Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Arbain Bukan Rukun Haji, Jemaah Diminta Simpan Tenaga untuk Wukuf

Arbain Bukan Rukun Haji, Jemaah Diminta Simpan Tenaga untuk Wukuf
Rombongan jemaah haji kloter PLM-3 dari Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, tiba di Bandara Prince Mohammed bin Abdul Aziz, Madinah. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
Intinya Sih
  • Ibadah Arbain di Masjid Nabawi bukan bagian dari rukun atau wajib haji, sehingga jemaah tidak perlu memaksakan diri jika kondisi fisik tidak memungkinkan.
  • Pembimbing ibadah menekankan pentingnya menjaga stamina agar tetap prima menjelang wukuf di Arafah, dan salat di hotel tetap bernilai pahala bagi jemaah yang kelelahan.
  • Tenaga medis mengingatkan risiko kesehatan akibat memaksakan diri beribadah setelah perjalanan jauh, terutama bagi jemaah lansia, agar fokus pada pemulihan fisik sebelum puncak haji.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Madinah, IDN Times - Semangat beribadah para jemaah haji Indonesia setibanya di Tanah Suci memang patut diacungi jempol. Namun, demi kelancaran seluruh rangkaian ibadah hingga tuntas, jemaah khususnya yang masuk dalam kategori lanjut usia (lansia) sangat diimbau untuk tidak memaksakan diri mengejar ibadah salat Arbain di Masjid Nabawi jika kondisi fisik sudah tidak memungkinkan.

Petugas Pembimbing Ibadah PPIH Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Bandara, Anis Diyah Puspita, menegaskan bahwa ibadah Arbain—yakni melaksanakan salat fardu 40 waktu secara berjamaah tanpa terputus di Masjid Nabawi—bukanlah syarat mutlak dalam ibadah haji. Oleh karena itu, jemaah tidak harus menuruti ambisi mengejar Arbain hingga mengorbankan kesehatan.

"Ibadah Arbain tidak menjadi bagian dari rukun dan wajib haji, jadi Arbain tidak menjadi bagian dari rangkaian haji itu sendiri. Sehingga tidak berpengaruh terhadap keabsahan ibadah jemaah haji," tegas Anis di Madinah, Minggu (26/4/2026).

1. Jaga fisik untuk wukuf di Arafah

Petugas pembimbing ibadah mengenakan seragam dan hijab krem berdiri di dekat papan bertuliskan Hajj Pavilion 2 di area bandara.
Petugas Pembimbing Ibadah PPIH Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Bandara, Anis Diyah Puspita

Anis memaparkan bahwa target utama yang harus dijaga oleh seluruh jemaah adalah menjaga kondisi fisik agar tetap prima saat menghadapi momentum paling krusial, yakni puncak haji saat wukuf di Arafah, Makkah. Pihaknya sangat menghindari skenario di mana jemaah kehabisan tenaga di awal perjalanan.

"Jangan sampai jemaah dituntut harus 40 waktu salat di Masjid Nabawi, justru ketika wukuf di Arafah pada saat puncak haji jemaah kelelahan dan sakit. Yang menjadi prioritas kita adalah kesehatan jemaah bisa melaksanakan puncak haji wukuf di Arafah dengan sehat walafiat," paparnya.

2. Ibadah di hotel tetap berpahala

Hotel tempat jemaah haji Indonesia menginap di Kota Suci Makkah, Arab Saudi (MCH/Kemenhaj RI)
Hotel tempat jemaah haji Indonesia menginap di Kota Suci Makkah, Arab Saudi (MCH/Kemenhaj RI)

Menyikapi euforia jemaah yang baru pertama kali tiba di Tanah Suci, jajaran pembimbing ibadah selalu mewanti-wanti di setiap kedatangan kloter agar jemaah cerdas dalam mengatur ritme aktivitas. Jika kondisi badan benar-benar sehat dan bugar, jemaah tentu dipersilakan mengoptimalkan ibadah di Masjid Nabawi. Namun, jika merasa lelah dan kurang fit, jemaah disarankan untuk menunaikan salat di hotel hingga kondisi fisiknya pulih.

Anis meyakinkan jemaah bahwa beribadah di area akomodasi sekitar Masjid Nabawi tetap memiliki nilai yang mulia. "Kadang jemaah ini mumpung ke Madinah, belum pernah haji atau berumrah penginnya terus salat di masjid. Kalau sehat enggak ada masalah, tapi kalau merasa lelah ya sudah salat saja di hotel. Insyaallah tetap berpahala," tandas Anis.

3. Anjuran medis mengatkan hal yang sama

Masjid Nabawi tampak megah dan tenang di malam hari dengan menara bercahaya menjelang puncak kedatangan jemaah haji.
Masjid Nabawi terlihat tenang pada malam hari menjelang puncak kedatangan jemaah haji, Selasa (21/04/2026) (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Imbauan tegas dari sisi pembimbing ibadah ini sejalan dengan peringatan medis yang sebelumnya juga diserukan oleh Petugas Tusi Kesehatan Daker Bandara PPIH Arab Saudi, dr. M. Kadhafi. Dari kacamata medis, memaksakan fisik secara ekstrem pasca-perjalanan jauh sangatlah berisiko.

Dokter Kadhafi sebelumnya menyoroti fenomena jemaah yang baru saja mendarat di Madinah dan langsung memaksakan diri berjalan ke Masjid Nabawi demi mengejar Arbain, tanpa memberikan jeda istirahat bagi tubuhnya. Ia sangat menyarankan agar jemaah senantiasa mengukur kemampuan dan kapasitas fisiknya masing-masing.

Bagi jemaah yang masih berusia muda dan merasa tubuhnya sangat fit, aktivitas di masjid mungkin dapat ditoleransi oleh tubuh. "Tapi kalau usia sudah tua ya baik bagusnya istirahatlah di hotel," pesan dr. Kadhafi secara spesifik merujuk pada perlindungan fisik jemaah lansia.

Sinergi imbauan dari tim pembimbing ibadah dan tim kesehatan ini diharapkan mampu menekan angka kelelahan ekstrem pada jemaah Indonesia. Dengan ritme ibadah yang terukur, seluruh tamu Allah diproyeksikan akan siap secara fisik dan spiritual saat menghadapi puncak haji di Arafah mendatang.

Share
Topics
Editorial Team
Yogie Fadila
EditorYogie Fadila
Follow Us

Related Articles

See More