Kemampuan tersebut memungkinkan KRI Canopus-936 menjalankan misi jarak jauh, termasuk di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) hingga perairan internasional, tanpa ketergantungan logistik yang tinggi.
Usai Berlayar 54 Hari dari Jerman, Kapal Canggih KRI Canopus-936 Tiba di Indonesia

- KRI Canopus-936 tiba di Indonesia setelah berlayar 54 hari dari Jerman dan disambut unsur laut serta udara TNI AL di Selat Sunda.
- Kapal survei terbesar milik TNI AL ini mampu beroperasi hingga 60 hari nonstop dengan jangkauan 10.000 mil laut dan struktur tahan kondisi ekstrem.
- Dilengkapi teknologi AUV, ROV, dan UAV, KRI Canopus-936 dapat memetakan dasar laut hingga 11.000 meter untuk riset maritim dan operasi pertahanan.
Jakarta, IDN Times - Usai berlayar selama 54 hari dari Jerman, kapal perang terbaru milik TNI Angkatan Laut (AL), KRI Canopus-936 memasuki perairan Indonesia pada Selasa (6/5/2026). Ketibaan kapal bantu hidro-oseanografi itu mendapat sambutan khusus melalui unsur laut dan udara di Selat Sunda. Ini merupakan penjelajah samudera tercanggih yang dimiliki oleh TNI AL.
Pesawat udara Casa 212-200 MPA P-8202 dari Wing Udara 1 melakukan flypast atau terbang rendah sebagai bentuk penghormatan ketika KRI Canopus-936 melintasi batas kedaulatan nasional. Mayor Laut (P) Musmuliadi yang mengawaki pesawat tersebut juga melaksanakan komunikasi radio dan pengambilan foto udara (photo exercise) di atas dek kapal sepanjang 105 meter itu.
Komandan Wing Udara 1 Kolonel Laut (P) Dani Widjanarka, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas keterlibatan awak pesawat dalam penyambutan alutsista maritim tersebut. Ia menggarisbawahi pentingnya profesionalisme prajurit dalam mendukung kehadiran armada riset di masa depan.
"Terima kasih atas pelaksanaan giat tersebut. Tetap perhatikan keselamatan terbang selama di daerah operasi," ujar Dani dikutip dari keterangan Puspenerbal, Minggu (10/5/2026).
1. KRI Canopus-936 difungsikan untuk memetakan dasar laut terdalam di Tanah Air

Lebih lanjut, KRI Canopus-936 bertolak dari galangan kapal Abeking & Rasmusen di Jerman pada pertengahan Maret 2026. Dalam pelayaran perdananya menuju ke Tanah Air, KRI Canopus-936 melakukan dua kali pemberhentian. Pertama, ke Las Palmas, Spanyol dan kedua, Port Louis, Mauritius.
Dengan ketibaan KRI Canopus-936, maka Indonesia memiliki 'mata' yang lebih tajam untuk memetakan dasar laut terdalam dan memperkuat pertahanan maritim di kawasan Indo-Pasifik.
Komandan KRI Canopus-936, Kolonel Laut (P) Indragiri Yani, mengucapkan terima kasih atas penyambutan dari unsur udara dan laut ketika memasuki wilayah perairan Indonesia. KRI Bung Tomo-357 mengawal KRI Canopus-936 masuk ke Indonesia.
"Atas nama seluruh prajurit jalasena dari Canopus-936, saya Kolonel Laut (P) Indragiri Yani, Komandan KRI Canopus-936 menyampaikan terima kasih kepada komandan beserta seluruh prajurit jalasena KRI Bung Tomo-357 yang telah menyambut KRI Canopus-936 memasuki teritorial wilayah negara kesatuan Republik Indonesia untuk pertama kalinya setelah berlayar selama 54 hari," ungkap Indragiri dari komunikasi suara, dikutip dari akun Pushidrosal hari ini.
"Penghargaan setinggi-tingginya bagi komandan dan seluruh prajurit jalasena KRI Bung Tomo 357 atas semangat dan dedikasi yang luar biasa. Kibarkan terus bendera kewajiban," imbuhnya.
2. Kapal survei terbesar dengan daya jelajah tinggi

KRI Canopus-936 menjadi kapal survei terbesar yang dimiliki TNI AL saat ini. Kapal ini memiliki panjang sekitar 105 meter dan lebar 17,4 meter, dengan bobot mencapai lebih dari 3.400 ton.
Dari sisi operasional, kapal ini mampu berlayar hingga 10.000 mil laut tanpa henti, dengan kecepatan maksimum sekitar 16 knot dan daya tahan operasi hingga 60 hari di laut.
Struktur kapal juga dirancang untuk menghadapi kondisi ekstrem laut lepas, menggunakan material baja khusus yang tahan tekanan dan korosi tinggi.
3. Dilengkapi teknologi mutakhir, dari drone laut hingga sensor laut dalam

Kecanggihan utama KRI Canopus-936 terletak pada perangkat surveinya. Kapal ini dilengkapi teknologi kelas dunia seperti Autonomous Underwater Vehicle (AUV), Remotely Operated Vehicle (ROV), hingga Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
Kombinasi teknologi tersebut memungkinkan pengumpulan data laut secara detail dan presisi tinggi, termasuk pemetaan dasar laut dalam dan deteksi objek bawah air.
Tak hanya itu, kapal ini juga dibekali sensor canggih yang mampu memetakan kedalaman laut hingga sekitar 11.000 meter—setara dengan palung terdalam di samudra.
Kemampuan ini menjadikan KRI Canopus-936 sebagai aset penting dalam riset geologi laut, navigasi, hingga mendukung operasi militer seperti peperangan ranjau dan pencarian serta penyelamatan (SAR).

















