Dalam pernyataannya, Minggu (14/6/2026), Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Lebanon mengatakan Israel menggunakan herbisida glyphosate selama menyerang Hizbullah di wilayahnya. Itu merupakan jenis herbisida yang biasa digunakan petani lokal Lebanon untuk membasmi gulma di ladang mereka.
Lebanon Tuduh Israel Pakai Herbisida buat Serang Hizbullah

- Lebanon menuduh Israel menggunakan herbisida glyphosate sebagai senjata kimia terhadap Hizbullah, berdasarkan hasil uji laboratorium CNRS yang menemukan kadar tinggi di tiga desa perbatasan.
- Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam tindakan Israel sebagai pelanggaran hukum internasional dan kejahatan lingkungan, sementara Israel membantah tuduhan penggunaan zat kimia beracun tersebut.
- Meski ada kesepakatan damai AS-Iran, Israel masih melancarkan serangan ke Lebanon termasuk ke Beirut yang menewaskan tiga orang, memicu kecaman dari Sekjen PBB Antonio Guterres.
Jakarta, IDN Times - Lebanon menyebut Israel menggunakan pembasmi gulma atau herbisida sebagai senjata kimia selama berperang dengan Hizbullah. Tuduhan ini dilontarkan usai National Council for Scientific Research (CNRS), salah satu lembaga riset Lebanon, melakukan serangkaian tes laboratorium selama beberapa hari terakhir.
1. Israel menyemprotkan herbisida di wilayah perbatasan dengan Lebanon

Kemlu Lebanon menambahkan, Israel sengaja menyemprotkan herbisida glyphosate ke Hizbullah di area perbatasan kedua negara. Wilayah perbatasan yang dimaksud merujuk pada tiga desa, yakni Desa Aita al-Shaab, Ras Naqura, dan Dhayra. Dalam laporan CNRS, ada kandungan herbisida glyphosate yang sangat tinggi dalam tanah di ketiga desa tersebut.
Menurut Kemlu Lebanon, penggunaan herbisida glyphosate secara berlebihan akan merusak tanah. Oleh karena itu, dilansir The New Arab, penggunaan herbisida tersebut oleh Israel selama berperang dengan Hizbullah berpotensi merusak lahan-lahan pertanian yang ada di Lebanon.
2. Presiden Lebanon mengecam penggunaan herbisida oleh Israel

Penggunaan herbisida oleh Israel ini menuai kecaman dari Presiden Lebanon, Joseph Aoun. Ia menyebut tindakan itu melanggar hukum internasional. Sebab, senjata kimia telah dilarang penggunaannya dalam peperangan. "Ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Lebanon dan kejahatan terhadap lingkungan dan kesehatan," kata Aoun.
Dalam kesempatan lain, Pemerintah Israel membantah keras tuduhan yang dilontarkan Lebanon. Mereka mengaku sama sekali tidak pernah menggunakan zat kimia beracun, termasuk herbisida, selama berperang dengan Hizbullah. Oleh karena itu, Negara Yahudi itu menyebut tuduhan Lebanon tidak berdasar.
3. Israel masih menyerang Lebanon

Hingga saat ini, Israel masih melakukan serangan ke Lebanon untuk membasmi Hizbullah. Padahal, Lebanon sudah terlibat dalam kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran yang disetujui pada Minggu (14/6/2026). Dalam kesepakatan itu, Israel diwajibkan untuk berhenti menyerang Lebanon dengan alasan apa pun.
Serangan terbaru Israel ke Lebanon terjadi pada Minggu. Kala itu, Israel menyerang Ibu Kota Beirut hingga menewaskan 3 orang dan melukai 7 lainnya. Serangan ini dikecam oleh Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. Ia menyebut serangan itu mengganggu upaya perdamaian di Timur Tengah.
“Saya mengutuk keras serangan Israel hari ini di Beirut. Serangan itu terjadi meskipun ada gencatan senjata dan pada saat AS dan Iran diharapkan mencapai kesepakatan yang akan membuka jalan menuju penyelesaian damai konflik ini,” tulis Guterres di media sosial.

















