Empat Pria Divonis Bersalah di AS atas Pembunuhan Presiden Haiti

- Empat pria asal Florida dinyatakan bersalah atas konspirasi pembunuhan Presiden Haiti Jovenel Moïse dan terancam hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan federal AS.
- Para terdakwa disebut merancang kudeta demi keuntungan pribadi, termasuk proyek infrastruktur dan keamanan, dengan peran berbeda mulai dari pendanaan hingga koordinasi tentara bayaran Kolombia.
- Kematian Moïse memperburuk krisis politik dan keamanan di Haiti, memicu kekosongan kekuasaan serta meningkatnya dominasi geng bersenjata yang menyebabkan ribuan korban jiwa dan pengungsian massal.
Jakarta, IDN Times - Pengadilan federal Florida menjatuhkan vonis bersalah kepada empat pria atas konspirasi pembunuhan Presiden Haiti Jovenel Moïse pada 2021. Keempat terdakwa yang divonis pada Jumat (8/5/2026) adalah Arcangel Pretel Ortiz, Antonio Intriago, Walter Veintemilla, dan James Solages.
Mereka terbukti bersalah mendalangi konspirasi untuk membunuh atau menculik sang presiden demi ambisi dan kepentingan pribadi. Akibat perbuatan tersebut, seluruh terdakwa kini menghadapi ancaman hukuman maksimal berupa penjara seumur hidup.
1. Pembunuhan untuk mengamankan proyek pemerintah

Terdakwa menyusun skema kudeta untuk menggulingkan Moïse dan memasang pemimpin baru pilihan mereka. Rencana ini didorong oleh ambisi untuk mendapatkan kontrak proyek infrastruktur dan keamanan dari pemerintah baru.
Veintemilla bertugas membiayai operasi ini dengan menyalurkan dana pinjaman sebesar 175 ribu dolar AS (sekitar Rp3 miliar). Sementara itu, Intriago menangani urusan logistik termasuk menyelundupkan rompi antipeluru dan perlengkapan taktis ke Haiti.
Ortiz berperan dalam mengarahkan taktik operasi dan berkoordinasi langsung dengan para tentara bayaran asal Kolombia. Sementara itu, Solages bertindak sebagai penghubung di Haiti yang berkolaborasi dengan geng lokal serta memantau kediaman presiden.
"Terdakwa mengejar kekuasaan, pengaruh, dan keuntungan melalui jalan kekerasan. Mereka mendukung konspirasi lintas batas yang mengakhiri nyawa seorang presiden," ujar Jaksa AS untuk Distrik Selatan Florida, Jason Reding Quiñones, dilansir Politico.
2. Tim pembela sebut kliennya sebagai kambing hitam

Selama persidangan, pengacara para terdakwa membantah tuduhan konspirasi pembunuhan. Mereka mengklaim kliennya hanya berniat membantu kepolisian Haiti untuk menangkap Moïse yang dituduh telah habis masa jabatannya.
Pihak pembela menuduh bahwa sang presiden sebenarnya telah dieksekusi oleh pasukan keamanannya sendiri. Mereka berdalih kematian Moïse telah terjadi sebelum tentara bayaran tiba di lokasi kejadian.
Berdasarkan argumen tersebut, para pengacara meyakini keempat pria asal Florida ini dijebak dalam sebuah penyelidikan yang cacat. Terdakwa dinilai telah dijadikan kambing hitam untuk menanggung kesalahan atas kudeta internal pemerintah Haiti.
"Ini adalah sebuah rencana gelap pihak Haiti. Konspirasi ini buatan orang Haiti," ujar seorang pengacara terdakwa, Emmanuel Perez, dilansir Al Jazeera.
3. Kematian Moïse memperparah krisis di Haiti

Moïse tewas ditembak di kediaman pribadinya pada malam hari oleh sekelompok tentara bayaran asing. Serangan tersebut juga melukai istrinya yang kemudian diterbangkan ke AS untuk mendapatkan perawatan.
Tragedi ini memicu kekosongan kekuasaan di negara Karibia tersebut. Lemahnya pemerintahan semakin memperburuk krisis keamanan karena geng-geng bersenjata merasa semakin kuat.
PBB mencatat, lebih dari 8 ribu orang tewas akibat kekerasan geng sepanjang 2025. Kelompok kriminal juga telah memperluas dominasi mereka dengan menguasai sebagian besar wilayah negara.
Kekacauan tanpa henti memaksa sekitar 1,5 juta warga sipil mengungsi dan meninggalkan rumah mereka. Haiti kini sangat bergantung pada pembentukan pemerintahan yang stabil untuk memulihkan ketertiban nasional dan menekan angka kriminalitas.



















