Walla menjelaskan, Hizbullah ingin mengambil alih Beirut untuk membasmi unsur-unsur pragmatis yang ada di sana. Unsur pragmatis yang dimaksud adalah para pejabat Lebanon yang menentang keberadaan Hizbullah dan mendukung normalisasi hubungan dengan Israel dan negara-negara Barat.
Hizbullah Mau Ambil Alih Kota Beirut Lebanon, Kenapa?

- Hizbullah dikabarkan merencanakan pengambilalihan Kota Beirut untuk menyingkirkan pejabat Lebanon yang mendukung normalisasi hubungan dengan Israel dan negara Barat.
- Tekanan meningkat terhadap Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, setelah Israel memperkuat aktivitas militernya di Lebanon selatan dan menghancurkan infrastruktur publik.
- Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan tetap melanjutkan negosiasi dengan Israel demi menghentikan serangan dan melindungi rakyat meski mendapat penolakan keras dari Hizbullah.
Jakarta, IDN Times - Hizbullah dikabarkan sedang menyusun rencana untuk mengambil alih Ibu Kota Lebanon, Beirut. Kabar tersebut disampaikan oleh salah satu media Lebanon, Walla, pada Selasa (12/5/2026).
Hizbullah ingin membasmi semua unsur pragmatis tadi agar mereka bisa bebas melakukan perlawanan terhadap Israel. Sebab, perlawanan mereka terhadap Israel sering kali terganggu imbas kritik dan protes dari Pemerintah Lebanon.
1. Hizbullah ingin melawan Israel untuk mencegah mereka mengambil wilayah Lebanon

Keinginan Hizbullah untuk melawan Israel sebetulnya bukan tanpa sebab. Milisi tersebut ingin melawan Israel untuk mencegah mereka mengambil alih wilayah Lebanon sama seperti yang terjadi pada Palestina.
Hizbullah mengatakan, Israel kini sedang bersiap melakukan operasi militer untuk menganeksasi wilayah Lebanon selatan. Klaim ini dibuktikan dengan meningkatnya aktivitas militer Israel di desa-desa Lebanon selatan selama dua hari terakhir.
Menurut Hizbullah, selama dua hari terakhir, Israel makin gencar membasmi rumah-rumah warga di Lebanon selatan. Selain itu, mereka juga mulai menghancur infrastruktur publik yang ada di sana.
2. Sekretaris Jenderal Hizbullah mendapat tekanan dari anggotanya

Aksi yang dilakukan Israel di Lebanon selatan ini akhirnya memicu tekanan besar terhadap Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem. Para anggota Hizbullah mendesak Qassem bertindak tegas untuk melawan Israel. Sebab, jika tidak, Lebanon selatan akan sepenuhnya diambil alih oleh mereka.
Kendati sering bersitegang dengan pemerintah, Hizbullah sebetulnya juga tidak mau sebagian wilayah Lebanon diambil alih Israel. Hizbullah jadi salah satu pihak yang paling menentang peristiwa tersebut terjadi. Sebab, mereka tidak ingin Lebanon bernasib sama seperti Palestina yang sebagian besar wilayahnya sudah dianeksasi oleh Israel.
Inilah yang jadi salah satu sebab mengapa Hizbullah menentang keras negosiasi perdamaian antara Israel dan Lebanon. Sebab, Hizbullah menganggap negosiasi tersebut bisa jadi celah sekaligus kesempatan emas bagi Israel untuk mencaplok Lebanon selatan.
3. Presiden Lebanon ingin tetap melanjutkan negosiasi dengan Israel

Meski ditentang Hizbullah, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menegaskan akan tetap melakukan negosiasi dengan Israel. Sebab, ini bertujuan agar serangan Israel di Lebanon bisa dihentikan secara permanen. Terlebih, serangan Israel di Lebanon yang dilakukan sejak 2 Maret lalu sudah menewaskan ribuan jiwa.
“Negosiasi ini bukanlah kelemahan. Ini bukan kemunduran. Ini bukan konsesi,” kata Aoun dalam pidato yang disiarkan stasiun televisi Lebanon merespons kecaman dari Hizbullah.
“Keputusan ini lahir dari keyakinan kuat kami akan hak-hak kami dan kepedulian kami terhadap rakyat kami serta tanggung jawab kami untuk melindungi negara kami dengan segala cara yang memungkinkan,” lanjutnya.

















