Norwegia Kirim Tentara dan Sistem NASAMS ke Perbatasan Rusia

- Norwegia mengerahkan 30 personel militer dan sistem pertahanan udara NASAMS ke Kirkenes, perbatasan Rusia, menyusul meningkatnya ketegangan serta insiden drone di kawasan NATO.
- Pasukan akan berada di bawah batalion infanteri garnisun Sor-Varanger hingga akhir tahun dan bekerja sama dengan polisi serta masyarakat lokal untuk memperkuat pertahanan perbatasan.
- Hubungan Rusia-Norwegia turut memanas setelah Rusia memanggil kuasa usaha Norwegia terkait penyitaan aset negara dan kapal penelitian Professor Molchanov atas permintaan Ukraina.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Pertahanan Norwegia pada Rabu (4/11/2026), menerjunkan pasukan tambahan dan sistem pertahanan udara NASAMS, ke Kirkenes, perbatasan Rusia. Keputusan ini menyusul ketegangan antara Norwegia dan Rusia.
Beberapa bulan terakhir, drone dari Ukraina sudah masuk ke wilayah udara negara-negara Baltik. Drone Ukraina tersebut berubah arah dan menyasar ke wilayah udara negara anggota NATO disebabkan oleh perangkat elektronik Rusia.
1. Norwegia persiapkan keamanan dengan serius

Ilustrasi bendera Norwegia (unsplash.com/eyeswashere) Menteri Pertahanan Norwegia, Tore O. Sandvik mengatakan bahwa pemerintahannya sudah melihat serangkaian drone masuk ke negara lain. Alhasil, ia memutuskan untuk mengambil langkah serius dalam mendongkrak pertahanan Norwegia.
Dilansir United24, Norwegia mengerahkan unit militer yang terdiri dari 30 personel untuk mengamankan pintu perbatasan Kirkenes. Unit militer itu nantinya akan berada di bawah batalion infantri garnisun Sor-Varanger hingga akhir tahun ini.
Ia menekankan bahwa Norwegia harus belajar dari invasi skala besar Rusia ke Ukraina. Dari itu, dapat diambil pelajaran terkait pentingnya peringatan dini dan memahami betul akan situasi terkini.
2. Militer akan bekerja sama dengan polisi lokal

ilustrasi bendera Norwegia (pexels.com/@barnabas-davoti) Pada saat yang sama, Menteri Keadilan dan Keamanan Publik Norwegia, Astri Aas-Hansen menyampaikan bahwa tentara akan bekerja sama dengan polisi dan tokoh masyarakat lokal. Langkah ini untuk memastikan pertahanan komprehensif di area perbatasan bersama dengan warga sipil.
Dilansir High North News, polisi akan bertanggung jawab dalam memberitahu dan mencegah adanya drone yang masuk ke area perbatasan. Sedangkan personel militer akan membantu polisi yang meminta bantuan sehingga keduanya dapat menetapkan pembatasan wilayah udara jika diperlukan.
3. Rusia protes Norwegia soal penyitaan kapal dan properti negara

ilustrasi bendera Rusia (pixabay.com/fotiniya) Beberapa bulan terakhir, hubungan Rusia dan Norwegia semakin memanas. Pada Selasa (3/11/2026), Rusia memanggil kuasa usaha Norwegia di Moskow untuk menjelaskan terkait penyitaan aset milik negaranya dan sebuah kapal penelitian atas permintaan Ukraina.
Kementerian Luar Negeri Rusia, dilansir The Moscow Times, mengatakan bahwa kapal Professor Molchanov itu berfungsi sebagai alat transportasi personel dan suplai untuk pertambangan batu bara di Svalbard. Kapal itu jadi transportasi utama pekerja setelah ditutupnya penerbangan imbas sanksi Barat.






















