Jakarta, IDN Times - Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Ali Khamenei, menyebut nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang sudah ditandatangani bersama Amerika Serikat (AS) pada 17 Juni lalu sama sekali tidak berguna. Sebab, meski sudah ada MoU, AS hingga kini masih melakukan serangan ke Iran.
Mojtaba Khamenei Sebut MoU Perdamaian dengan AS Tak Berguna

- Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Ali Khamenei, menyebut MoU perdamaian dengan AS tidak berguna karena Washington tetap melancarkan serangan meski kesepakatan telah ditandatangani.
- Pemerintah Iran menangguhkan komitmen terhadap MoU dan menilai AS tidak serius mematuhi perjanjian, bahkan menyerang infrastruktur publik yang menunjukkan niat damai hanya retorika.
- Ketegangan terus berlanjut dengan saling serang antara AS dan Iran; serangan udara terbaru di Provinsi Hormozgan menewaskan warga sipil setelah Iran menyerang pangkalan militer AS di Yordania.
“Pelanggaran berulang kali oleh Setan Besar terhadap nota kesepahaman (perdamaian) sekali lagi membuktikan kepada semua orang betapa tidak berharga dan tidak dapat diandalkannya tanda tangan Presiden Amerika Serikat. Intimidasi, ambisi hegemonik, dan kebiadaban adalah unsur-unsur yang tidak terpisahkan dari cara hidup Amerika (Serikat),” tulis Khamenei dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (18/7/2026), seperti dilansir Jerusalem Post.
1. Iran menangguhkan komitmen terhadap MoU perdamaian dengan AS

Dalam kesempatan lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabad, menegaskan Iran akan menangguhkan komitmen terhadap MoU perdamaian dengan AS. Sebab, ia menganggap Washington juga tidak serius untuk mematuhi MoU perdamaian yang sudah disepakati dengan Teheran.
Gharibabad menambahkan, Iran juga tidak akan peduli lagi terhadap MoU dengan AS dan akan membalas setiap serangan yang mereka lakukan. Apalagi, Negeri Paman Sam kini sudah melakukan serangan terhadap infrastruktur publik yang ada di Iran. Ia menilai serangan AS terhadap infrastruktur sipil menunjukkan bahwa AS sebetulnya sama sekali tidak niat berdamai dengan Iran.
"AS telah memulai perang yang bertentangan dengan ketentuan MoU dan prinsip-prinsip internasional, yakni menghancurkan infrastruktur (milik Iran). Pihak AS kurang memiliki tekad, kemauan, dan niat serius agar kesepakatan apa pun berhasil yang pada gilirannya menunjukkan bahwa mereka tidak peduli dengan perdamaian dan stabilitas yang terbukti hanya retorika belaka. Intinya, tidak ada niat untuk perdamaian atau yang disebut kesepakatan. Niat dasarnya adalah untuk mendestabilisasi tanpa kesepakatan, dalam kesepakatan, atau melalui kesepakatan," ujar Gharibabad.
2. Ketua Parlemen Iran menyebut kesepakatan damai dengan AS batal

Sebelumnya, negosiator senior sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa MoU perdamaian dengan AS sudah dibatalkan. Ghalibaf menegaskan, Iran akan tetap melakukan serangan ke AS dan tidak akan melanjutkan negosiasi dengan mereka. Sebab, ia menilai negosiasi dengan Washington tidak berguna dan hanya buang-buang waktu.
“Iran berada dalam perang penting dan eksistensial dengan Amerika (Serikat) dan tidak punya alasan untuk terus mematuhi ketentuan perjanjian perdamaian tersebut,” tegas Ghalibaf dilansir Al Jazeera pada Rabu (15/7/2026).
Awalnya, negosiasi AS dan Iran dijadwalkan akan kembali digelar di Doha, Qatar, setelah upacara pemakaman eks Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, selesai pada 9 Juli. Namun, rencana tersebut urung terjadi karena Washington dan Teheran kembali terlibat bentrokan pada 11 Juli.
3. AS dan Iran masih saling serang hingga saat ini

Hingga saat ini, AS dan Iran masih saling serang. Serangan terakhir AS ke Iran terjadi pada Sabtu pagi waktu setempat. Kala itu, Komando Tengah (CENTCOM) militer AS meluncurkan serangan udara besar-besaran ke selatan Provinsi Hormozgan. Serangan tersebut dikabarkan telah menewaskan 3 orang dan melukai 8 lainnya.
Pada Sabtu siang, CENTCOM meluncurkan serangan kedua di provinsi yang sama. Namun, kala itu, tidak laporan tambahan korban jiwa. Kendati demikian, dua serangan AS di Provinsi Hormozgan ini telah merusak 2 jembatan dan 1 terowongan.
Serangan AS di Provinsi Hormozgan tadi dilakukan usai Iran menyerang pangkalan militer AS di Yordania pada Jumat (17/7/2026) lalu. Menurut laporan Far News Agency, serangan tersebut menewaskan dua tentara AS yang sedang bertugas.






















