Imbas Efisiensi, AS Tutup Konsulat di Nagoya dan 4 Misi Diplomatik Lainnya

- Departemen Luar Negeri AS memberi tahu Kongres tentang rencana menutup lima misi: Kedubes Grenada serta konsulat di Nagoya, Medan, Winnipeg, dan Douala.
- Penutupan menjadi bagian agenda efisiensi pemerintahan Trump untuk memangkas anggaran dan birokrasi, setelah sebelumnya mengurangi biro serta merumahkan ratusan staf diplomatik.
- Kritikus memperingatkan pemangkasan misi dan eksodus diplomat berpengalaman dapat melemahkan pengaruh serta kapasitas diplomasi AS, sementara China dan Rusia berpotensi mengisi kekosongan.
Jakarta, IDN Times - Departemen Luar Negeri (DOS) Amerika Serikat (AS) telah secara resmi memberitahu Kongres mengenai rencana penutupan lima misi diplomatiknya di luar negeri. Langkah restrukturisasi yang jarang terjadi ini mencakup Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Grenada, serta konsulat di Nagoya (Jepang), Medan (Indonesia), Winnipeg (Kanada), dan Douala (Kamerun).
Berdasarkan pemberitahuan yang dikirimkan kepada komite-komite kongres, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya luas pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memangkas anggaran dan merampingkan birokrasi federal. Kebijakan ini sejalan dengan agenda 'America First' yang diusung, guna memastikan kehadiran diplomatik AS bekerja secara lebih efisien dan hemat biaya, dilansir Kyodo News pada Selasa (4/8/2026).
1. Upaya Departemen Luar Negeri AS mengatasi pembengkakan birokrasi
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menilai perampingan ini sebagai langkah krusial untuk mengatasi pembengkakan birokrasi. Meski begitu, juru bicara DOS menegaskan bahwa fokus utama kementerian tetap pada penciptaan jejak diplomatik yang efektif dan memberikan hasil nyata bagi rakyat Amerika.
Pemerintahan Trump sendiri terus mendorong efisiensi birokrasi secara agresif. Ini termasuk memangkas puluhan biro dan merumahkan ratusan staf diplomatik sejak tahun lalu. Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih bahkan sempat mempertimbangkan target penutupan yang lebih ambisius hingga 30 misi luar negeri, The Japan Times melaporkan. Hingga kini, pihak DOS menyatakan tetap berkomitmen untuk mematuhi seluruh prosedur pemberitahuan kongres yang berlaku.
2. Kritikus: Pengurangan tersebut dapat memperluas pengaruh China
Di sisi lain, kebijakan ini memicu kritik tajam dari Partai Demokrat, serta sejumlah mantan pejabat kebijakan luar negeri. Mereka memperingatkan bahwa pemangkasan pos diplomatik global, bersamaan dengan pemangkasan anggaran bantuan luar negeri, berisiko melemahkan pengaruh geopolitik AS di panggung internasional.
Para kritikus juga menilai kekosongan yang ditinggalkan oleh penutupan kantor-kantor diplomatik tersebut dapat dimanfaatkan oleh negara pesaing, seperti China dan Rusia untuk memperluas pengaruh mereka. Diketahui, dari lima lokasi yang ditargetkan, Beijng saat ini telah memiliki kehadiran diplomatik di Nagoya, Medan, dan St. George's.
3. Ribuan diplomat tinggalkan DOS, berimbas pada diplomasi AS di era Trump
CNN melaporkan, Pada Mei lalu, Departemen Luar Negeri AS menyelesaikan pemecatan hampir 250 petugas layanan luar negeri dalam sebuah email singkat dan impersonal. Pengurangan jumlah pegawai itu telah dimulai sejak Juli 2025, yang juga berdampak pada lebih dari 1.000 pegawai negeri sipil. Akibatnya, menyebabkan pemecatan seluruh staf di kantor-kantor yang menurut pejabat seharusnya dapat memberikan panduan tentang perang di Iran, yang memiliki konsekuensi serius bagi AS dan ekonomi global.
Gelombang pengurangan personel juga diiringi pensiunnya puluhan diplomat senior yang memiliki pengalaman puluhan tahun. Hampir selusin mantan pejabat mengatakan bahwa pemerintahan Trump tidak lagi menyediakan jalur penugasan maupun promosi ke posisi senior, termasuk jabatan duta besar, bagi diplomat karier. Kondisi tersebut mendorong banyak diplomat memilih mengakhiri masa dinas mereka lebih awal.
"Jumlah orang yang memilih untuk keluar benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya," kata David Kostelancik, yang pensiun setelah 36 tahun berkarier di dinas luar negeri.
Mantan diplomat menilai kombinasi pemutusan hubungan kerja dan eksodus pejabat berpengalaman telah melemahkan kapasitas Departemen Luar Negeri AS. Asossiasi Dinas Luar Negeri Amerika memperkirakan bahwa sekitar 2 ribu petugas dinas luar negeri meninggalkan DOS tahun lalu, yang dinilai dapat memengaruhi kemampuan Washington menjalankan kebijakan luar negerinya dalam jangka panjang.





















