Protes Kematian Khamenei di Pakistan Tewaskan 22 Orang

- Gelombang protes besar melanda Pakistan setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara AS-Israel, menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai puluhan lainnya di berbagai kota.
- Bentrokan paling parah terjadi di Karachi dan Gilgit-Baltistan, dengan massa menyerbu konsulat AS serta kantor PBB, memicu tindakan keras aparat dan pemberlakuan jam malam lokal.
- Pemerintah Pakistan mengecam keras pembunuhan Khamenei, menyebutnya pelanggaran hukum internasional, sambil menyerukan ketenangan nasional dan mengirim belasungkawa resmi kepada rakyat Iran.
Jakarta, IDN Times- Gelombang protes kekerasan melanda berbagai wilayah Pakistan pada Minggu (1/3/2026) menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Demonstrasi yang menargetkan fasilitas diplomatik Amerika Serikat (AS) dan perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut berujung pada bentrokan mematikan dengan aparat keamanan.
Sedikitnya 22 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya luka-luka di seluruh negeri. Khamenei sendiri tewas akibat serangan udara gabungan antara AS dan Israel di Teheran. Mayoritas pedemo berasal dari komunitas Muslim Syiah Pakistan yang marah atas keterlibatan Washington dalam operasi militer tersebut.
1. Massa serbu konsulat AS di Karachi

Bentrokan paling mematikan terjadi di Karachi, kota terbesar di Pakistan. Ratusan demonstran berkumpul di Jalan Mai Kolachi dan berusaha menerobos masuk ke kompleks Konsulat AS. Sekelompok pemuda berhasil memanjat gerbang utama dan merusak jendela bangunan utama. Massa pro-Iran juga dilaporkan menyalakan api di area resepsionis konsulat tersebut.
Aparat keamanan langsung merespons dengan menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan kerumunan. Ahli bedah kepolisian setempat, Summaiya Syed, mengonfirmasi jumlah korban sipil yang jatuh dalam insiden tersebut.
"Sedikitnya 10 orang tewas dan 60 terluka dalam bentrokan ini," ungkap Summaiya Syed, dilansir Al Jazeera.
2. Bentrokan meluas hingga ibu kota dan Gilgit-Baltistan

Situasi serupa juga terjadi di ibu kota Islamabad dengan sekitar delapan ribu orang berunjuk rasa di dekat Zona Merah. Area dengan penjagaan ketat ini merupakan lokasi gedung parlemen dan berbagai kedutaan besar asing.
Pasukan keamanan menembakkan gas air mata setelah massa mencoba merangsek maju menuju Kedutaan Besar AS. Pihak rumah sakit Poly Clinic pemerintah menerima dua korban jiwa dan merawat 35 orang yang terluka akibat tembakan peluru karet.
Sementara itu, kerusuhan parah melanda wilayah utara Gilgit-Baltistan yang memiliki populasi Syiah yang signifikan. Demonstran di Distrik Skardu membakar kantor Kelompok Pengamat Militer PBB serta merusak sejumlah kendaraan di sekitarnya. Sebanyak 10 orang pengunjuk rasa dilaporkan tewas dalam konfrontasi dengan aparat keamanan di dua wilayah Gilgit-Baltistan. Pemerintah daerah akhirnya memberlakukan jam malam selama tiga hari di Skardu untuk mengendalikan situasi.
3. Pakistan kecam pembunuhan Khamenei

Perdana Menteri (PM) Pakistan, Shehbaz Sharif, secara terbuka mengecam serangan udara terhadap Teheran. Ia menilai pembunuhan kepala negara tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Pemimpin Pakistan itu juga menyampaikan belasungkawa mendalam kepada rakyat Iran melalui media sosial resminya. Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, turut meminta warganya untuk tetap tenang menghadapi situasi ini.
"Setelah kesyahidan Ayatollah Khamenei, setiap warga Pakistan bersedih sama seperti warga Iran," tutur Mohsin Naqvi, dilansir Al Jazeera.
Kedutaan Besar AS di Islamabad saat ini terus memantau laporan demonstrasi di berbagai kota. Washington telah menginstruksikan warganya di Pakistan untuk menghindari kerumunan besar demi menjaga keselamatan pribadi.
















.jpg)
