Militer Nepal Kerahkan Drone untuk Kirim Bantuan ke Daerah Terisolasi

- Runtuhnya gletser Himalaya memicu banjir bandang yang menewaskan sedikitnya 1.367 orang dan membuat lebih dari 5.000 lainnya hilang, sekaligus memutus jalan serta jembatan.
- Militer Nepal memakai drone kargo DJI FlyCart 100 berkapasitas 60 kilogram untuk mengirim pangan, obat, dan baterai ke permukiman terisolasi saat helikopter fokus pada evakuasi.
- Selain distribusi logistik, drone digunakan mengevakuasi tujuh jenazah dari tebing terjal dan memindai terowongan PLTA Upper Trishuli-1 untuk mencari pekerja yang tertimbun.
Jakarta, IDN Times - Militer Nepal mengerahkan pesawat nirawak (drone) guna menyalurkan bantuan logistik bagi para korban banjir. Langkah strategis ini ditempuh lantaran akses transportasi darat terputus total akibat hantaman bencana di kawasan perbukitan tersebut.
Krisis kemanusiaan yang mendesak ini praktis menuntut metode pengiriman bantuan yang lebih adaptif terhadap rintangan medan ekstrem. Oleh karena itu, pengoperasian armada drone kini difokuskan untuk menyuplai kebutuhan darurat ke permukiman terpencil yang sulit dijangkau oleh tim penyelamat darat.
1. Runtuhnya gletser Himalaya lumpuhkan akses transportasi darat

ilustrasi gletser es mencair (unsplash.com/Danting Zhu) Bencana alam berskala besar ini dipicu oleh runtuhnya gletser Himalaya pada akhir Agustus 2026 lalu, yang kemudian memicu banjir bandang dahsyat di sepanjang aliran sungai. Tercatat, sedikitnya 1.367 orang tewas dan lebih dari 5.000 korban lainnya masih dinyatakan hilang dalam tragedi ini. Luapan lumpur dan air bah merusak jembatan serta jalan raya utama, sehingga truk pembawa bantuan tertahan di luar kawasan bencana.
Di sisi lain, armada helikopter yang terbatas tengah difokuskan untuk mengevakuasi korban, sehingga drone menjadi solusi alternatif yang efektif.
"Sebagian besar helikopter sibuk menyelamatkan korban, sehingga drone menjadi pilihan terbaik untuk mengangkut kebutuhan pokok," ujar pilot drone militer Nepal, Santosh Budhathoki.
2. Drone kargo kelas berat distribusikan logistik lintasi sungai

potret Sungai Bhote Koshi, Nepal (commons.wikimedia.org/Saddam19) Demi mempercepat penyaluran logistik, militer Nepal mengoperasikan drone kargo kelas berat tipe DJI FlyCart 100 yang merupakan hibah dari China. Pesawat dengan kapasitas muatan 60 kilogram ini mampu terbang melintasi rintangan alam sejauh tiga hingga empat kilometer. Setiap harinya, belasan penerbangan kargo dikerahkan untuk mendistribusikan bahan pangan, obat-obatan, dan baterai portabel ke sejumlah permukiman yang terputus dari jaringan listrik.
Bantuan logistik seberat ratusan kilogram berhasil diterbangkan menyeberangi arus deras Sungai Trishuli di Distrik Nuwakot. Distribusi pasokan terus dipacu secara intensif meskipun terhadang cuaca buruk dan padatnya lalu lintas udara helikopter penyelamat.
"Kami terbang bolak-balik sejak pagi karena pasokan logistik ini harus segera sampai ke tangan warga yang membutuhkan," jelas pendiri Airlift Technology, Milan Pandey, dikutip dari ABS-CBN News.
3. Drone turut digunakan untuk evakuasi jenazah dan pindai terowongan

Warga korban banjir bandang duduk di samping puing-puing sembari menyelamatkan barang-barang mereka setelah banjir bandang melanda Devighat di distrik Nuwakot, Nepal, pada 31 Agustus 2026 (AFP/Arun Sankar) Selain menyalurkan barang kebutuhan pokok, drone juga dikerahkan untuk mengevakuasi jenazah korban dari tebing terjal yang membahayakan personel darat. Pemanfaatan teknologi ini terbukti efektif dalam menekan risiko keselamatan tim penyelamat saat bertugas di titik-titik rawan bencana.
Lebih lanjut, drone yang dilengkapi sensor termal juga ditugaskan menerobos terowongan proyek PLTA Upper Trishuli-1 guna melacak keberadaan puluhan pekerja yang tertimbun reruntuhan. Pemindaian udara ini sangat membantu otoritas terkait dalam memetakan lokasi longsor secara cepat tanpa memicu risiko terjadinya runtuhan susulan.
"Kami telah menerbangkan tujuh jenazah di bawah pengawasan ketat petugas dari lokasi yang nyaris mustahil dilalui manusia," pungkas Milan Pandey, dikutip dari The Kathmandu Post.





















