Israel Perluas Invasi Lebanon untuk Memperbesar Zona Keamanan

- PM Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan perluasan invasi darat ke Lebanon selatan untuk memperbesar zona keamanan dan menekan ancaman rudal Hizbullah di perbatasan utara.
- Satu penjaga perdamaian Indonesia dari UNIFIL tewas akibat ledakan proyektil di Adshit al-Qusayr, sementara sumber serangan masih diselidiki oleh pihak PBB.
- Serangan udara dan darat Israel sejak awal Maret menewaskan lebih dari 1.200 warga Lebanon, termasuk anak-anak dan tenaga medis, serta menyebabkan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menginstruksikan perluasan invasi darat di wilayah Lebanon selatan pada Minggu (29/3/2026). Militer Israel bermaksud untuk memperbesar zona penyangga keamanan guna meredam ancaman tembakan rudal antitank ke permukiman di perbatasan.
Keputusan ini meningkatkan kekhawatiran dunia bahwa Israel akan meniru taktik bumi hangus seperti yang diterapkan di Gaza. Pasukan Israel dilaporkan terus bergerak maju menuju arah Sungai Litani yang berada sekitar 30 kilometer dari perbatasan utara.
"Kami bertekad untuk mengubah situasi di utara secara fundamental," ujar Netanyahu, dilansir The Straits Times.
1. Israel ingin kuasai jembatan di Sungai Litani

Militer Israel dilaporkan telah menghancurkan atau merusak setidaknya delapan jembatan strategis yang melintasi Sungai Litani. Sebelumnya, Presiden Lebanon Joseph Aoun telah memperingatkan bahwa manuver tersebut merupakan awal mula invasi darat.
Pasukan Israel saat ini telah mencapai anak Sungai Litani di wilayah timur dekat al-Muhaysibat yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari aliran utama sungai. Tel Aviv berdalih operasi militer diperlukan untuk menghancurkan sisa persenjataan roket Hizbullah yang masih mampu menyerang dari perbatasan.
Menteri Pertahanan Israel Katz menyatakan pihaknya akan menguasai seluruh jembatan yang tersisa beserta zona keamanan. Sementara itu, Hizbullah mengonfirmasi bahwa 400 pejuangnya telah tewas di kawasan tersebut.
2. Pasukan perdamaian asal Indonesia gugur di Lebanon

Konflik yang terus memanas turut memakan korban dari pihak Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL). Sebuah proyektil meledak di dekat Adshit al-Qusayr, menewaskan satu penjaga perdamaian Indonesia dan melukai satu personel lainnya.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) mengklaim serangan berasal dari artileri militer Israel dan mengenai markas kontingen Indonesia. Namun, pihak UNIFIL mengaku belum mengetahui sumber serangan. UNIFIL menegaskan, serangan sengaja terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
"Kami belum mengetahui asal proyektil tersebut. Kami telah meluncurkan penyelidikan," ungkap perwakilan resmi UNIFIL, dilansir Al Jazeera.
3. Ribuan tewas dan jutaan mengungsi akibat konflik

Serangan udara dan operasi darat Israel telah merenggut nyawa 1.238 orang di Lebanon sejak 2 Maret. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat angka kematian tersebut mencakup 124 anak-anak.
Sebanyak 51 pekerja kesehatan Lebanon tewas akibat rentetan pengeboman yang menghantam berbagai fasilitas sipil. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengecam serangan ini setelah sembilan paramedis terbunuh dalam satu hari yang sama.
Gempuran militer Israel turut menyasar tiga orang pekerja media yang sedang bertugas meliput di zona konflik selatan. Ali Shoeib yang merupakan koresponden televisi tewas bersama dua jurnalis lainnya di kota Jezzine.
Kehancuran infrastruktur sipil telah memicu pengungsian besar-besaran warga di seluruh kawasan selatan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan lebih dari 1,2 juta orang Lebanon telah mengungsi meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat aman.
















