Musim Panas AS Kali Ini Jadi yang Terpanas dalam 132 Tahun

- NOAA mencatat musim panas AS Juni–Agustus sebagai yang terpanas dalam 132 tahun, dengan suhu rata-rata 23,6 derajat Celsius, melampaui rekor 1936 dan 2021.
- Agustus memicu rekor panas melalui suhu rata-rata 24,2 derajat Celsius; kekeringan meluas hingga 59,1 persen wilayah AS, mengancam air dan meningkatkan kebakaran hutan.
- Curah hujan nasional di bawah rata-rata dan timpang antarwilayah; NOAA memperkirakan panas berlanjut pada September, sementara WMO memprediksi El Niño berpotensi menguat hingga awal 2027.
Jakarta, IDN Times – Musim panas tahun ini mencetak rekor baru sebagai periode terpanas dalam 132 tahun sejarah pencatatan cuaca Amerika Serikat (AS). Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) melaporkan suhu rata-rata nasional pada Juni hingga Agustus mencapai 23,6 derajat Celsius, atau 0,2 derajat Celsius lebih tinggi dari rekor 1936 dan 2021 serta 1,7 derajat Celsius di atas rata-rata abad ke-20.
Rekor tersebut terutama dipicu oleh lonjakan suhu pada Agustus yang menjadi bulan terpanas dengan rata-rata 24,2 derajat Celsius dan suhu siang hari menyentuh 31,4 derajat Celsius. Perpaduan panas ekstrem, distribusi hujan yang tak merata, serta kekeringan luas berdampak langsung pada penyusutan cadangan air dan ancaman kebakaran hutan.
1. Sejumlah wilayah AS catat suhu Agustus tertinggi

ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Cara Denison) Kondisi panas ekstrem meluas ke wilayah Barat, Barat Daya, Rockies selatan, Plains barat daya, hingga Semenanjung Florida bagian selatan. California, Nevada, New Mexico, dan Colorado mencatat Agustus terpanas sepanjang sejarah, sementara Arizona menyamai rekor musim panas terpanasnya. Bahkan, suhu malam hari pada Agustus juga mencapai titik tertinggi di Arizona, California, Colorado, Nevada, New Mexico, dan Utah.
Rangkaian rekor ini memicu gelombang panas, kebakaran hutan, hingga krisis pasokan air di sejumlah wilayah. Pemantau Kekeringan AS mencatat cakupan area yang mengalami kekeringan telah mencapai 59,1 persen wilayah AS pada awal September. Angka ini melonjak lebih dari 10 poin persentase hanya dalam kurun satu bulan.
2. Curah hujan AS berada di bawah rata-rata

ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Oleksandr P) Di tengah suhu ekstrem, curah hujan nasional secara keseluruhan masih berada di bawah rata-rata dengan total 20,6 sentimeter. Ketimpangan kondisi antarwilayah terlihat makin kentara pada Agustus. Dilansir CBS News, ketika Indiana dan Ohio mencatat bulan terbasah sepanjang sejarah, Texas dan Oklahoma justru menerima kurang dari 30 persen curah hujan normal yang mendekati rekor terendah, sementara California mengalami musim panas terkering sejak 2002.
NOAA memperkirakan suhu di atas normal masih akan terus berlangsung sepanjang September. Sejumlah wilayah diproyeksikan tetap kering atau bahkan mengalami kondisi yang kian memburuk. Di sisi lain, wilayah Barat Laut, Midwest, dan Selatan menghadapi risiko kebakaran hutan yang jauh lebih tinggi.
3. WMO prediksi El Niño menguat hingga 2027

ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Eric Garcia) Kondisi ini berkaitan erat dengan tren pemanasan global jangka panjang, di mana empat dari lima musim panas terpanas di AS terjadi dalam lima tahun terakhir akibat pembakaran bahan bakar fosil. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) turut memprediksi fenomena El Niño di Samudera Pasifik berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dan bertahan hingga awal 2027.
Kepala WMO Celeste Saulo menyampaikan kekhawatirannya terkait lonjakan suhu global ini kepada awak media. Ia menyoroti laju kenaikan suhu yang kian mengkhawatirkan dari waktu ke waktu.
“Jika lintasan ini berlanjut, itu mungkin lebih kuat daripada apa pun sejak pemantauan kami dimulai – jadi secara harfiah di luar grafik yang telah kami gunakan selama empat dekade terakhir,” katanya, dikutip Al Jazeera.






















