Mulai Nyerah, Trump Isyaratkan Ingin Akhiri Konflik dengan Iran

- Donald Trump mempertimbangkan untuk mengakhiri konflik dengan Iran meski Selat Hormuz masih diblokade, menandakan perubahan strategi dalam kebijakan militernya.
- Fokus operasi militer AS kini bergeser pada pelemahan kemampuan rudal dan angkatan laut Iran, bukan lagi pembukaan Selat Hormuz sebagai target utama.
- Trump menegaskan kesepakatan diplomatik dengan Iran bukan prioritas, selama negara itu tidak mampu mengembangkan senjata nuklir di masa mendatang.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu dekat. Keputusan itu berpotensi diambil meski jalur vital perdagangan minyak dunia, Selat Hormuz, masih diblokade Teheran.
Informasi tersebut diungkap sumber di pemerintahan AS yang menyebut Trump telah menyampaikan pandangannya kepada para penasihat. Dalam pertimbangannya, membuka Selat Hormuz tidak lagi menjadi syarat utama untuk menghentikan konflik.
Pertimbangan ini muncul setelah Washington menyadari upaya membuka jalur tersebut membutuhkan waktu lebih lama dari rencana awal operasi militer. Di sisi lain, perang yang telah berlangsung lebih dari satu bulan ini mulai mendekati batas waktu yang sebelumnya ditetapkan oleh pemerintah AS.
1. Target saat ini lemahkan militer Iran

Sumber di pemerintahan AS menyebut, fokus utama Trump saat ini adalah melemahkan kemampuan militer Iran, khususnya sistem rudal dan kekuatan angkatan lautnya. Langkah ini dinilai lebih realistis dibandingkan memaksakan pembukaan Selat Hormuz dalam waktu singkat. Apalagi, jalur tersebut merupakan salah satu titik paling strategis dan sensitif dalam konflik.
Trump disebut telah menyimpulkan misi membuka selat akan memakan waktu lebih panjang dari target perang yang dipatok sekitar empat hingga enam pekan.
Dengan kondisi tersebut, prioritas operasi militer pun bergeser. Washington lebih memilih memastikan ancaman utama dari Iran dapat ditekan sebelum mempertimbangkan langkah lanjutan.
Pendekatan ini sekaligus menunjukkan kontrol atas jalur perdagangan global tidak lagi menjadi satu-satunya indikator keberhasilan operasi.
2. Konflik mendekati batas waktu operasi

Serangan militer yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran dimulai pada 28 Februari. Artinya, konflik telah memasuki lebih dari empat pekan sejak dimulai. Dengan batas waktu operasi yang diperkirakan enam pekan, AS kini berada di fase akhir dari rencana militernya.
Trump sendiri sebelumnya memberi sinyal operasi ini tidak akan berlangsung lama. Ia bahkan menyebut waktu penyelesaian perang bisa lebih cepat dari perkiraan awal.
“Kami sedang menyelesaikan pekerjaan ini, dan saya rasa mungkin dalam waktu dua atau tiga pekan,” kata Trump, dilansir dari Al Jazeera, Rabu (1/4/2026).
Pernyataan tersebut memperkuat indikasi AS tidak berniat memperpanjang konflik, meski sejumlah target strategis belum sepenuhnya tercapai.
3. Kesepakatan tak lagi jadi prioritas

Selain soal durasi perang, Trump juga menegaskan kesepakatan dengan Iran bukan lagi fokus utama pemerintahannya. Ia menyebut, tujuan utama AS adalah memastikan Iran tidak memiliki kemampuan mengembangkan senjata nuklir.
“Mereka tidak perlu membuat kesepakatan dengan saya,” ujar Trump.
Lebih lanjut, ia menegaskan, keberhasilan operasi tidak bergantung pada tercapainya kesepakatan diplomatik.
“Ketika kami merasa bahwa mereka untuk jangka waktu lama terjebak di zaman batu, tidak akan mampu menciptakan senjata nuklir, maka kami akan pergi,” katanya.
“Terlepas dari apakah kami mencapai kesepakatan atau tidak, itu tidak relevan,” lanjutnya.



















