Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Retaknya Hubungan Trump-Netanyahu, Seberapa Serius?

Retaknya Hubungan Trump-Netanyahu, Seberapa Serius?
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (kiri) (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Trump meminta Netanyahu menarik pasukan Israel dari Suriah dan Lebanon untuk meredakan ketegangan, menandai adanya keretakan dalam hubungan kedua pemimpin yang sebelumnya sangat dekat.
  • Ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel bukan hal baru; sejarah mencatat beberapa kali Washington menekan Tel Aviv meski tetap mempertahankan aliansi strategis dan bantuan militer besar.
  • Meskipun terjadi gesekan politik, kerja sama pertahanan kedua negara diperkirakan tetap kuat, namun dukungan Trump terhadap Netanyahu kini tidak lagi bersifat tanpa syarat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Hubungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah menjadi sorotan setelah muncul laporan Washington meminta Israel menarik pasukannya dari Suriah dan Lebanon.

Laporan Axios menyebut, Trump secara langsung meminta Netanyahu mengurangi kehadiran militer Israel di kedua negara sebagai bagian dari upaya Amerika Serikat meredakan ketegangan kawasan dan mencegah konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Meski belum dikonfirmasi secara resmi oleh Gedung Putih maupun pemerintah Israel, permintaan tersebut memperkuat sejumlah indikasi bahwa hubungan kedua pemimpin yang selama ini dikenal sangat dekat mulai mengalami gesekan.

Dikutip dari Anadolu, Minggu (19/7/2026), pengamat menilai perbedaan pandangan mengenai gencatan senjata dengan Iran hingga operasi militer Israel di Lebanon menjadi pemicu utama memburuknya hubungan Washington dan Tel Aviv.

1. Trump ingin redam konflik, Netanyahu masih agresif

Donald Trump sedang berbicara kepada banyak orang.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Menurut laporan Axios, Trump meminta Netanyahu menarik pasukan Israel dari Suriah dan Lebanon guna mengurangi risiko eskalasi militer di kawasan.

Permintaan itu muncul ketika pemerintahan Trump berupaya mempertahankan gencatan senjata dengan Iran dan mendorong solusi diplomatik setelah serangkaian konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Laporan tersebut menyebut Trump juga menekankan pentingnya mengurangi kehadiran militer Israel di kedua wilayah tersebut agar potensi bentrokan baru dapat ditekan. Namun hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai tanggapan pemerintah Israel maupun jadwal pelaksanaan permintaan tersebut.

Peneliti Program Reimagining US Grand Strategy di Stimson Center, Evan Cooper, mengatakan hubungan kedua pemimpin memang sedang mengalami kemunduran.

“Telah terjadi keretakan nyata dalam hubungan antara pemerintahan Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu,” kata Cooper.

Menurutnya, pemerintahan Trump ingin mengakhiri konflik dengan Iran sekaligus membatasi ruang Netanyahu untuk menggagalkan gencatan senjata.

“Pemerintahan Trump memberi sinyal ingin mengakhiri perang dengan Iran dan mengurangi kemampuan Netanyahu menggagalkan gencatan senjata. Jika gencatan senjata bertahan, pelajaran bagi Amerika Serikat adalah bahwa bersikap tegas terhadap Netanyahu merupakan langkah yang mungkin dilakukan, bahkan diperlukan,” ujarnya.

2. Bukan pertama kalinya AS berselisih dengan Israel

miniatur bendera Amerika Serikat dan Israel uschamber.com)
miniatur bendera Amerika Serikat dan Israel uschamber.com)

Meski dikenal sebagai sekutu terdekat Israel, hubungan Amerika Serikat dan Israel beberapa kali mengalami ketegangan sepanjang sejarah.

Pada 1956, Presiden Dwight D. Eisenhower menekan Israel agar menarik pasukannya dari Mesir setelah Krisis Suez. Pada 1981, Presiden Ronald Reagan sempat membekukan pengiriman pesawat tempur F-16 setelah Israel membombardir reaktor nuklir Osirak di Irak.

Ketegangan juga terjadi pada era Presiden George H.W. Bush yang mengancam menahan jaminan pinjaman sebesar 10 miliar dolar AS karena perluasan permukiman Israel di wilayah Palestina, serta pada masa Barack Obama terkait perjanjian nuklir Iran (JCPOA) yang ditentang Netanyahu.

Meski demikian, hubungan kedua negara tetap menjadi salah satu aliansi terkuat di dunia. Amerika Serikat merupakan negara pertama yang mengakui Israel pada 1948 dan sejak itu telah memberikan lebih dari 300 miliar dolar AS bantuan ekonomi maupun militer.

Saat ini, Washington juga masih berkomitmen memberikan bantuan keamanan sebesar 3,8 miliar dolar AS setiap tahun hingga 2028.

3. Akankah hubungan Trump dan Netanyahu berubah?

Donald Trump dan Benjamin Netanyahu sedang berpidato.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Ketegangan terbaru juga memunculkan spekulasi mengenai arah hubungan kedua negara ke depan.

Profesor Ilmu Politik University of Pennsylvania, Ian Lustick, menilai Trump dan Netanyahu sama-sama berusaha menutupi besarnya konflik yang sedang terjadi.

“Keduanya sama-sama marah. Tetapi keduanya juga berkepentingan untuk berpura-pura bahwa konflik ini tidak seserius yang sebenarnya mereka rasakan,” kata Lustick.

Di sisi lain, Kongres Amerika Serikat justru sedang membahas ketentuan dalam National Defense Authorization Act (NDAA) yang akan memperluas kerja sama teknologi dan pertukaran informasi militer antara Amerika Serikat dan Israel. Menurut Cooper, apabila aturan tersebut disahkan, hubungan strategis kedua negara tetap akan sangat kuat meski terjadi perselisihan politik antara Trump dan Netanyahu.

Namun, ia menilai Trump telah menunjukkan dukungannya terhadap Netanyahu tidak lagi tanpa syarat.

“Trump tidak ingin Netanyahu mengganggu upaya mengakhiri perang dengan Iran. Jika Netanyahu mundur, Trump kemungkinan tetap akan mendukungnya. Namun jika Netanyahu terus mencoba menggagalkan kesepakatan, terutama melalui eskalasi di Lebanon, Trump telah memberi sinyal akan membuat kehidupan politik Netanyahu menjadi jauh lebih sulit,” ujar Cooper.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More