Diganjar Tarif Baru Trump, ASEAN Pilih Negosiasi dengan AS

- ASEAN memilih dialog dan negosiasi dengan AS untuk merespons tarif baru, tanpa mendorong penurunan status Kemitraan Strategis Komprehensif dengan Washington.
- Pembahasan langkah respons tarif akan diserahkan kepada Menteri Ekonomi ASEAN dalam pertemuan September, sementara negosiasi dengan AS diyakini tetap berjalan.
- ASEAN mempertahankan dukungan pada perdagangan global berbasis aturan WTO dan menyiapkan kajian dampak tarif sebagai dasar rekomendasi kepada pemimpin ASEAN pada November.
Manila, IDN Times - ASEAN memilih mengedepankan jalur dialog untuk merespons kebijakan tarif baru Amerika Serikat (AS), alih-alih mendorong penurunan status Kemitraan Strategis Komprehensif (Comprehensive Strategic Partnership/CSP) dengan Washington.
Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro mengatakan seluruh isu perdagangan, termasuk kebijakan tarif yang dikenakan AS terhadap sejumlah negara ASEAN, masih dapat diselesaikan melalui proses negosiasi.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan ASEAN mengevaluasi hubungan dengan AS setelah Washington kembali memberlakukan tarif terhadap sejumlah negara di kawasan.
“Pandangan Filipina, dan saya kira juga negara-negara anggota ASEAN, adalah bahwa semua persoalan ini dapat dinegosiasikan. Jadi saya tidak melihat ini sebagai sesuatu yang langsung diputuskan atau diberlakukan begitu saja dalam satu hari,” kata Lazaro dalam ASEAN Media Forum (AMF) di Manila, Filipina, Rabu (29/7/2026).
1. ASEAN serahkan pembahasan tarif kepada menteri ekonomi

Lazaro mengatakan pembahasan lebih lanjut mengenai kebijakan tarif akan menjadi ranah para Menteri Ekonomi ASEAN yang dijadwalkan menggelar pertemuan pada September mendatang. Menurutnya, para menteri ekonomi merupakan pihak yang paling tepat untuk membahas langkah-langkah yang akan ditempuh ASEAN dalam merespons kebijakan perdagangan AS.
“Saya menyerahkan persoalan ini kepada para Menteri Ekonomi ASEAN. Mereka akan mengadakan pertemuan dalam waktu dekat. Merekalah para ahli dan berada pada posisi yang lebih tepat untuk membahas isu ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan pengamatannya, pemberlakuan tarif tersebut belum memicu perhatian yang berlebihan dan proses negosiasi diyakini akan tetap berjalan.
“Negosiasi akan terus berlangsung. Selama ini kita selalu berhasil melalui berbagai proses negosiasi,” katanya.
2. ASEAN tetap berpegang pada sistem perdagangan berbasis aturan

Sementara itu, Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menegaskan ASEAN akan memanfaatkan mekanisme yang telah dimiliki bersama AS untuk membahas persoalan tarif tersebut. Ia mengatakan posisi ASEAN tidak berubah, yakni tetap mendukung sistem perdagangan global yang terbuka, kolaboratif, dan berbasis aturan di bawah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
“Posisi ASEAN selalu konsisten. Kami akan terus mendukung sistem perdagangan yang lebih berbasis aturan dan lebih kolaboratif melalui WTO,” ujar Kao.
Menurutnya, meski sejumlah negara ASEAN terdampak kebijakan tarif AS, komitmen kawasan terhadap sistem perdagangan multilateral tetap tidak berubah.
“Terlepas dari semua persoalan ini, ASEAN tidak akan mundur dari komitmennya terhadap WTO,” tegasnya.
3. ASEAN siapkan kajian dampak tarif bagi kawasan

Kao mengatakan ASEAN juga tengah melakukan kajian untuk menilai dampak kebijakan tarif terhadap kawasan, termasuk mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat dilakukan baik secara nasional maupun kolektif.
Ia menjelaskan hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar rekomendasi bagi para pemimpin ASEAN.
“Saat ini kami sedang melakukan kajian untuk menilai situasi yang dihadapi negara-negara ASEAN. Apa yang bisa dilakukan, baik secara individu maupun kolektif, akan menjadi bagian dari rekomendasi yang kami siapkan,” katanya.
Menurut Kao, rekomendasi tersebut ditargetkan selesai dan disampaikan kepada para pemimpin ASEAN pada November mendatang sebagai bagian dari pembahasan lanjutan mengenai respons kawasan terhadap dinamika perdagangan global.

















