Serangan Israel Tewaskan Empat Warga Palestina di Gaza

- Serangan udara Israel di kamp pengungsi Nuseirat menewaskan empat warga Palestina, termasuk tiga anggota kepolisian dan seorang tokoh Fatah, meski gencatan senjata masih berlaku.
- Israel dilaporkan hampir setiap hari melanggar gencatan senjata sejak Oktober, dengan lebih dari 72 ribu warga Palestina tewas dan kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk.
- Kekerasan pemukim Israel meluas ke Tepi Barat, membakar rumah serta mobil warga Palestina di Nablus dan menyebabkan korban luka serta pengungsian massal.
Jakarta, IDN Times - Serangan udara pasukan Israel menewaskan sedikitnya empat warga Palestina di Jalur Gaza pada hari Minggu (22/3/2026). Tiga di antaranya teridentifikasi sebagai anggota kepolisian setempat.
Insiden utama dilaporkan menghantam sebuah kendaraan di tengah kamp pengungsi Nuseirat yang padat penduduk. Serangan kembali terjadi meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober tahun lalu.
1. Serangan sasar aparat kepolisian dan tokoh Fatah

Tiga anggota polisi tewas setelah rudal menghantam kendaraan mereka di kamp pengungsi Nuseirat. Seluruh korban tewas dan luka-luka langsung dievakuasi menuju fasilitas medis di Rumah Sakit Awda.
Serangan lainnya turut menghantam lingkungan Sheikh Radwan di kawasan Gaza utara. Gempuran ini merenggut nyawa seorang tokoh senior dari kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Fatah.
Rumah Sakit Shifa mengonfirmasi telah menerima satu jenazah lagi dari Kota Gaza. Jumlah pasti korban luka akibat serangan di Sheikh Radwan masih belum diketahui.
Intensitas serangan Israel di Gaza sempat menurun usai pecahnya perang melawan Iran pada akhir Februari. Namun, frekuensi serangan udara kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir, dilansir The New Arab.
2. Israel hampir setiap hari melanggar gencatan senjata

Israel tercatat hampir setiap hari melanggar kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober. Pelanggaran terus berlanjut di tengah bayang-bayang perang genosida yang telah berlangsung selama dua tahun.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 680 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata disepakati. Secara keseluruhan, konflik telah merenggut lebih dari 72 ribu nyawa warga Palestina.
Sebagian besar korban jiwa merupakan warga sipil yang didominasi oleh perempuan dan anak-anak. Mayoritas populasi Gaza kini hidup terlantar di tempat penampungan sementara dengan fasilitas sangat minim.
Akses terhadap pasokan makanan, air bersih, dan perawatan medis terus menyusut. Penyeberangan Karem Abu Salem kini menjadi satu-satunya jalur kargo yang beroperasi di perbatasan wilayah tersebut.
3. Kekerasan pemukim Israel meluas di Tepi Barat

Eskalasi kekerasan tidak hanya terjadi di Gaza melainkan meluas hingga ke Tepi Barat. Pemukim Israel mengamuk dengan membakar rumah serta mobil milik warga Palestina pada Minggu malam.
Aksi ini menyasar empat desa utama di wilayah Nablus termasuk Deir al-Hatab dan Jalud. Kerusuhan pecah usai pemakaman pemukim Israel, Yehuda Sherman, yang tewas dalam insiden tabrakan dengan sebuah kendaraan Palestina.
Serangan yang terjadi selama masa libur Idul Fitri ini melukai sedikitnya 10 warga Palestina. Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan adanya korban tembak di kaki serta keluhan sesak napas.
PBB mencatat 25 warga Palestina tewas akibat serangan pemukim dan tentara hingga 15 Maret. Selain itu, lebih dari 30 ribu warga terpaksa mengungsi akibat pengusiran paksa oleh otoritas Israel.
"Tindakan ini tidak dapat diterima di masa perang. Militer tidak seharusnya menghadapi minoritas yang mengancam dari dalam," tegas Kepala Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir, dilansir France24.


















