Rubio-Wang Yi Bertemu, Bahas Rencana Kunjungan Xi Jinping ke AS

- Wang Yi dan Marco Rubio bertemu di Manila membahas rencana kunjungan Presiden Xi Jinping ke AS serta isu strategis di tengah meningkatnya rivalitas China-AS.
- Keduanya menyinggung ketegangan Laut China Selatan, bentrokan China-Filipina, serta isu sensitif Taiwan termasuk rencana penjualan senjata AS senilai 14 miliar dolar.
- China dan AS sepakat menjaga komunikasi terbuka untuk mengelola perbedaan, mempertahankan stabilitas hubungan, dan mencegah eskalasi di berbagai kawasan internasional.
Jakarta, IDN Times – Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menggelar pertemuan bilateral di sela rangkaian Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) ke-59 di Manila, Filipina. Dalam pertemuan selama sekitar 90 menit itu, kedua pihak membahas sejumlah isu strategis, mulai dari rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat hingga ketegangan di Laut China Selatan.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu agenda bilateral penting di tengah meningkatnya rivalitas kedua negara, sekaligus upaya menjaga komunikasi setelah pertemuan Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump sebelumnya.
Baik Beijing maupun Washington mengakui masih terdapat berbagai perbedaan kepentingan. Namun, keduanya menegaskan pentingnya menjaga hubungan tetap stabil dan mengelola perbedaan melalui dialog.
Pertemuan itu juga berlangsung ketika isu Laut China Selatan menjadi perhatian dalam forum ASEAN, menyusul bentrokan terbaru antara kapal China dan Filipina di kawasan Second Thomas Shoal.
1. China dan AS siapkan pertemuan Xi Jinping-Trump
Menurut kantor berita pemerintah China CCTV, Wang Yi menggambarkan pertemuannya dengan Rubio sebagai pembicaraan yang pragmatis, positif, dan konstruktif.
Ia mengatakan, kedua negara perlu terus menjaga stabilitas strategis dan hidup berdampingan secara damai di tengah berbagai perbedaan.
“Kami harus mengikuti arah yang telah ditetapkan kedua kepala negara, menghilangkan berbagai gangguan dan hambatan, serta memastikan konsensus para pemimpin dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata di seluruh jajaran pemerintahan,” ujar Wang Yi, dikutip dari South China Morning Post, Kamis (23/7/2026).
Sementara itu, Rubio mengatakan masih terdapat sejumlah perbedaan antara Washington dan Beijing, namun tugas kedua negara adalah mengelola perbedaan tersebut agar tidak berkembang menjadi konflik.
Ia juga mengungkapkan pembahasan mengenai persiapan kunjungan Presiden Xi Jinping ke Amerika Serikat yang direncanakan berlangsung pada September mendatang.
“Pekerjaan yang harus kami lakukan sekarang untuk September adalah mengidentifikasi bidang-bidang yang dapat menjadi dasar bagi kunjungan yang sangat positif. Kami banyak membahas hal itu,” kata Rubio.
2. Laut China Selatan dan Taiwan ikut dibahas

Dalam pertemuan tersebut, Rubio turut menyinggung bentrokan terbaru antara China dan Filipina di Second Thomas Shoal yang terjadi awal pekan ini. Ia menyebut insiden tersebut bersifat eskalatif dan tidak memberikan manfaat bagi pihak mana pun.
Di sisi lain, Wang Yi menegaskan kembali posisi China terhadap berbagai isu yang dinilainya berkaitan dengan kepentingan inti negaranya. Ia juga meminta Amerika Serikat menghormati kepentingan tersebut.
Rubio juga mendapat pertanyaan mengenai rencana penjualan senjata Amerika Serikat kepada Taiwan.
Menurutnya, paket penjualan senjata senilai sekitar 14 miliar dolar Amerika Serikat masih dalam proses peninjauan internal karena Washington juga harus mempertimbangkan kesiapan stok persenjataannya.
Taiwan masih menjadi salah satu isu paling sensitif dalam hubungan China dan Amerika Serikat. Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Amerika Serikat tetap memasok persenjataan ke pulau tersebut meski tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka.
3. Kedua negara upayakan hubungan tetap stabil

Selain membahas Laut China Selatan dan Taiwan, Wang Yi dan Rubio juga menyinggung sejumlah isu internasional lainnya, termasuk konflik di Timur Tengah.
Rubio mengatakan China menunjukkan sikap yang relatif kooperatif dalam menjaga kelancaran jalur pelayaran internasional di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut. Ia juga menyebut isu dugaan campur tangan China dalam pemilu Amerika Serikat tidak dibahas dalam pertemuan kali ini.
Pertemuan di Manila menjadi tindak lanjut komunikasi tingkat tinggi antara kedua negara setelah percakapan telepon awal Juli dan pertemuan Presiden Xi Jinping dengan Presiden Donald Trump beberapa waktu lalu.
Meski hubungan kedua negara masih diwarnai persaingan di bidang perdagangan, teknologi, hingga rantai pasok global, Beijing dan Washington sama-sama berupaya menjaga stabilitas hubungan serta menghindari eskalasi yang dapat memperburuk ketegangan.



















