Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Generasi Muda Korea makin Jauhi Alkohol, Apa yang Jadi Pemicunya?

Generasi Muda Korea makin Jauhi Alkohol, Apa yang Jadi Pemicunya?
ilustrasi minuman beralkohol, soju, kumpul bareng (pexels.com/Mizzu Cho)
  • Sebanyak 56 persen warga Korea usia 19-29 tahun pada 2024 mengaku tidak minum atau minum maksimal sekali sebulan, mencerminkan perubahan kebiasaan dibanding generasi lebih tua.
  • Budaya minum dalam acara kantor dan sosial makin ditinggalkan pekerja muda karena tekanan untuk ikut minum dianggap membebani, terutama di tengah pasar kerja sulit.
  • Kesadaran risiko kanker, pilihan aktivitas sehat seperti olahraga, serta pertimbangan biaya mendorong generasi muda Korea mengurangi alkohol dan menetapkan batasan pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kalau kamu melihat budaya Korea Selatan dari drama atau film, alkohol seperti soju mungkin terlihat gak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, kebiasaan tersebut ternyata mulai berubah, terutama di kalangan generasi muda.

Orang Korea berusia 20-an dan 30-an kini cenderung lebih menjauh dari alkohol dibandingkan generasi sebelumnya. Bahkan, acara makan bersama rekan kerja yang dilanjutkan dengan sesi minum mulai gak lagi dianggap sebagai kegiatan wajib bagi sebagian anak muda.

Lantas, apa yang membuat generasi muda Korea semakin memilih untuk mengurangi alkohol? Alasannya ternyata berkaitan dengan kesehatan, perubahan budaya kerja, gaya hidup, sampai kondisi ekonomi.

  1. 1. Generasi muda mulai punya kebiasaan minum yang berbeda

    ilustrasi minum alkohol, soju, minuman beralkohol
    ilustrasi minum alkohol, soju, minuman beralkohol (pexels.com/gsgbfrbhe)

    Perubahan kebiasaan minum di Korea Selatan sebenarnya sudah terlihat dalam sejumlah data penelitian. Menurut penelitian dalam Nutrients, yang menganalisis data Korea National Health and Nutrition Examination Survey (KNHANES) dari 1998 hingga 2018, pola konsumsi alkohol masyarakat Korea berubah berdasarkan usia, gender, dan kondisi sosial ekonomi. Penelitian tersebut melibatkan 87.623 orang dewasa berusia 19 tahun ke atas dan menemukan bahwa konsumsi alkohol harian secara keseluruhan justru meningkat dalam periode penelitian.

    Namun, data tersebut juga memperlihatkan bahwa pola minum gak sama di setiap kelompok usia. Penelitian yang sama menemukan konsumsi alkohol tertinggi berada pada pria usia 30-49 tahun dan perempuan usia 19-29 tahun pada periode 2016-2018. Soju dan bir juga menjadi sumber utama konsumsi alkohol masyarakat Korea dalam penelitian tersebut. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan minum memang punya pola yang berbeda antarkelompok, sehingga tren terbaru pada generasi muda perlu dilihat sebagai bagian dari perubahan perilaku yang lebih luas.

    Data yang lebih baru memperlihatkan perubahan yang semakin jelas. Berdasarkan 2024 National Health Statistics yang dikutip The Korea Times, orang Korea berusia 20-an mengonsumsi rata-rata 64,8 gram alkohol dari minuman beralkohol per hari, lebih rendah dibandingkan 66,8 gram pada kelompok usia 60-an. Bahkan, sebanyak 56 persen orang berusia 19-29 tahun mengaku tidak minum sama sekali atau hanya minum maksimal sekali dalam sebulan, angka yang disebut mencapai rekor tertinggi.

  2. 2. Tekanan untuk ikut minum mulai terasa gak relevan

    ilustrasi minuman beralkohol, soju, kumpul bareng
    ilustrasi minuman beralkohol, soju, kumpul bareng (unsplash.com/The Creativv)

    Kalau kamu pernah mendengar istilah hoesik, budaya ini merujuk pada acara makan bersama rekan kerja yang secara tradisional sering disertai aktivitas minum. Dalam budaya kerja lama, menolak alkohol dalam acara semacam ini mungkin bukan pilihan yang mudah. Namun, generasi muda Korea sekarang mulai melihat kegiatan tersebut dengan cara yang berbeda, terutama ketika minum bukan lagi dianggap sebagai bagian penting dari kehidupan sosial mereka.

    Menurut The Korea Times, budaya memaksa seseorang untuk minum dalam acara kantor dan pertemuan sosial perlahan mulai menghilang, meski praktik tersebut masih ada di sejumlah tempat. Bagi sebagian pekerja muda yang sedang menghadapi pasar kerja sulit, tekanan untuk ikut minum bahkan bisa terasa cukup berat sampai membuat mereka mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian anak muda, budaya minum di tempat kerja bukan lagi dianggap sebagai cara untuk membangun kedekatan, tapi justru bisa menjadi beban tambahan di tengah tekanan pekerjaan.

    Perubahan ini juga bisa dipahami dari sisi sosial. Menurut penelitian dalam Journal of Korean Medical Science, faktor sosial ekonomi seperti pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan status pernikahan berkaitan dengan risiko penggunaan alkohol yang berbahaya pada masyarakat Korea. Penelitian tersebut menggunakan data KNHANES 2007-2014 dan melibatkan lebih dari 34 ribu orang yang mengonsumsi alkohol.

    Jadi, kebiasaan minum gak bisa dipandang hanya sebagai persoalan pilihan pribadi. Lingkungan pekerjaan dan kondisi sosial seseorang juga bisa ikut membentuk perilaku tersebut. Ketika generasi muda mulai lebih berani menentukan batasan pribadi, tekanan untuk minum bersama rekan kerja pun bisa semakin dianggap sebagai kebiasaan lama yang gak lagi cocok dengan kebutuhan mereka.

  3. 3. Kesadaran terhadap risiko kesehatan semakin tinggi

    ilustrasi minuman beralkohol, soju, rice wine, bir
    ilustrasi minuman beralkohol, soju, rice wine, bir (pexels.com/J MAD)

    Kesehatan menjadi alasan lain yang membuat alkohol semakin gak menarik bagi sebagian anak muda. Menurut penelitian dalam Nutrients, rekomendasi kesehatan di Korea juga mengalami perubahan dan gak lagi menganggap konsumsi alkohol dalam jumlah ringan sebagai sesuatu yang sepenuhnya aman. Penelitian tersebut mencatat bahwa pedoman pencegahan kanker Korea bahkan menganjurkan masyarakat menghindari konsumsi alkohol untuk membantu menekan risiko kanker.

    Hal ini sejalan dengan informasi yang dikutip The Korea Times mengenai alkohol dan risiko kanker. International Agency for Research on Cancer (IARC), lembaga di bawah World Health Organization (WHO), mengklasifikasikan minuman beralkohol sebagai karsinogen Grup 1. Alkohol dapat meningkatkan risiko kanker, antara lain karena tubuh memecahnya menjadi asetaldehida yang dapat merusak sel.

    Ketika informasi soal risiko kesehatan semakin mudah ditemukan, kamu tentu punya lebih banyak alasan untuk mempertimbangkan kembali kebiasaan minum. Apalagi, pandangan bahwa sedikit alkohol pasti memberikan manfaat kesehatan sudah gak bisa diterima begitu saja. WHO sendiri menekankan bahwa gak ada tingkat konsumsi alkohol yang sepenuhnya bebas dari risiko kanker.

    Buat generasi muda yang sedang membangun kebiasaan hidup jangka panjang, informasi seperti ini bisa memengaruhi pilihan sehari-hari. Minum alkohol yang sebelumnya dianggap sebagai bagian normal dari bersosialisasi mulai dibandingkan dengan konsekuensi kesehatannya. Akhirnya, memilih untuk gak minum atau mengurangi frekuensinya bisa terasa sebagai keputusan yang lebih masuk akal.

  4. 4. Gaya hidup sehat mulai menggantikan aktivitas minum

    Potret Cheonggyecheon Stream di Seoul, Korea Selatan
    Potret Cheonggyecheon Stream di Seoul, Korea Selatan (unsplash.com/Red Shuheart)

    Perubahan gaya hidup juga punya peran dalam menjelaskan kenapa alkohol semakin ditinggalkan. Kalau dulu nongkrong bersama teman atau rekan kerja identik dengan makan dan minum, sekarang ada lebih banyak pilihan aktivitas. Generasi muda bisa menghabiskan waktu dengan berolahraga, berlari, atau melakukan kegiatan lain yang dianggap lebih sesuai dengan gaya hidup sehat.

    The Korea Times mencatat bahwa semakin banyak anak muda yang memilih aktivitas seperti berlari dan olahraga dibandingkan menghabiskan waktu dengan minum. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa cara bersosialisasi juga ikut bergeser ketika prioritas kesehatan menjadi semakin penting. Temuan dalam Nutrients juga menunjukkan bahwa pola konsumsi alkohol di Korea berkaitan dengan karakteristik sosial ekonomi. Penelitian tersebut menemukan bahwa peningkatan konsumsi alkohol selama periode 1998-2018 terlihat lebih menonjol pada kelompok dengan status sosial ekonomi tertentu. Ini memperlihatkan bahwa keputusan seseorang untuk minum gak berdiri sendiri, tapi bisa dipengaruhi oleh kondisi kehidupan dan lingkungan sosialnya.

    Di sisi lain, penelitian dalam Journal of Korean Medical Science menemukan bahwa tingkat pendidikan yang lebih rendah dan pekerjaan di sektor jasa termasuk faktor yang berkaitan dengan harmful alcohol use pada pria maupun perempuan. Pada perempuan, pendapatan rendah juga ditemukan sebagai salah satu faktor risiko. Artinya, perubahan kebiasaan minum juga perlu dilihat bersama kondisi sosial dan ekonomi yang dihadapi seseorang.

  5. 5. Pengeluaran untuk minum mulai dipertimbangkan ulang

    ilustrasi minuman beralkohol, kumpul bareng
    ilustrasi minuman beralkohol, kumpul bareng (unsplash.com/佳颖 杜)

    Buat kamu yang sedang berusaha mengatur keuangan, pergi minum bersama teman atau rekan kerja bisa terasa sebagai pengeluaran yang cukup besar. Hal yang sama terjadi pada sebagian anak muda Korea yang sedang menghadapi kondisi pasar kerja yang gak mudah. Ketika pekerjaan stabil belum tentu didapat dengan cepat, mengeluarkan banyak uang untuk acara minum bisa dianggap bukan prioritas. The Korea Times menyebut kondisi sulitnya pasar kerja dan beban biaya sebagai salah satu alasan yang membuat acara minum menjadi kurang menarik bagi sebagian generasi muda. Pengeluaran untuk kegiatan tersebut bisa dianggap gak terlalu penting ketika mereka sedang berusaha menjaga kondisi keuangan.

    Temuan penelitian juga memperlihatkan bahwa kondisi ekonomi memiliki kaitan dengan perilaku minum. Dalam penelitian Journal of Korean Medical Science, pendapatan rendah ditemukan sebagai salah satu faktor risiko harmful alcohol use pada perempuan Korea. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa faktor seperti pendidikan dan jenis pekerjaan berkaitan dengan pola penggunaan alkohol.

    Karena itu, menjauhi alkohol pada generasi muda Korea gak bisa hanya dianggap sebagai tren kesehatan. Ada pertimbangan yang lebih luas, mulai dari bagaimana mereka ingin menjalani kehidupan sosial, menjaga tubuh, menghadapi pekerjaan, sampai mengatur uang. Ketika semua faktor tersebut bertemu, wajar kalau aktivitas minum yang dulu dianggap wajib mulai kehilangan tempat dalam kehidupan mereka.

    Pada akhirnya, perubahan kebiasaan minum generasi muda Korea menunjukkan adanya pergeseran nilai antargenerasi. Anak muda sekarang gak selalu menganggap alkohol sebagai bagian wajib dari pertemanan atau kehidupan kantor. Data terbaru bahkan menunjukkan kelompok usia 19-29 tahun semakin banyak yang jarang atau gak minum sama sekali.

    Perubahan ini juga bukan berarti Korea Selatan tiba-tiba menjadi negara yang bebas dari budaya minum, lho. Kelompok usia yang lebih tua masih menunjukkan tingkat konsumsi yang relatif tinggi, sementara penelitian sebelumnya juga memperlihatkan adanya perbedaan pola berdasarkan usia dan gender. Namun, semakin kuatnya perhatian pada kesehatan, keuangan, kenyamanan pribadi, dan gaya hidup membuat generasi muda punya alasan yang lebih banyak untuk berkata, “gak dulu” ketika ditawari alkohol.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More