Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Prakiraan 2026 Berpeluang Besar Jadi Tahun Terpanas Kedua di Bumi

3 min read
Prakiraan 2026 Berpeluang Besar Jadi Tahun Terpanas Kedua di Bumi
ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Lukas)
  • C3S memperkirakan 2026 hampir pasti melampaui pemanasan 1,5°C dan berpeluang besar menjadi tahun terpanas kedua, dengan peluang 20 persen menyamai atau melampaui rekor 2024.
  • Oktober 2026 menjadi Oktober terpanas global; suhu laut nonkutub dan wilayah Nino 3.4 juga mencetak rekor, didorong El Nino kuat serta pemanasan akibat aktivitas manusia.
  • Data Copernicus dirilis menjelang COP31 di Turki, setelah banjir, gelombang panas, kebakaran hutan, kekeringan sungai, dan banjir Eropa terjadi sepanjang tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Suhu rata-rata global sepanjang 2026 dinyatakan hampir pasti melampaui ambang pemanasan 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa (C3S) menyampaikan keterangan tersebut melalui buletin bulanannya pada Jumat (6/11/2026).

Prediksi statistik berdasarkan data hingga Oktober menunjukkan bahwa 2026 kemungkinan besar menempati peringkat kedua tahun terhangat dalam catatan sejarah. Namun, tahun ini masih memiliki peluang sekitar 20 persen untuk menyamai atau bahkan melampaui 2024, yang saat ini berstatus sebagai tahun terpanas yang pernah ada.

  1. 1. Peluang melampaui ambang batas perjanjian Paris

    ilustrasi termometer
    ilustrasi termometer (unsplash.com/Immo Wegmann)

    C3S memperkirakan rata-rata suhu global selama rentang empat tahunan dari 2023 hingga 2026 akan melampaui angka 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Menurut laporan AFP, batas 1,5 derajat Celsius tersebut merupakan batas yang diutamakan dalam Perjanjian Paris guna mencegah dampak terburuk perubahan iklim.

    Bulan Oktober 2026 tercatat sebagai bulan Oktober terpanas di dunia dengan suhu udara permukaan rata-rata 1,75 derajat Celsius di atas era pra-industri periode 1850–1900. Capaian pada bulan tersebut sekaligus menandai bulan ketiga berturut-turut di mana suhu global berada di atas ambang 1,5 derajat Celsius.

  2. 2. Kenaikan suhu laut dan intensitas El Nino

    ilustrasi laut
    ilustrasi laut (pexels.com/Sindre Fs)

    Dilansir Xinhua, suhu permukaan laut rata-rata di luar wilayah kutub mencapai 20,95 derajat Celsius pada Oktober, melampaui rekor Oktober sebelumnya yang dicetak pada 2023. Seiring menguatnya kondisi El Nino, suhu permukaan laut bulanan di wilayah Nino 3.4 Samudra Pasifik tropis mencatat rekor sebesar 29,94 derajat Celsius.

    Mengutip laporan kantor berita AFP, pimpinan strategis untuk iklim di European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF), Samantha Burgess, memberikan keterangan resminya. "Oktober terus menunjukkan tren pemanasan global yang luar biasa, dengan suhu global dan suhu permukaan laut yang mencapai rekor tertinggi," kata Burgess.

    Burgess juga menegaskan faktor pendorong peningkatan suhu yang sedang berlangsung saat ini. "El Nino yang luar biasa kuat memberikan tambahan panas pada iklim yang sudah dihangatkan oleh aktivitas manusia," tutur dia.

  3. 3. Kondisi ekstrem dunia jelang KTT COP31

    ilustrasi cuaca panas
    ilustrasi cuaca panas (pexels.com/ClickerHappy)

    Rilis data iklim dari Copernicus keluar saat negara-negara bersiap menghadiri konferensi tingkat tinggi iklim PBB COP31 selama dua pekan di Turki pada Senin mendatang. Pertemuan ini berlangsung setelah dunia mengalami banjir mematikan di Nepal, gelombang panas menyengat di Eropa, dan kebakaran hutan besar di Indonesia sepanjang tahun.

    Benua Eropa mencatatkan Oktober terpanas kedua dalam catatan sejarah, dengan anomali suhu tertinggi berada di wilayah Eropa timur dan Skandinavia. Aliran air sungai yang luar biasa rendah terjadi di Eropa tengah dan timur seperti Sungai Rhine, Danube, dan Vistula, sementara curah hujan lebat dan banjir melanda beberapa negara lain di kawasan Eropa tersebut.

    Peramal cuaca global memperingatkan bahwa fenomena El Nino diperkirakan baru mencapai puncaknya pada akhir tahun ini dan berpotensi menjadi yang terkuat yang pernah diamati. Siklus alami ini menaikkan suhu laut Pasifik secara sementara, memperburuk pemanasan akibat manusia, serta diproyeksikan dapat membantu menjadikan 2027 sebagai tahun terpanas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More