Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rusia Tuduh Armenia dan Ukraina Promosi Terorisme

Rusia Tuduh Armenia dan Ukraina Promosi Terorisme
Bendera Rusia. (pixabay.com/michel_van_der_vegt)
Intinya Sih
  • Kremlin memanggil Duta Besar Armenia setelah kunjungan Presiden Ukraina ke Yerevan, menilai pertemuan itu berpotensi mengancam Rusia dan menunjukkan sikap anti-Moskow.
  • Presiden Vladimir Putin mendorong Armenia menggelar referendum untuk menentukan arah politik antara bergabung dengan Uni Eropa atau tetap di Uni Ekonomi Eurasia.
  • Perdana Menteri Nikol Pashinyan menolak usulan referendum dan membantah adanya ketegangan besar, sementara Rusia mengecam Armenia karena menerima kunjungan Zelenskyy.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov memanggil Duta Besar Armenia di Moskow untuk menjelaskan soal kunjungan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy ke Yerevan. Menurutnya, ada ancaman kepada Rusia yang dibicarakan dalam kunjungan itu. 

“Kunjungan tersebut tidak normal, ini bukanlah wujud mempertahankan semangat hubungan baik antara Moskow dan Yerevan. Yang utama bagi kami, Armenia tidak mengadopsi pandangan anti-Rusia,” terangnya, dikutip dari TVP World, Senin (11/5/2026).

Beberapa tahun terakhir, hubungan antara Rusia dan Armenia merenggang. Retaknya hubungan kedua negara usai pecahnya perang di Nagorno-Karabakh pada 2023. 

1. Putin dorong Armenia selenggarakan referendum

Pada saat yang sama, Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan agar Armenia mengadakan referendum. Langkah itu untuk menentukan apakah warga Armenia ingin bergabung dengan Uni Eropa (UE) atau tetap berada di Uni Ekonomi Eurasia (UEE). 

“Menurut saya ini langkah benar untuk penduduk Armenia dan kami sebagai mitra ekonominya untuk menentukan sesegera mungkin. Contohnya adalah referendum. Ini bukan urusan kami, tapi ini sangat logis untuk mengadakan referendum dan meminta rakyat soal pandangannya,” katanya, dilansir dari RFE/RL.

Presiden Rusia itu menyebut hasil dari referendum akan membuat Moskow dapat menentukan arah. Menurutnya, situasi di Armenia saat ini mirip dengan percobaan aksesi Ukraina untuk bergabung dalam UE. 

2. Pashinyan tolak dorongan untuk mengadakan referendum

Di sisi lain, Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan menolak permintaan Putin. Ia menyebut bahwa belum dibutuhkan referendum untuk menentukan arah politik Armenia di UE atau UEE. 

“Hingga saat ini, masih belum dibutuhkan pemilihan, kami tidak akan memasukkan isu tersebut dalam agenda. Saya juga menolak kata perceraian. Saya pikir kami terkadang bingung dalam hubungan antarnegara yang sama dengan pernikahan,” ujarnya. 

3. Rusia kecam Armenia yang terima kunjungan Zelenskyy

Ketegangan antara Rusia dan Armenia memuncak pekan lalu saat kunjungan Zelenskyy ke Yerevan. Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, Armenia justru membiarkan negaranya sebagai alat untuk menerima terorisme Ukraina. 

Dilansir The Moscow Times, ia mengungkapkan, pemerintahan tidak resmi Ukraina sudah berani mencoba melancarkan ancaman di Moskow saat parade 9 Mei yang sakral. Ia mengatakan, Armenia sama sekali tidak menolak Zelenskyy menjelang perayaan besar di Rusia tersebut. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More