Siswa Meninggal Diduga karena Sepatu Kekecilan, Evaluasi Data Disorot

- Kasus meninggalnya Mandala Rizky Saputra, siswa SMK di Samarinda, viral setelah diduga akibat sepatu kekecilan dan memicu perhatian serius dari KemenPPPA untuk evaluasi menyeluruh.
- KemenPPPA menyoroti perlunya penelusuran kendala administrasi serta akses bantuan sosial agar keluarga rentan seperti MRS tidak terlewat dalam program perlindungan anak.
- Pemerintah fokus memperkuat sistem pencegahan melalui kolaborasi masyarakat, perangkat desa, dan penguatan Satuan Pendidikan Ramah Anak serta inisiatif Ruang Bersama Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Kasus meninggalnya Mandala Rizky Saputra (MRS), siswa SMK Negeri 4 Samarinda, viral di media sosial setelah muncul informasi bahwa korban diduga mengalami pembengkakan kaki akibat mengenakan sepatu yang kekecilan.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Arifah Fauzi mengatakan, perlu ada evaluasi menyeluruh pada kasus tersebut.
“Kejadian ini menjadi perhatian serius dan karena itu perlu dievaluasi secara menyeluruh,” kata Arifah dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
1. Perlu penelusuran soal kendala administrasi hingga bansos

Dia menyebut, penelusuran harus mencakup berbagai aspek, termasuk kemungkinan kendala administrasi kependudukan yang membuat keluarga tidak terdata dalam DTSEN. Selain itu, akses terhadap bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Indonesia Pintar (PIP) juga perlu ditelusuri.
“Kemen PPPA akan berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait guna memastikan ketepatan sasaran program perlindungan sosial bagi anak” kata dia.
2. Soroti kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan

Arifah mengatakan, kasus ini sangat menyayat hati karena ada anak-anak Indonesia yang harus berjuang dalam keterbatasan demi memperoleh hak pendidikannya.
"Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan, ananda MRS tetap menunjukkan semangat luar biasa untuk terus bersekolah. Semangat tersebut mencerminkan ketangguhan dalam mengejar cita-cita dengan berbagai keterbatasan meski akhirnya berakhir pilu," kata dia.
3. Penguatan sistem pencegahan jadi fokus utama

Selain penanganan kasus, penguatan sistem pencegahan juga menjadi fokus. Pemerintah mendorong keterlibatan berbagai pihak, termasuk perangkat desa dan masyarakat, dalam memastikan perlindungan anak berjalan optimal. Penguatan Satuan Pendidikan Ramah Anak (SRA) juga dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa.
“Kami juga terus mendorong penguatan inisiatif Ruang Bersama Indonesia (RBI) sebagai wadah kolaborasi masyarakat dalam memastikan pemenuhan hak anak. Melalui RBI, diharapkan tidak ada lagi anak yang luput dari perhatian dan pengawasan dalam hal kesejahteraan dan perlindungannya,” kata dia.


















