PBB: Fasilitas Kesehatan Dunia Masih Kekurangan Sanitasi Dasar

- Laporan WHO dan UNICEF mencatat hanya 40 persen fasilitas kesehatan global memenuhi sanitasi dasar pada 2025, sementara 11 persen tidak memiliki fasilitas sanitasi sama sekali.
- Kesenjangan antarwilayah terlihat tajam: Afrika Sub-Sahara hanya mencapai 23 persen fasilitas dengan sanitasi dasar, dibandingkan Asia Tengah dan Asia Selatan sebesar 55 persen.
- Selain sanitasi, kebersihan lingkungan baru terpenuhi di 59 persen fasilitas kesehatan; 18 persen fasilitas yang melayani 1,5 miliar orang tidak memenuhi standar pembersihan.
Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis laporan mengenai ketersediaan sarana kebersihan di fasilitas medis pada Selasa (18/8/2026). Laporan WHO dan UNICEF tersebut menunjukkan mayoritas layanan kesehatan dunia masih kekurangan fasilitas sanitasi dasar.
Kondisi minimnya akses kebersihan berpotensi membahayakan keselamatan pasien dan tenaga medis. PBB pun mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk segera membenahi sarana sanitasi di setiap fasilitas kesehatan.
1. Standar sanitasi dasar belum terpenuhi secara global
Laporan WHO dan UNICEF mencatat hanya 40 persen fasilitas kesehatan di dunia yang memenuhi standar sanitasi dasar pada 2025. Sementara itu, 11 persen sarana kesehatan tidak memiliki fasilitas sanitasi sama sekali. Kondisi ini berdampak langsung pada 936 juta masyarakat yang membutuhkan perawatan medis.
Standar sanitasi dasar mewajibkan ketersediaan toilet terawat, pemisah toilet staf, sarana kebersihan menstruasi, dan akses ramah disabilitas. Meski 89 persen fasilitas medis memiliki toilet, sebagian besar belum memenuhi kriteria inklusif tersebut.
"Temuan ini menunjukkan kemajuan penting, tetapi juga mengungkap kesenjangan besar dalam fondasi perawatan yang aman," kata Kepala Unit Air, Sanitasi, dan Kesehatan WHO, Bruce Gordon, dilansir The New Indian Express.
2. Ketimpangan akses sanitasi medis antarwilayah
Data dari 70 negara menunjukkan jurang pemisah yang tajam antarwilayah terkait ketersediaan sanitasi medis. Kawasan Afrika Sub-Sahara mencatat capaian terendah, dengan hanya 23 persen fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan sanitasi dasar.
Capaian tersebut berbanding jauh dengan wilayah Asia Tengah dan Asia Selatan yang mencapai 55 persen. Keterbatasan anggaran di negara-negara kurang berkembang membuat jutaan masyarakat terpaksa berobat di sarana kesehatan yang tidak higienis.
"Tanpa layanan air dan sanitasi dasar, fasilitas kesehatan dapat menimbulkan risiko serius bagi ibu melahirkan dan bayi baru lahir," kata Direktur Air, Sanitasi, dan Higiene UNICEF, Evariste Kouassi Komlan.
3. Kebersihan lingkungan rumah sakit belum optimal
Laporan PBB turut mengevaluasi empat indikator penting lainnya di fasilitas medis. Sebanyak 85 persen fasilitas memiliki layanan air dasar, 72 persen menyediakan sarana kebersihan tangan, dan 71 persen mengelola limbah medis dengan baik.
Namun, indikator kebersihan lingkungan baru dicapai oleh 59 persen fasilitas kesehatan di seluruh dunia. Bahkan, 18 persen fasilitas medis yang melayani 1,5 miliar jiwa sama sekali tidak memenuhi standar pembersihan lingkungan.
"Air bersih, sanitasi terjangkau, dan pengelolaan limbah yang aman harus diintegrasikan ke dalam perencanaan kesehatan," kata Kepala Unit Air, Sanitasi, dan Kesehatan WHO, Bruce Gordon.




















