Negosiasi Damai Tahap Dua Israel-Lebanon Digelar Pekan Ini

- Negosiasi damai tahap dua antara Israel dan Lebanon dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat pada 23 April 2026, difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri AS.
- Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan kelanjutan negosiasi dengan Israel demi menghentikan serangan dan melindungi rakyat, meski mendapat penolakan keras dari Hizbullah.
- Serangan Israel sejak awal Maret telah menewaskan 2.294 orang di Lebanon dan memaksa lebih dari 1,2 juta warga mengungsi, sementara PBB mengecam aksi tersebut karena menghambat perdamaian regional.
Jakarta, IDN Times - Negosiasi perdamaian antara Israel dan Lebanon dikabarkan bakal kembali dihelat di Amerika Serikat pada Kamis (23/4/2026) waktu AS atau Jumat (24/4/2026) waktu Indonesia pekan ini. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Kementerian Luar Negeri AS pada Senin (20/4/2026).
“Amerika Serikat menyambut baik keterlibatan produktif yang dimulai pada 14 April. Kami akan terus memfasilitasi diskusi langsung (antara Israel dan Lebanon) dengan itikad baik antara kedua pemerintah,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS yang tidak disebut namanya kepada Al Jazeera.
1. Israel dan Lebanon sudah menggelar negosiasi damai pada pekan lalu

Sebelumnya, Israel dan Lebanon sudah menggelar negosiasi damai pada 14 April pekan lalu. Negosiasi tersebut menghasilkan kesepakatan gencatan senjata sepuluh hari di antara kedua pihak.
Proses negosiasi tahap pertama yang dilakukan Israel dan Lebanon pekan lalu sempat menuai kecaman dari milisi Hizbullah. Sebab, mereka menilai negosiasi tersebut sama saja menunjukkan bahwa Lebanon menyerah terhadap Israel.
“Kami menolak negosiasi dengan entitas pendudukan Israel. Negosiasi ini sia-sia. Negosiasi ini membutuhkan konsensus Lebanon untuk mengubah arah,” kata Ketua Hizbullah, Naim Qassem, pada pekan lalu.
2. Presiden Lebanon ingin tetap melanjutkan negosiasi dengan Israel

Kendati begitu, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menegaskan akan tetap melakukan negosiasi dengan Israel. Sebab, ini bertujuan agar serangan Israel di Lebanon bisa dihentikan secara permanen. Terlebih, serangan Israel di Lebanon yang dilakukan sejak 2 Maret sudah menewaskan ribuan jiwa.
“Negosiasi ini bukanlah kelemahan. Ini bukan kemunduran. Ini bukan konsesi,” kata Aoun dalam pidato yang disiarkan stasiun televisi Lebanon merespons kecaman dari Hizbullah.
“Keputusan ini lahir dari keyakinan kuat kami akan hak-hak kami dan kepedulian kami terhadap rakyat kami serta tanggung jawab kami untuk melindungi negara kami dengan segala cara yang memungkinkan,” lanjutnya.
3. Serangan Israel di Lebanon sudah menewaskan 2.294 orang

Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 2.294 orang. Sementara itu, 7.544 orang lainnya mengalami luka-luka. Di sisi lain, lebih dari 1,2 juta orang di Lebanon juga terpaksa mengungsi ke tempat aman untuk menghindari serangan Israel.
Serangan Israel ke Lebanon ini sudah dikecam oleh banyak pihak, terutama oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB menilai serangan tersebut mengganggu upaya perdamaian di Timur Tengah dan gencatan senjata antara AS dan Iran.
“Dengan pengumuman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, aktivitas militer yang sedang berlangsung di Lebanon menimbulkan risiko serius terhadap gencatan senjata dan upaya menuju perdamaian yang langgeng dan komprehensif di kawasan tersebut. Sekretaris Jenderal kembali menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan,” bunyi pernyataan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, yang dirilis pada 8 April.

















