Komedian China Diperiksa karena Diduga Plesetkan Lagu Patriotik

- Otoritas Wuhan memeriksa komedian Guo Degang setelah ia diduga mengubah lirik lagu revolusioner Playing My Beloved Pipa dalam pertunjukan opera pada akhir Juli 2026.
- Perubahan lirik yang tidak tercantum dalam materi pengajuan memicu aduan penonton; otoritas menyatakan pertunjukan komersial wajib mengikuti naskah yang telah disetujui.
- Pemeriksaan membuat sejumlah pementasan dibatalkan, tiket dikembalikan, dan aktivitas Weibo Guo terhenti, di tengah pengetatan pengawasan materi seni oleh pemerintah China.
Jakarta, IDN Times - Otoritas Kota Wuhan memeriksa komedian senior asal China, Guo Degang, pada Minggu (23/8/2026). Langkah hukum ini diambil setelah Guo diduga memplesetkan lirik lagu patriotik saat tampil di atas panggung.
Dugaan pelanggaran materi pertunjukan tersebut memicu perhatian publik. Otoritas kebudayaan setempat kini fokus menyelidiki latar belakang serta proses pementasan sang komedian.
1. Pengubahan lirik lagu revolusioner dalam pertunjukan opera

ilustrasi menyanyi (unsplash.com/Vidar Nordli-Mathisen) Dugaan pelanggaran bermula saat Guo tampil dalam pertunjukan opera di Wuhan pada akhir Juli 2026. Ia mengubah lirik lagu klasik Playing My Beloved Pipa karya tahun 1956 yang mengisahkan perjuangan tentara China melawan pasukan Jepang pada Perang Dunia II.
Guo mengganti lirik "sunyi di Danau Weishan" menjadi "sunyi di Kota Terlarang". Pengubahan ini dinilai sensitif karena Kota Terlarang merupakan simbol kekuasaan politik. Aksi spontan itu memicu aduan penonton yang menganggap pementasan merendahkan karya sejarah.
"Perubahan lirik yang dibawakan Guo Degang tidak tercantum dalam materi yang diajukan sebelumnya," kata perwakilan Biro Kebudayaan dan Pariwisata Wuhan.
Otoritas menegaskan bahwa pertunjukan komersial wajib mematuhi naskah yang disetujui tanpa perubahan sepihak.
2. Pembatalan pementasan dan penghentian aktivitas media sosial

Ilustrasi Penggunaan Media Sosial di Ponsel (Istimewa) Penyelidikan resmi pemerintah berdampak langsung pada kelangsungan karier Guo. Sejumlah pengelola gedung pertunjukan di berbagai kota terpaksa membatalkan acara dan menghentikan penjualan tiket.
Penyelenggara acara juga memproses pengembalian uang tiket penonton. Selain panggung fisik, aktivitas media sosial sang komedian ikut terhenti. Akun Weibo milik Guo yang memiliki puluhan juta pengikut tidak aktif memperbarui unggahan sejak awal Agustus 2026.
"Belum ada kepastian jadwal atau rencana pementasan ulang untuk pertunjukan tersebut," ujar petugas Teater Agung Chanba Poly Xi'an.
Kondisi ini membuat aktivitas seni komedian berusia 53 tahun itu terhenti total selama proses pemeriksaan berlangsung.
3. Pengetatan pengawasan materi seni

potret bendera China (pexels.com/Charlie Jin) Pemerintah China terus memperketat pengawasan pementasan seni demi menjaga kehormatan simbol nasional. Aturan ini mengharuskan seluruh materi hiburan selaras dengan nilai moral dan pedoman resmi negara.
Kasus ini memicu perdebatan masyarakat terkait batasan kebebasan berkreasi dalam komedi. Sebagian pihak mengkritik aksi Guo, sementara pihak lain meminta publik menyikapi persoalan ini secara tenang.
"Saya merasa kurang nyaman saat lagu revolusioner dinyanyikan lewat karakter humor," kata mantan Pemimpin Redaksi Global Times, Hu Xijin, dikutip dari Channel News Asia.
Pengetatan regulasi ini mendorong para seniman untuk lebih berhati-hati dalam menyusun materi pementasan agar mematuhi hukum yang berlaku.





















