Militer Lebanon Sebut Israel Langgar Gencatan Senjata Kerja 7.700

- Militer Lebanon menyebut Israel melanggar kesepakatan kerangka kerja yang dimediasi AS sekitar 7.700 kali sejak Juni, termasuk penembakan dekat pasukan Lebanon dan serangan mematikan di Nabatieh.
- Serangan di Kfar Remman, Nabatieh, menewaskan sedikitnya 12 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, serta memicu pengungsian baru dari wilayah yang sebelumnya ditetapkan aman.
- Lebanon mendirikan pos keamanan, menyita 1.818 senjata dan amunisi, serta membersihkan hampir 12 kilometer jalan di selatan saat serangan Israel dan pendudukan wilayah berlanjut.
Jakarta, IDN Times - Militer Lebanon menyatakan tentara Israel telah melanggar kesepakatan kerangka kerja yang dimediasi Amerika Serikat sekitar 7.700 kali sejak perjanjian tersebut ditandatangani pada Juni lalu. Pernyataan resmi itu disampaikan pihak militer Lebanon melalui akun media sosial X pada Rabu (9/9/2026).
Pelanggaran tersebut mencakup aksi penembakan di dekat personel dan patroli tentara Lebanon, serta serangan mematikan teranyar yang menewaskan sedikitnya 12 orang termasuk perempuan dan anak-anak di Nabatieh. Rentetan insiden ini dinilai memicu gelombang pengungsian baru warga dari kawasan yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai area aman.
1. Pelanggaran kesepakatan picu gelombang pengungsian warga

ilustrasi kamp pengungsi (pexels.com/Ahmed akacha) Dilansir Anadolu Agency, pembantaian paling baru terjadi di Kota Kfar Remman, Nabatieh, yang menewaskan sedikitnya 12 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Militer Lebanon turut membeberkan dampak lanjutan dari rentetan serangan yang terus dilancarkan oleh militer Israel di wilayah Lebanon selatan.
“Pelanggaran yang berulang ini telah memicu gelombang pengungsian baru dari wilayah-wilayah yang ditentukan aman dan menunjukkan bahwa pendudukan Israel bertujuan merusak kredibilitas Militer Lebanon di dalam negeri maupun internasional,” kata militer Lebanon.
2. Langkah pengamanan dan penyitaan amunisi di Lebanon selatan

Operasi darat IDF di Lebanon selama perang Israel-Hamas, November 2024. (IDF Spokesperson's Unit, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons) Menanggapi situasi di lapangan, militer Lebanon mulai mengambil langkah-langkah terencana demi menegakkan kendali operasional di sejumlah wilayah yang telah ditentukan. Upaya penegakan kendali operasional di wilayah-wilayah yang ditentukan ini dijalankan di bawah rencana komando militer serta berkoordinasi dengan kelompok koordinasi militer untuk Lebanon.
Tindakan yang dilakukan mencakup pendirian enam pos pemeriksaan dan 13 pos pengamatan di dalam maupun sekitar Kota Zoutar Barat, Fren, dan Sarfina. Tindakan tersebut juga mencakup penyingkiran dan penyitaan berbagai persenjataan serta amunisi yang belum meledak.
Pihak militer Lebanon mengonfirmasi telah menyita sekitar 1.818 barang persenjataan beserta amunisi, termasuk roket, pesawat nirawak, hingga bahan peledak. Selain mengamankan ribuan amunisi militer tersebut, pasukan Lebanon juga berhasil membersihkan ruas jalan raya sepanjang hampir 12 kilometer.
3. Serangan udara dan tembakan artileri gempur wilayah selatan

ilustrasi serangan rudal (pexels.com/Atahan Demir) Dilansir TRT World, serangan terbaru tentara Israel juga menewaskan satu orang di bagian selatan Lebanon. Kantor berita resmi Lebanon melaporkan sebuah pesawat nirawak milik Israel melancarkan serangan terhadap pengendara sepeda motor di Zebdine, kawasan Nabatieh, hingga menewaskan seorang pria.
Media pemerintah Lebanon turut melaporkan bahwa pasukan Israel terus menggencarkan serangan udara serta tembakan artileri di beberapa wilayah selatan. Rentetan agresi militer Israel sejak 2 Maret telah menewaskan sedikitnya 4.381 orang dan melukai 12.402 lainnya, serta memaksa lebih dari satu juta orang mengungsi menurut otoritas Lebanon.
Di samping gelombang serangan mematikan tersebut, pihak militer Israel hingga kini masih terus menduduki beberapa wilayah di Lebanon selatan. Sebagian wilayah di Lebanon selatan tersebut telah diduduki oleh pasukan Israel selama beberapa dekade, sedangkan area lainnya baru direbut selama perang pada 2023 hingga 2024.





















