Jepang Waspadai Aliansi Militer China, Rusia, dan Korut

- Buku Putih Pertahanan Jepang 2026 menyatakan lingkungan keamanan terburuk sejak Perang Dunia II, dengan koordinasi China, Rusia, dan Korut berpotensi mengguncang tatanan Asia Timur.
- Tokyo menilai China sebagai tantangan strategis terbesar akibat modernisasi militer dan aktivitas bersama Rusia; Korut tetap ancaman mendesak lewat pengembangan nuklir dan rudal balistik.
- Jepang mengalokasikan anggaran pertahanan rekord untuk modernisasi, termasuk rudal jarak jauh, drone, pertahanan udara terintegrasi, dan kapal Aegis, dengan target belanja 2 persen PDB.
Jakarta, IDN Times – Jepang menyatakan kondisi keamanan di sekitar wilayahnya kini berada pada tingkat paling serius dan paling kompleks sejak berakhirnya Perang Dunia II. Buku Putih Pertahanan Jepang 2026 menyebut koordinasi pertahanan yang semakin erat antara China, Rusia, dan Korea Utara (Korut) berpotensi memicu situasi serius yang mengguncang tatanan internasional di Asia Timur.
Pemerintah Jepang juga memperingatkan bahwa krisis seperti invasi Rusia ke Ukraina berpeluang muncul di kawasan Indo-Pasifik, sementara peningkatan aktivitas militer Beijing menjadi perhatian utama dalam laporan tahunan tersebut.
“Kegiatan militer China dan tindakan lainnya merupakan masalah yang sangat mengkhawatirkan bagi Jepang dan komunitas internasional, serta mewakili tantangan strategis terbesar Jepang,” isi Buku Putih, dikutip CNN.
1. Jepang memperkuat pertahanan melalui investasi militer

Penguatan sektor pertahanan Jepang disiapkan bukan hanya untuk menjaga keamanan negara, tetapi juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi melalui industri persenjataan. Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan investasi militer memberi dampak positif bagi perekonomian dan kehidupan masyarakat, sejalan dengan kebijakan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang memanfaatkan belanja strategis negara untuk mendorong ekspansi ekonomi.
Selain itu, laporan tahun ini tampil dengan visual berbeda karena sampul Buku Putih menggunakan ilustrasi bergaya anime yang menampilkan keluarga tersenyum di lanskap kota, menggantikan gambar pasukan atau simbol militer. Seorang pejabat Kemenhan Jepang menjelaskan desain tersebut dipilih untuk menghadirkan citra futuristik kepada publik.
2. Laporan menempatkan China sebagai tantangan strategis

Laporan The Independent menyebut dokumen tersebut menempatkan China sebagai tantangan strategis terbesar bagi Tokyo karena terus memodernisasi kekuatan militernya dan meningkatkan aktivitas di sekitar wilayah Jepang, termasuk Laut China Timur serta kawasan Taiwan. Dokumen itu juga menyoroti operasi gabungan China dan Rusia melalui patroli laut serta penerbangan bersama pesawat pembom.
Salah satu insiden memperlihatkan pesawat pembom China dan Rusia terbang mendekati Tokyo serta melintasi pulau-pulau selatan Jepang untuk pertama kalinya sehingga direspons dengan pengerahan pesawat tempur Pasukan Bela Diri (SDF) Jepang.
“Penerbangan bersama pesawat pembom China dan Rusia serta latihan angkatan laut jelas dimaksudkan sebagai unjuk kekuatan terhadap negara kita dan mewakili kekhawatiran serius bagi keamanan nasional,” isi dokumen itu, dikutip The Independent.
Kemitraan Rusia dengan China dan Korut juga disebut meningkatkan ketegangan kawasan karena kerja sama militer Moskow dikhawatirkan memperkuat kemampuan militer Pyongyang dalam jangka menengah hingga panjang, terutama melalui pengembangan sistem rudal hipersonik canggih. Dokumen tersebut turut mencatat kemunculan Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un yang berdiri berdampingan dalam parade militer di Beijing.
Korut tetap dipandang sebagai ancaman mendesak karena terus mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik yang mampu menjangkau wilayah Jepang. Berdasarkan data operasional periode April 2025 hingga Maret 2026, Pasukan Bela Diri Udara Jepang mencatat 595 kali pengerahan darurat (scramble), terdiri atas 366 intersepsi terhadap pesawat China dan 214 terhadap pesawat Rusia.
3. Pemerintah mengalokasikan anggaran modernisasi militer

Pemerintah Jepang membiayai modernisasi militer terbesar sejak Perang Dunia II melalui kombinasi kenaikan pajak, reformasi anggaran, dan pendapatan sekali pakai dengan target belanja pertahanan sebesar 2 persen dari produk domestik bruto. Pemerintahan Takaichi telah mengamankan rekor anggaran 122,3 triliun yen (sekitar Rp13.928 triliun) untuk tahun fiskal hingga Maret 2027 serta menambah paket stimulus 3,1 triliun yen (sekitar Rp353 triliun) guna meringankan beban biaya energi masyarakat dan pelaku usaha.
Sebagian besar anggaran tersebut dialokasikan untuk pengadaan rudal berjangkauan lebih dari 1.000 kilometer dan pengembangan pesawat tanpa awak. Kebijakan itu memicu reaksi keras dari Beijing setelah Takaichi menyatakan SDF dapat dikerahkan apabila serangan China ke Taiwan mengancam kelangsungan hidup Jepang, yang kemudian dituntut Beijing untuk segera ditarik kembali.
Tokyo juga melakukan perombakan mendasar pada tujuh area prioritas untuk memperkuat kemampuan deteksi dan respons, termasuk sistem pertahanan udara terintegrasi serta kemampuan serangan jarak jauh. Alutsista yang disiapkan meliputi Rudal Panduan Permukaan-ke-Kapal Tipe-25, Proyektil Meluncur Kecepatan Tinggi Tipe-25, senjata hipersonik, rudal SM-3 Block IIA untuk kapal perusak Aegis, serta pembangunan Kapal Dilengkapi Sistem Aegis baru.
Selain itu, pakar militer memproyeksikan strategi keamanan nasional bentukan Takaichi akan mendorong kenaikan anggaran lebih lanjut demi mencegah potensi konflik terbuka di Selat Taiwan.




















