakit di Belanda, satu lainnya dipindahkan ke Jerman. Di Swiss, seorang mantan penumpang yang dirawat di rumah sakit dinyatakan positif terinfeksi. Denmark, Prancis, dan Kanada juga melaporkan warga mereka yang terdampak, dengan status mulai dari pemantauan mandiri hingga karantina pencegahan.

Yang membuat wabah ini tidak biasa adalah jenis strain yang ditemukan. Hantavirus umumnya menyebar dari hewan pengerat melalui urin, kotoran, dan air liur — dan tidak menular antar-manusia. Namun strain Andes yang terdeteksi dalam wabah ini adalah pengecualian langka, dalam kondisi tertentu, virus ini bisa berpindah dari satu manusia ke manusia lain.

2. WHO tegaskan bukan COVID-19

WHO tegaskan bukan COVID-19
lambang WHO. (wikimedia.org/Guilhem Vellut from Annecy)

Di tengah kekhawatiran publik yang mulai meluas, WHO merasa perlu turun tangan langsung untuk meluruskan situasi. Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, secara tegas membantah kesamaan wabah ini dengan pandemi Covid-19.

"Ini bukan coronavirus, ini virus yang sangat berbeda. Ini bukan situasi yang sama dengan yang kita hadapi enam tahun lalu," kata Van Kerkhove dalam konferensi pers.

WHO menegaskan risiko bagi masyarakat umum tetap rendah, meski strain Andes memang bisa dalam kasus langka menular antar-manusia. Saat ini WHO tengah menyusun panduan langkah demi langkah untuk mengantisipasi kedatangan puluhan penumpang yang masih berada di atas kapal sedang berlayar menuju Kepulauan Canary dan dijadwalkan tiba Sabtu atau Minggu. Seluruh penumpang yang tersisa dilaporkan tidak menunjukkan gejala apa pun.

Presiden AS Donald Trump mengaku telah mendapat briefing soal wabah ini. “Semoga sudah terkendali,” kata Trump kepada para wartawan.

Ketika ditanya apakah warga Amerika perlu khawatir, Trump menjawab singkat, “Semoga tidak.”

3. Pelacakan lintas benua

Pelacakan lintas benua
Ilustrasi penularan Hantavirus dari hewan pengerat ke manusia, khususnya yang menyebabkan HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome). (commons.wikimedia.org/https://www.scientificanimations.com/)

Upaya pelacakan kontak kini berlangsung di berbagai penjuru dunia. Di AS, CDC menyatakan sedang memantau situasi secara ketat. Negara bagian Georgia memantau dua warganya, Arizona satu warga, sementara California dan Texas juga melaporkan warga mereka yang sempat berada di atas MV Hondius.

Di Eropa, maskapai KLM mengungkap telah menurunkan seorang perempuan Belanda dari pesawat di Johannesburg pada 25 April karena kondisinya memburuk, perempuan itu meninggal sebelum sempat tiba di Belanda. Seorang pramugari KLM yang pernah berkontak dengannya dilaporkan dirawat di Amsterdam setelah menunjukkan gejala yang diduga hantavirus. Para kru dan penumpang yang sempat membantu korban tersebut kini dipantau kesehatannya setiap hari oleh otoritas Belanda.

Pasangan Belanda yang diyakini sebagai kasus pertama dalam wabah ini diketahui naik kapal pada 1 April, beberapa pekan sebelum wabah akhirnya terdeteksi. Rentang waktu itulah yang kini menjadi tantangan terbesar bagi otoritas kesehatan di berbagai negara dalam memetakan seberapa luas potensi paparan yang telah terjadi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
Fahreza Murnanda
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Related Articles

See More