AS Cabut Visa Dubes Brasil di Tengah Perselisihan Diplomatik

- AS mencabut visa Dubes Brasil Maria Luiza Ribeiro Viotti, bukan mengusirnya, setelah Brasil menunda persetujuan Daniel Perez sebagai calon dubes AS.
- Ketegangan sebelumnya meningkat ketika Brasil menolak visa dua pejabat Departemen Luar Negeri AS, karena khawatir kunjungan mereka mengganggu proses pemilu.
- Perselisihan berlangsung menjelang pemilu Brasil, di tengah tarif AS 25 persen pada produk Brasil dan penetapan dua kelompok perdagangan narkoba sebagai organisasi teroris asing.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mencabut visa Duta Besar Brasil untuk AS, Maria Luiza Ribeiro Viotti, pada Selasa (4/8/2026). Langkah ini memicu eskalasi baru dalam ketegangan diplomatik antara Washington dan Brasilia jelang pemilihan presiden Brasil.
Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa pencabutan visa ini bukan bentuk pengusiran resmi terhadap Viotti. Kendati demikian, Viotti wajib mengajukan visa baru apabila ia memilih untuk keluar dari wilayah AS.
1. AS balas penundaan persetujuan dubesnya untuk Brasil

AS mengambil tindakan ini setelah Brasil menunda persetujuan diplomatik terhadap Daniel Perez. Perez merupakan Ketua DPR Florida dari Partai Republik yang dicalonkan Presiden Donald Trump sebagai dubes AS untuk Brasil. Pemerintah Brasil menilai AS telah melanggar protokol diplomatik internasional saat mengumumkan pencalonan Perez. AS mengumumkan nama Perez secara terbuka sebelum meminta persetujuan resmi dari Brasilia.
Pihak Brasil menyatakan persetujuan calon dubes AS tersebut masih dalam proses peninjauan. Keputusan akhir tidak akan diambil sebelum pemilu presiden Brasil putaran pertama selesai digelar. Sementara itu, pihak AS menegaskan visa Viotti akan segera dipulihkan apabila Brasil menyetujui penunjukan Perez.
"Kami berkomunikasi secara terus-menerus dengan pemerintah Brasil selama berminggu-minggu dan memberi mereka setiap kesempatan, tetapi mereka selalu menunda," ujar pejabat Departemen Luar Negeri AS, dilansir CNN.
2. Brasil tolak visa pejabat Departemen Luar Negeri AS

Ketegangan diplomatik kedua negara telah dimulai sejak beberapa pekan sebelum pencabutan visa Viotti. Pada Juli lalu, Brasil menolak memberikan visa masuk kepada dua pejabat Departemen Luar Negeri AS. Dua pejabat yang ditolak masuk tersebut adalah Riley M. Barnes dan Samuel Samson dari Biro Demokrasi, HAM, dan Ketenagakerjaan. Brasil mengklaim kunjungan mereka berpotensi mengganggu proses pemilu.
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menuding utusan AS berniat menyebarkan keraguan atas sistem pemungutan suara elektronik di negerinya. Sebaliknya, AS membantah tuduhan tersebut dan menyebut perjalanan itu hanyalah kunjungan kerja rutin.
"Tindakan ini merupakan bagian dari peningkatan tindakan permusuhan yang disengaja terhadap Brasil, didorong oleh motif ideologis yang tidak sesuai dengan kemitraan bilateral yang selalu berpedoman pada rasa saling menghormati," kata kantor kepresidenan Brasil, dilansir CNN.
3. Tekanan ekonomi dan politik AS terhadap Brasil

Perselisihan diplomatik ini terjadi di tengah persaingan pemilu Presiden Brasil pada Oktober 2026. Presiden petahana Lula da Silva bakal berhadapan dengan Senator Flávio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro.
Keluarga Bolsonaro dikenal memiliki hubungan politik yang erat dengan Donald Trump. Di sisi lain, Lula bersikap kritis terhadap upaya AS yang dinilai sering mencampuri urusan politik domestik di kawasan Amerika Latin.
Konflik politik ini semakin memanas akibat tekanan ekonomi yang diterapkan oleh pemerintah AS. AS telah mengenakan tarif impor sebesar 25 persen terhadap produk-produk asal Brasil dengan alasan praktik perdagangan tidak adil. Selain tarif impor, AS juga menetapkan dua kelompok perdagangan narkoba besar Brasil sebagai organisasi teroris asing. Pemerintah Brasil menilai sanksi ekonomi dan hukum tersebut sebagai bentuk dukungan AS kepada rival politik Lula.





















