Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dari Realitas Ekonomi, #KaburAjaDulu Bukan Sekadar Tren bagi Anak Muda

Dari Realitas Ekonomi, #KaburAjaDulu Bukan Sekadar Tren bagi Anak Muda
ilustrasi bandara yang ramai (pexels.com/ClickerHappy)
Intinya Sih
  • Laporan IMGR 2026 menyoroti fenomena #KaburAjaDulu sebagai langkah rasional generasi muda mencari peluang ekonomi, bukan sekadar bentuk kekecewaan politik atau keinginan meninggalkan Indonesia.
  • Kisah Regina dan Yeni menunjukkan keputusan bekerja di luar negeri didorong oleh perhitungan ekonomi matang, pengalaman internasional, serta rencana jangka panjang untuk membangun masa depan di tanah air.
  • Remitansi pekerja migran mencapai 15,7 miliar dolar AS pada 2024, berkontribusi sekitar 1 persen terhadap PDB nasional dan menjadi bukti kontribusi nyata dari jarak jauh bagi perekonomian Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Fenomena #KaburAjaDulu yang ramai diperbincangkan di media sosial beberapa waktu lalu, tidak selalu lahir dari dorongan untuk meninggalkan Indonesia secara permanen. Bagi sebagian anak muda, keputusan bekerja di luar negeri justru berangkat dari pertimbangan ekonomi yang sederhana, seperti mencari peluang kerja yang lebih baik, pendapatan lebih tinggi, dan pengalaman yang sulit diperoleh di dalam negeri.

Laporan yang disusun dalam Indonesia Millenial and Gen Z Report (IMGR) 2026 oleh IDN yang mengulas fenomena tersebut, menunjukkan banyak anak muda melihat bekerja di luar negeri sebagai langkah rasional untuk meningkatkan kualitas hidup dan mempercepat pencapaian tujuan keuangan. Narasi ini berbeda dari anggapan bahwa #KaburAjaDulu semata-mata merupakan bentuk kekecewaan politik atau ajakan meninggalkan tanah air.

Salah satu contohnya adalah Regina (29), warga Yogyakarta, yang memutuskan berangkat ke Australia melalui program Working Holiday Visa (WHV). Keputusan itu diambil setelah lama mempertimbangkan keinginannya untuk bekerja sekaligus bepergian ke luar negeri.

Sementara itu, Yeni (30) memilih bekerja di Filipina sejak 2022 melalui skema visa kerja. Meski memiliki latar belakang dan pengalaman berbeda, keduanya menunjukkan bahwa keputusan bekerja di luar negeri sering kali didorong oleh perhitungan ekonomi yang matang serta keinginan membangun masa depan yang lebih baik.

1. Berawal dari keinginan mencari kesempatan

Cover IMGR 2027
IMGR 2027 Cover

Bagi Regina, bekerja di luar negeri bukanlah rencana besar untuk menetap di negara lain. Ia awalnya hanya melihat program WHV sebagai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru sembari bekerja.

Namun untuk mewujudkan rencana tersebut, ia harus melalui berbagai proses, mulai dari mencari informasi melalui komunitas daring, membangun jaringan, hingga bersaing mendapatkan kuota tahunan visa yang jumlahnya terbatas.

Pada awal kedatangannya di Australia, Regina bekerja di sektor pertanian dengan sistem pembayaran berdasarkan hasil kerja. Sistem tersebut membuat penghasilannya tidak menentu. Seiring waktu, ia mulai memahami pola kerja yang berlaku dan berhasil mendapatkan pekerjaan dengan sistem upah per jam yang dinilai lebih menguntungkan.

Perubahan itu berdampak besar pada kondisi keuangannya. Dengan pendapatan sekitar Rp17 juta per minggu dan pengeluaran yang relatif terkendali, Regina mampu menyisihkan sekitar 1.000 dolar Australia setiap minggu untuk tabungan. Pengalaman tersebut mengubah pandangannya dari sekadar ingin menutup biaya keberangkatan menjadi memanfaatkan peluang yang tersedia secara maksimal.

Selain faktor penghasilan, Regina juga melihat perbedaan budaya kerja. Ia merasakan lingkungan kerja yang lebih menghargai waktu pribadi, minim pengawasan berlebihan, serta memiliki hierarki sosial yang lebih sederhana dibandingkan yang selama ini ia kenal.

2. Bekerja di luar negeri untuk membangun masa depan

IMGR 2027 HY209014.jpg
IMGR 2027

Cerita berbeda datang dari Yeni yang telah bekerja di Filipina sejak 2022. Jika Regina berangkat dengan semangat eksplorasi, Yeni sejak awal memiliki tujuan yang lebih terstruktur. Lulusan sastra Inggris tersebut melihat bekerja di luar negeri sebagai strategi untuk meningkatkan pendapatan sekaligus membangun portofolio karier. Menurutnya, peluang tersebut memberikan ruang yang lebih besar untuk menabung, membantu keluarga, membiayai kebutuhan di Indonesia, dan menjaga kualitas hidup yang lebih stabil.

Bagi Yeni, pengalaman internasional juga menjadi modal penting untuk mempercepat perkembangan karier. Ia menyadari bahwa bidang yang digelutinya membutuhkan pengalaman kerja yang beragam agar dapat mencapai tingkat pendapatan yang lebih tinggi.

Meski demikian, bekerja di luar negeri bukan berarti memutus hubungan dengan Indonesia. Yeni berencana kembali ke tanah air pada masa mendatang. Ia ingin tetap bekerja secara jarak jauh untuk perusahaan luar negeri sambil memanfaatkan modal yang telah dikumpulkan untuk membangun usaha di Indonesia.

Kisah Regina dan Yeni, yang tertuang dalam IMGR 2026, menunjukkan keputusan bekerja di luar negeri tidak selalu berujung pada keinginan menetap selamanya. Bagi sebagian orang, langkah tersebut justru menjadi cara untuk mengumpulkan pengalaman, modal, dan keterampilan sebelum kembali membangun kehidupan di Indonesia.

3. Remitansi dan kontribusi dari jarak jauh

IMGR 2026, Indonesia Millennial Summit 2026
Ilustrasi Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026. (Dokumentasi IDN Times)

Laporan tersebut menilai fenomena #KaburAjaDulu lebih tepat dipahami sebagai refleksi cara generasi muda menghadapi keterbatasan dan peluang yang ada. Keputusan untuk pergi, bertahan, atau kembali merupakan bagian dari proses yang sangat personal dan dipengaruhi banyak faktor.

Narasi yang berkembang juga menunjukkan bahwa bekerja di luar negeri tidak identik dengan hilangnya kontribusi terhadap Indonesia. Banyak pekerja migran tetap mengirimkan uang kepada keluarga serta berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Data Bank Indonesia yang dikonfirmasi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) melalui Antara mencatat remitansi pekerja migran Indonesia sepanjang 2024 mencapai 15,7 miliar dolar AS. Nilai tersebut berkontribusi sekitar 1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menjadi sumber devisa terbesar kedua setelah sektor minyak dan gas.

Mayoritas remitansi tersebut berasal dari pekerja migran sektor informal. Laporan itu juga menyoroti potensi yang jauh lebih besar apabila semakin banyak tenaga kerja terampil dan berpendidikan yang memperoleh kesempatan bekerja di luar negeri.

Karena itu, #KaburAjaDulu dinilai tidak semata-mata sebagai ajakan meninggalkan Indonesia. Fenomena tersebut lebih mencerminkan sinyal sebagian warga negara mencari kesempatan yang mereka anggap belum tersedia di dalam negeri, baik dari sisi pendapatan, karier, maupun kualitas hidup.

IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More