Inggris Berencana Minta Maaf kepada Eks Negara Jajahan atas Perbudakan

- PM Inggris Andy Burnham akan meminta masukan negara bekas jajahan mengenai perbudakan, menjelang KTT Persemakmuran di Antigua dan Barbuda untuk merumuskan permintaan maaf.
- Burnham menegaskan permintaan maaf atas perdagangan budak transatlantik tidak mencakup reparasi, tetapi Inggris berharap ada sistem restrukturisasi utang bagi negara yang terlilit utang.
- Burnham menyatakan dialog ini bertujuan memperbarui era Persemakmuran dan menepis klaim bahwa isu tersebut mempersulit Raja Charles III, sementara peran raja belum dipastikan.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Inggris, Andy Burnham, pada Senin (2/11/2026), mengaku akan meminta pendapat dari negara-negara bekas jajahan mengenai perbudakan. Langkah ini untuk mempermudah proses perumusan permintaan maaf.
Pernyataan ini diumumkan menjelang KTT Persemakmuran di Antigua dan Barbuda. Pihak Inggris mengaku sejumlah negara anggota Persemakmuran Inggris menanggapi positif rencana permintaan maaf mengenai kejahatan perdagangan budak transatlantik.
1. Bantah setujui ide bayar reparasi kepada negara bekas jajahan

ilustrasi bendera Inggris Raya (pexels.com/mikebird) Meskipun demikian, Burnham menyampaikan bahwa permintaan maaf ini tidak termasuk membayar reparasi kepada negara bekas jajahan. Namun, ia mengharapkan rencana untuk sistem restrukturisasi utang bagi negara-negara yang terlilit utang.
“Di dunia yang mengalami perpecahan ini, dunia semakin tidak dapat diprediksi, Persemakmuran dapat menjadi kekuatan besar untuk kebaikan dan merangkul satu per tiga dari penduduk dunia. Saya percaya ini adalah kunci bahwa Inggris berperan penting di dalamnya,” terangnya, dikutip dari The Guardian.
Menurutnya, rencana permintaan maaf ini sebagai pendekatan untuk memperbarui era Persemakmuran. Selain itu, membuka dialog menyelesaikan masalah di masa lalu.
2. Inggris sesalkan perdagangan budak transatlantik

ilustrasi bendera Inggris Raya (unsplash.com/chrislawton) Di sisi lain, Burnham mengatakan bahwa rencana ini sebagai wujud menunjukkan kepemimpinan Inggris dan mempersatukan negara Persemakmuran sebagai satu keluarga. Selain itu berfungsi mengupayakan penyelesaian masalah perdagangan budak transatlantik.
Juru bicara PM Inggris mengatakan bahwa Burnham sudah mengucapkan penyesalan dan duka atas penderitaan yang disebabkan oleh perdagangan budak transatlantik. Menurutnya, perbudakan tersebut yang ikut membentuk dunia seperti saat ini.
3. Bantah permintaan maaf soal perbudakan persulit Raja Charles III

ilustrasi bendera Inggris (pixabay.com/terimakasih0) Pada hari yang sama, Burnham menepis klaim dari oposisi bahwa dialog soal permintaan maaf soal perbudakan mempersulit Raja Charles III. Ia mengaku akan bertemu dan mendengarkan sebagai bentuk pendekatan baru di Persemakmuran.
Dilansir DPA International, belum diketahui secara pasti apakah Raja Charles III harus memberikan pernyataan maaf atas perilaku leluhurnya atau tidak. Namun, keluarga Kerajaan Inggris diketahui sudah terlibat dalam pengiriman dan penjualan budak untuk memperoleh profit.























