Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pejabat Israel dan Suriah Bertemu di Yordania untuk Cegah Konflik

Pejabat Israel dan Suriah Bertemu di Yordania untuk Cegah Konflik
ilustrasi bendera Yordania (unsplash.com/Yazan obeidat)
  • Kepala Mossad Israel Roman Gofman dan Menlu Suriah Asaad al-Shaibani bertemu rahasia di Yordania, dimediasi AS, untuk meredakan ketegangan setelah serangan Israel.
  • Perundingan membahas penghentian operasi militer, penghidupan kembali perjanjian keamanan, serta usulan ruang operasi di Yordania di bawah pengawasan AS untuk mencegah bentrokan.
  • Israel menuntut pembatasan militer Suriah dan zona demiliterisasi Golan, sementara Suriah menuntut penarikan pasukan Israel setelah serangan terhadap Pangkalan Abu al-Duhur dan target lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kepala badan intelijen Israel (Mossad), Roman Gofman, menggelar pertemuan rahasia dengan Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, di Yordania pada Minggu (23/8/2026). Pertemuan yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) ini bertujuan meredakan eskalasi konflik antara kedua negara setelah serangan udara militer Israel ke pangkalan udara Suriah.

Perundingan tersebut turut dihadiri oleh kepala dinas intelijen umum serta intelijen militer Suriah guna membahas kelanjutan dialog keamanan. Pemerintah AS mendorong dialog ini agar ketegangan di kawasan tidak meluas menjadi konfrontasi militer terbuka.

  1. 1. Fokus membahas mekanisme penghentian operasi militer

    tentara Suriah menjaga pos keamanan
    tentara Suriah menjaga pos keamanan (U.S. Army photo by Staff Sgt. Fred Brown, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Pertemuan di Yordania berfokus merumuskan mekanisme praktis untuk menghentikan serangan udara dan operasi militer Israel di wilayah Suriah. Selain itu, kedua pihak berupaya menghidupkan kembali perundingan perjanjian keamanan yang sempat tertunda sejak awal tahun.

    Salah satu poin penting yang dibahas adalah usulan pendirian ruang operasi khusus di Yordania di bawah pengawasan AS. Fasilitas komunikasi ini dirancang untuk mencegah terjadinya bentrokan bersenjata di wilayah Suriah, termasuk mengelola potensi gesekan antara Israel dan Turki.

    Sebelumnya, Suriah dan Israel sempat menyepakati draf perjanjian keamanan pada awal tahun mengenai pembagian zona keamanan di perbatasan. Namun, proses implementasi kesepakatan tersebut terhenti setelah pecahnya perang dengan Iran serta rentetan serangan udara terbaru.

    "Kami percaya harus ada kontak, terutama dengan pihak yang terus-menerus mengancam keamanan Suriah. Namun jika kontak ini tidak membawa hasil, maka kami tidak membutuhkannya," kata Asaad al-Shaibani, dilansir Jerusalem Post.

  2. 2. Israel-Suriah saling mengajukan tuntutan

    pasukan Israel di perbatasan Suriah
    pasukan Israel di perbatasan Suriah (Israel Defense Forces, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)

    Pihak Israel menetapkan sejumlah tuntutan dalam perundingan dengan pemerintah Suriah. Tel Aviv melarang segala bentuk aktivitas militer Turki di wilayah Suriah dan menuntut agar wilayah Dataran Tinggi Golan sisi Suriah tetap menjadi zona demiliterisasi.

    Israel juga menuntut pembatasan kepemilikan sistem persenjataan strategis bagi militer Suriah serta jaminan keamanan bagi komunitas Druze. Selain itu, militer Israel hanya bersedia menarik pasukannya dari zona penyangga jika terdapat capaian diplomatik nyata.

    Di sisi lain, delegasi Suriah menegaskan kedaulatan negaranya untuk membangun kembali angkatan bersenjata dan menentukan aliansi internasional secara mandiri. Damaskus menolak segala usulan kesepakatan yang dapat membatasi hak tersebut.

    Suriah memprioritaskan penarikan penuh pasukan Israel ke batas wilayah sebelum runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024 serta pemulihan perjanjian penarikan pasukan 1974. Terkait status Dataran Tinggi Golan, Damaskus menegaskan wilayah itu milik Suriah, tetapi pembicaraan status akhirnya dinilai masih terlalu dini untuk dibahas.

  3. 3. Israel serang pangkalan udara Suriah

    jet F-35I milik Israel
    jet F-35I milik Israel. (commons.wikimedia.org/U.S Air Force)

    Ketegangan antara kedua negara meningkat menyusul serangan udara Israel ke Pangkalan Udara Abu al-Duhur di barat laut Suriah. Israel menjatuhkan sedikitnya delapan bom ke landasan pacu dan hanggar pangkalan tersebut untuk menggagalkan dugaan penempatan sistem radar dan pasukan militer Turki.

    Pemerintah Suriah dan Turki membantah tuduhan pengerahan pasukan di pangkalan udara tersebut. Damaskus menjelaskan bahwa kehadiran perwira militer Turki sebelumnya hanya bagian dari kerja sama pelatihan dan pertukaran keahlian biasa.

    Eskalasi kembali terjadi setelah serangan pesawat nirawak (drone) Israel menyasar sebuah target di barat daya Suriah sehari sebelum pertemuan di Yordania berlangsung. Militer Israel berdalih serangan tersebut menargetkan kombatan yang sedang merencanakan aksi penyerangan ke wilayah perbatasan.

    "Deeskalasi tidak bisa menjadi tanggung jawab satu pihak saja. Israel juga harus menilai kembali kebijakannya terhadap Suriah," tutur al-Shaibani, dilansir Axios.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More