Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rusia Bantah Tarik Pasukan dari Mali usai Serangan Teroris

Rusia Bantah Tarik Pasukan dari Mali usai Serangan Teroris
Tentara Rusia. (Mil.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Kremlin menegaskan tidak ada rencana menarik pasukan Rusia dari Mali dan tetap mendukung junta militer dalam menjaga keamanan negara tersebut.
  • Kelompok separatis Tuareg melalui FLA mendesak penarikan pasukan Rusia dari wilayah Azawad, menuding Moskow mendukung pelaku kejahatan perang di Mali.
  • Negara anggota Alliance of Sahel States sepakat membentuk unit gabungan untuk melancarkan serangan udara melawan kelompok jihadis dan pemberontak di Mali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan akan mempertahankan pasukannya di Mali dan membantu junta militer. Moskow menegaskan tidak ada rencana penarikan pasukannya dari negara Afrika Barat tersebut. 

“Kami membantah adanya rencana menarik pasukan Rusia dari Mali. Keberadaan Rusia di sana berhubungan dengan kebutuhan dari otoritas setempat untuk menjaga keamanan,” tuturnya, dikutip dari RFI, Sabtu (2/5/2026)

Kelompok paramiliter Rusia sudah berada di Mali sejak 2020. Kehadiran tentara bayaran itu untuk membantu junta militer Mali dalam melawan instabilitas dan krisis keamanan imbas kelompok teroris dan pemberontak. 

1. Separatis Tuareg mendesak Rusia pergi dari Mali

Juru Bicara Azawad Liberation Front (FLA), Mohamed Elmaouloud Ramdane mendesak tentara Rusia untuk segera meninggalkan Azawad. Namun, ia menekankan tidak ada masalah dengan Rusia. 

“Tujuan kami adalah mendesak Rusia segera menarik pasukan dari Azawad dan seluruh Mali. Kami tidak punya masalah dengan Rusia atau negara lainnya. Masalah kami hanyalah dengan rezim yang memerintah Bamako,” katanya, dikutip dari The Moscow Times.

FLA menyebut bahwa pasukannya memandang negatif keterlibatan Rusia. Sebab, Menurutnya, Moskow mendukung orang-orang yang melakukan kejahatan perang dan pembunuhan massal. 

2. Rusia mendesak stabilitas dan perdamaian di Mali

Peskov menyerukan agar semua pihak mendukung perdamaian di Mali. Ia berharap agar negara Afrika Barat tersebut dapat kembali stabil setelah adanya serangan besar yang memukul mundur pasukan Rusia. 

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia menggambarkan bahwa situasi pasukan Korps Afrika di Mali cukup sulit. Pasukan Rusia terlibat pertempuran selama 24 jam sebelum akhirnya memutuskan untuk menarik diri dari Kidal. 

3. AES bentuk unit gabungan untuk cegah serangan di Mali

Negara-negara anggota Alliance of Sahel States (AES), Nigeria, Burkina Faso, dan Mali sudah merencanakan serangan udara di Mali. Langkah ini untuk melawan kelompok jihadis JNIM dan pemberontak Tuareg. 

“Otoritas Niger menyambut baik rencana pembentukan pasukan gabungan untuk mengintensifkan serangan udara menyusul serangan teroris di Gao, Menaka, dan Kidal,” terangnya, dikutip dari Africa News.

Pada saat yang sama, ribuan orang berkumpul di ibu kota Niger, Niamey untuk menyuarakan solidaritas kepada rakyat Mali. Junta militer Niger menuding kekuatan asing, terutama Prancis yang mendukung serangan di Mali. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Related Articles

See More