Turki Desak AS-Israel Setop Serang Iran

- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendesak AS dan Israel menghentikan serangan terhadap Iran serta mengajak semua pihak kembali ke meja perundingan demi mencegah meluasnya konflik di Timur Tengah.
- Erdogan menegaskan Turki telah berperan aktif dalam upaya mengakhiri perang, termasuk menawarkan diri sebagai mediator dan menjaga sikap hati-hati untuk melindungi negaranya dari dampak konflik.
- AS dan Israel masih melanjutkan serangan ke Iran, sementara Presiden Trump mengklaim kemenangan perang; Iran menegaskan siap bertahan menghadapi serangan selama berbulan-bulan.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Turki mendesak Amerika Serikat dan Israel berhenti memerangi Iran. Desakan tersebut disampaikan oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, kepada anggota parlemen pada Rabu (11/3/2026).
Erdogan menilai jika perang terus berlanjut, seluruh negara di Kawasan Timur Tengah akan terkena dampaknya. Oleh karena itu, ia meminta AS, Israel, dan Iran untuk kembali ke meja perundingan daripada terus berperang.
"Perang ini harus dihentikan sebelum membesar dan seluruh Kawasan (Timur Tengah) terjerumus ke dalam kobaran api. Jika diplomasi diberi kesempatan, sangat mungkin untuk mencapai hal ini," kata Erdogan dilansir The Strait Times.
1. Erdogan klaim Turki sudah terlibat dalam upaya mengakhiri perang

Dalam pernyataannya, Erdogan mengklaim Turki juga sudah terlibat dalam upaya mengakhiri perang antara Iran dengan AS dan Israel. Langkah ini, kata dia, dilakukan untuk menyudahi eskalasi konflik di Timur Tengah.
Selain itu, Erdogan juga mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk melindungi Turki dari dampak perang. Sebab, beberapa waktu lalu, Iran sempat meluncurkan serangan rudal ke wilayah udara Turki. Beruntungnya, rudal tersebut berhasil dilumpuhkan oleh sistem pertahanan udara NATO.
"Mengingat sensitivitas periode yang sedang kita alami, kita berbicara dengan sangat hati-hati. Kita bertindak dengan waspada untuk melindungi Turki dari kobaran api yang mengelilinginya," lanjut Erdogan.
2. Turki sudah menawarkan diri untuk jadi mediator

Dalam upaya meredam perang Iran dengan AS-Israel, Turki sudah melakukan banyak upaya. Salah satunya adalah dengan menawarkan diri untuk menjadi mediator di antara Iran, AS, dan Israel. Selain itu, Turki juga sudah bersikap diam tanpa memberi kecaman kepada AS karena telah menyerang Iran.
Menurut seorang anggota parlemen Turki, Ozgur Ozel, langkah tersebut bukan berarti Turki tidak peduli kepada Iran. Justru, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga hubungan dengan AS sekaligus agar mereka juga tidak terus menyerang Iran. Sebab, semakin banyak yang mengecam, maka AS akan makin gencar menggempur Iran.
"Sikap diam Ankara yang malu-malu terkait tindakan (Donald) Trump (terhadap Iran) dan kegagalannya untuk mengambil sikap menentang kekuatan yang tidak proporsional itu, bukanlah netralitas," kata Ozel.
3. AS dan Israel masih menyerang Iran

Hingga saat ini, AS dan Israel masih terus melakukan serangan ke Iran. Namun, dalam pernyataannya pada Rabu, Presiden Trump mengklaim bahwa Negeri Paman Sam telah memenangi perang melawan Iran.
Meski terus diserang, Iran menyatakan tidak akan menyerah. Bahkan, beberapa waktu lalu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan siap perang selama berbulan-bulan sampai AS dan sekutunya, Israel, berhasil dikalahkan.
"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran mampu melanjutkan perang intensif setidaknya selama 6 bulan dengan laju operasi saat ini,” kata juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, dilansir Times of Israel.
















