Iran Siapkan Pertemuan Negara Teluk untuk Atur Selat Hormuz

- Iran merencanakan pertemuan negara Teluk dan Irak di Salalah, Oman, untuk membahas pengelolaan Selat Hormuz, termasuk jalur pelayaran sementara, pembersihan ranjau, dan aturan lalu lintas maritim.
- Diplomasi menghadapi hambatan aturan operasional dan persetujuan GCC, sementara konflik di Yaman mengancam jalur Bab al-Mandeb setelah penutupan Hormuz mengalihkan ekspor minyak Arab Saudi.
- Penutupan efektif Selat Hormuz akibat konflik AS-Israel melawan Iran mengganggu pasokan minyak global, mendorong harga Brent sekitar 104 dolar AS per barel dan solar AS melampaui 6 dolar per galon.
Jakarta, IDN Times – Iran merancang pertemuan bersama negara-negara Teluk di Salalah, Oman, guna membicarakan pengelolaan Selat Hormuz pada Senin (14/9/2026). Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyampaikan bahwa Teheran tetap berkomitmen menjaga keamanan navigasi di kawasan tersebut. Sementara itu, Iran dan Oman telah berunding selama beberapa minggu serta menyepakati naskah utama terkait jalur pelayaran sementara, pembersihan ranjau, dan aturan lalu lintas maritim.
Pertemuan tersebut diproyeksikan memiliki arti penting bagi hubungan diplomasi di kawasan Timur Tengah.
"Iran memberikan spektrum politik yang lebih luas pada pembicaraan itu dengan mengundang negara-negara kawasan lainnya," kata reporter Sinem Koseoglu dalam laporannya dari Teheran, dikutip Al Jazeera.
Rencana ini mencakup kehadiran menteri luar negeri dari Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan Irak, meski kehadiran Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, serta Oman belum dikonfirmasi. Langkah ini dipertimbangkan sebagai pertemuan pertama bersama pejabat Iran sejak perang berlangsung lebih dari enam bulan lalu.
1. Kendala teknis dan konflik Yaman menghambat diplomasi

Peta Bab al-Mandep (Archer90 talk, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons) Upaya diplomasi di Oman masih menghadapi kendala teknis mengenai aturan operasional, termasuk skema pembayaran biaya pelayaran yang ditentang Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Teluk. Di sisi lain, persetujuan anggota GCC atas pengaturan sementara untuk memulihkan lalu lintas kapal juga belum dipastikan.
Proses perundingan makin rumit akibat pertempuran yang meningkat antara pasukan yang didukung Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. Houthi yang didukung Iran terus bergerak menuju pesisir Laut Merah dekat Selat Bab al-Mandeb sambil meluncurkan rudal dan drone yang merusak fasilitas energi di barat daya Arab Saudi.
Dilansir Hindustan Times, posisi Bab al-Mandeb menjadi sangat penting bagi Arab Saudi setelah penutupan Selat Hormuz memaksa pengalihan pengiriman minyak ke terminal ekspor pantai barat. Eskalasi di jalur alternatif tersebut mengancam keandalan pasokan energi yang tersisa.
2. Latar belakang perang dan kebuntuan militer

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art) Rencana pertemuan ini mengemuka di tengah konflik militer antara AS dan Israel melawan Iran yang pecah sejak akhir Februari lalu. Pemboman AS dan Israel membuat Selat Hormuz secara efektif tertutup dan memicu perang berintensitas rendah yang diperkirakan bisa berlangsung selama berbulan-bulan.
Teheran tetap menolak mundur dari kontrol atas jalur energi tersebut ataupun kembali ke meja perundingan sebelum Presiden AS Donald Trump mencabut blokade maritimnya. Sementara itu, Washington masih mempertahankan tekanan angkatan laut untuk menekan ekonomi Iran yang menghadapi kejatuhan nilai rial serta inflasi hampir 90 persen.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut tekanan terhadap negaranya telah berada pada kondisi kritis akibat sanksi berat dan agresi militer AS-Israel.
“Iran telah dikenai sanksi berat dalam beberapa tahun terakhir; tekanan ini telah mencapai tahap kritis dan berbahaya dalam beberapa bulan terakhir menyusul agresi militer oleh AS dan Israel,” kata Pezeshkian menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di India.
3. Dampak penutupan Selat Hormuz terhadap harga minyak global

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons) Gangguan navigasi di Selat Hormuz, jalur sempit yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia, membuat harga minyak mentah menembus 100 dolar AS (setara Rp1,76 juta) per barel pada awal pekan ini. Laporan Badan Energi Internasional menyebut minyak mentah Brent berada di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak Juli, meski harganya sempat merosot lebih dari 3 persen pada Jumat ke kisaran 104 dolar AS (sekitar Rp1,82 juta) per barel akibat prospek permintaan yang memburuk.
Kondisi serupa terjadi di AS ketika harga solar melewati 6 dolar AS (sekitar Rp105 ribu) per galon untuk pertama kalinya. Kenaikan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi menjelang pemilihan tengah masa jabatan di AS pada November mendatang.





















