Korut Kritik Uji Coba Rudal Jepang, Ancam Akan Balas

- Kim Yo Jong mengancam respons militer terhadap Jepang setelah uji rudal Tomahawk, sambil menuduh Tokyo dan Washington memicu ketegangan serta menghidupkan kembali militerisme.
- Jepang პირველად menguji Tomahawk dari kapal perusak Aegis Chokai di Pasifik, memperluas kemampuan serangan balik yang dinilai Pyongyang menempatkan Korea Utara dalam jangkauan.
- Buku putih pertahanan Jepang menetapkan China, Rusia, dan Korea Utara sebagai ancaman utama; Tokyo meningkatkan anggaran pertahanan hingga 2 persen PDB untuk modernisasi alutsista dan industri domestik.
Jakarta, IDN Times - Korea Utara (Korut) melayangkan ancaman militer kepada Jepang usai melakukan uji coba rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika Serikat (AS). Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, melalui media pemerintah KCNA pada Rabu (5/8/2026).
Kim menuduh Jepang sedang bertransformasi menjadi negara perang yang siap melakukan serangan preemtif. Pyongyang menilai langkah militer Tokyo telah melampaui batas pertahanan diri dan berpotensi merusak stabilitas kawasan Asia Pasifik.
1. Kim Yo Jong tuduh Jepang dan AS picu ketegangan

Kim Yo Jong menegaskan bahwa Korut tidak akan tinggal diam melihat perkembangan militer Jepang. Ia menyebut tindakan Tokyo sebagai bentuk kebangkitan militerisme yang mengancam keamanan negaranya.
Kim juga menuding AS berada di balik manuver berbahaya Jepang. Menurutnya, Washington sengaja memperkuat kapasitas militer sekutunya untuk menekan negara tetangga.
Ia menyebut kerja sama tersebut menjadikan Jepang dan Korea Selatan sebagai perpanjangan tangan militer AS di kawasan. Pyongyang berjanji akan mengambil tindakan balasan yang membuat Tokyo menyesali keputusannya.
2. Jepang uji coba rudal Tomahawk dari kapal perang

Kecaman Pyongyang dipicu oleh aksi Jepang yang melakukan uji coba rudal jelajah Tomahawk dari kapal perusak Aegis Chokai di Samudra Pasifik. Uji peluncuran ini menjadi yang pertama kalinya dilakukan dari atas kapal perang militer Jepang.
Kepemilikan rudal jarak jauh ini memberikan Jepang kemampuan untuk melakukan serangan balik ke markas musuh. Hal tersebut dinilai Korut telah menempatkan wilayahnya dalam jangkauan tembak militer Jepang.
Selain uji coba rudal, Jepang juga aktif mengikuti latihan militer bersama sekutunya di kawasan Pasifik. Pada Mei lalu, Pasukan Bela Diri Jepang terlibat dalam latihan militer gabungan yang dipimpin AS di Filipina.
Rangkaian aktivitas militer ini dianggap oleh pengamat sebagai upaya Jepang memperkuat pengaruh militernya di kawasan. Sementara itu, Pyongyang dinilai menggunakannya sebagai alasan untuk terus mengembangkan program persenjataannya sendiri.
3. Jepang tandai tiga negara sebagai ancaman utama

Sehari sebelum pernyataan Korut, Jepang merilis buku putih pertahanan terbarunya. Dokumen tahunan tersebut menetapkan China, Rusia, dan Korut sebagai ancaman keamanan utama bagi negara itu.
Pemerintah Jepang menegaskan pentingnya meningkatkan anggaran dan kapasitas militer. Tokyo mengalokasikan anggaran pertahanan hingga dua persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk modernisasi alutsista.
"Investasi di bidang pertahanan memberikan manfaat bagi perekonomian yang lebih luas dan kehidupan masyarakat," tulis Kementerian Pertahanan Jepang dalam dokumen presentasinya, dikutip dari CNN.
Dalam rencana tersebut, Jepang berencana memanfaatkan teknologi komersial, mendanai perusahaan rintisan, serta memperbanyak penggunaan drone. Langkah ini diambil untuk memperkuat industri pertahanan dalam negeri sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.




















