Iran Hantam Kilang Minyak Kuwait, Fasilitas Listrik dan Air Terbakar

- Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke fasilitas minyak, listrik, dan air Kuwait, menyebabkan kerusakan besar serta korban luka di tengah suhu ekstrem musim panas.
- Amerika Serikat membalas dengan menghantam infrastruktur penting Iran, termasuk fasilitas desalinasi air di pesisir Jask, memutus pasokan air bagi ribuan warga dan memperburuk ketegangan regional.
- Korban sipil meningkat di Iran akibat serangan udara AS yang menewaskan puluhan orang, sementara konflik terbuka ini dipicu sengketa jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Jakarta, IDN Times – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai menghantam infrastruktur energi penting di Timur Tengah. Aksi saling serang itu terjadi setelah nota kesepahaman gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada Juni runtuh, sementara dampaknya langsung dirasakan Kuwait yang menjadi lokasi sejumlah aset militer AS.
Dilansir Anadolu Agency, Kuwait Petroleum Corporation (KPC) melaporkan salah satu fasilitas minyak penting mereka menjadi saran rentetan serangan Iran pada Sabtu (18/7/2026) pagi. Serangan itu menyebabkan kerusakan material yang signifikan dan menimbulkan korban luka. Pernyataan resmi KPC yang disiarkan kantor berita Kuwait News Agency (KUNA) menyebut korban luka telah memperoleh penanganan medis, lokasi dievakuasi, dan penanganan serangan dilakukan bersama otoritas terkait.
Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait juga mengonfirmasi kebakaran di fasilitas pembangkit listrik serta desalinasi air akibat serangan tersebut. Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, Brigadir Jenderal Saud Al-Otaibi, menyatakan hantaman rudal dan drone memicu kerusakan yang sangat parah.
1. Pemerintah Kuwait mengambil langkah darurat

Serangan yang berlangsung selama dua hari terakhir mendorong Pemerintah Kuwait menerapkan langkah darurat saat suhu musim panas melampaui 43,3 derajat Celcius. Kementerian Energi Kuwait mengimbau warga menghemat penggunaan listrik, terutama pada jam-jam sibuk, guna mencegah gangguan total pada jaringan daya. Kuwait juga menutup sementara ruang udaranya serta menjadwal ulang sebagian besar penerbangan komersial Kuwait Airways setelah mencegat sejumlah rudal dan drone asal Iran.
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam penargetan fasilitas vital tersebut dan menyatakan tindakan itu menunjukkan pendekatan sistematis serta agresif Iran terhadap sasaran sipil. Militer Bahrain dan Yordania turut melaporkan pencegatan serangkaian serangan udara di wilayah masing-masing. Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim operasinya di Yordania menghancurkan dua jet tempur di pangkalan militer AS, tetapi NBC News menyebut klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen.
2. Serangan balasan AS melumpuhkan infrastruktur Iran

Di sisi lain, sejumlah infrastruktur di Iran juga mengalami kelumpuhan akibat serangan balasan militer AS. Kantor berita semiresmi Fars melaporkan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan Teheran menghentikan seluruh komitmen perdamaian dan memusatkan perhatian pada pertahanan negara. Konflik juga semakin memanas karena AS berupaya menekan Iran agar melepas kendali atas Selat Hormuz yang kembali diblokade dan lumpuh total.
Serangan AS dilaporkan merusak fasilitas desalinasi air di Desa Bonji, kawasan pesisir Iran. CEO perusahaan air setempat mengatakan kepada Tasnim bahwa kerusakan tersebut memutus pasokan air minum bagi sekitar 10 ribu warga di 20 desa di wilayah barat Kabupaten Jask. Kedutaan Besar Iran di India kemudian mengutuk aksi militer AS melalui unggahan di media sosial X dan menyebutnya sebagai kejahatan perang.
3. Korban sipil bertambah akibat konflik terbuka

Konflik terbuka antara kedua negara dilaporkan menimbulkan korban jiwa di kawasan permukiman warga. Otoritas Iran menyatakan serangan berturut-turut dari pasukan AS menewaskan sedikitnya 46 orang dan melukai lebih dari 400 orang. Kementerian Energi Iran juga mengeluarkan instruksi penghematan listrik di provinsi bagian selatan setelah sejumlah infrastruktur kelistrikan rusak di tengah gelombang panas.
Serangan AS juga dilaporkan menghantam Pulau Qeshm dan menghancurkan menara kontrol di Pelabuhan Chabahar. Meski terminal di pelabuhan tersebut dioperasikan India, Kementerian Luar Negeri India memastikan fasilitas terminal milik mereka tetap aman dan tak mengalami kerusakan. Dalam pidato nasionalnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer berjalan sukses dengan mengklaim keunggulan pasukannya.
“Kami juga menang besar di Iran. Anda akan melihat buah dari kerja keras itu dalam waktu yang sangat, sangat singkat,” kata Trump, dikutip NBC News.
Hancurnya kesepakatan ini dipicu oleh sengketa jalur pelayaran di Selat Hormuz. Teheran mendesak agar kapal-kapal melintas lebih dekat ke pantai mereka dan berencana memungut tarif tol. Sebaliknya, Washington menuntut jalur pelayaran dipindahkan ke dekat Oman agar bebas dari kontrol Iran. Akibat kebuntuan ini, Iran menyatakan selat tersebut ditutup, sementara AS memberlakukan kembali blokade laut yang melumpuhkan total lalu lintas maritim di kawasan tersebut.






















