Virus Usutu Pertama Kali Ditemukan pada Burung di Skotlandia

- Otoritas kesehatan Inggris menemukan virus Usutu pada burung liar di Pulau Arran, Skotlandia, menandai penyebaran pertama virus ini ke wilayah utara Eropa.
- Peneliti menyebut perubahan iklim memperluas habitat nyamuk pembawa virus Usutu, meningkatkan risiko penyebaran penyakit tular vektor di kawasan beriklim dingin.
- Risiko infeksi manusia dinilai rendah, namun pemerintah memperketat pengawasan dan mengimbau warga menjaga kebersihan lingkungan serta melaporkan kematian burung liar.
Jakarta, IDN Times - Otoritas kesehatan Britania Raya mengonfirmasi temuan pertama virus Usutu pada burung liar di Skotlandia. Virus yang ditularkan nyamuk ini ditemukan di Pulau Arran setelah adanya laporan kematian burung pada 2025.
Penemuan tersebut menandai perluasan wilayah penyebaran virus yang sebelumnya lebih banyak ditemukan di kawasan Eropa yang lebih hangat. Meski berpotensi mengganggu ekosistem satwa liar, risiko infeksi bagi manusia saat ini dinilai rendah.
1. Temuan virus berawal dari kematian burung liar di Pulau Arran
Investigasi dimulai setelah warga melaporkan kematian sejumlah burung liar di Pulau Arran, lepas pantai barat Skotlandia, pada musim panas 2025. Burung yang terdampak dilaporkan mengalami penurunan kondisi fisik dan gangguan saraf sebelum mati.
Sampel jaringan burung kemudian diuji di laboratorium rujukan nasional. Hasil pemeriksaan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) mendeteksi RNA virus Usutu garis keturunan Afrika 3.2.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa virus kemungkinan telah tersebar di populasi burung setempat dan bukan sekadar kasus bawaan luar. Identifikasi dilakukan melalui kerja sama antara Badan Kesehatan Hewan dan Tumbuhan (APHA) serta peneliti dari Universitas Glasgow.
"Deteksi virus Usutu pada burung hitam di Skotlandia menunjukkan bahwa negara-negara di wilayah utara kini menghadapi peningkatan risiko virus yang ditularkan oleh nyamuk," kata Manajer Laboratorium Rujukan Nasional untuk Penyakit Tular Vektor APHA, Andra-Maria Ionescu.
Ia menambahkan bahwa pemantauan satwa liar perlu ditingkatkan untuk mendeteksi ancaman penyakit baru sejak dini.
2. Perubahan iklim diduga memengaruhi penyebaran virus
Virus Usutu termasuk kelompok flavivirus yang berkerabat dengan virus demam kuning dan West Nile. Penyebaran utamanya terjadi melalui nyamuk Culex pipiens yang menginfeksi burung liar sebagai inang utama.
Para peneliti menilai perubahan iklim dapat memperluas habitat nyamuk pembawa virus ke wilayah yang sebelumnya terlalu dingin. Kondisi ini meningkatkan peluang penyebaran penyakit tular vektor di kawasan utara Eropa. Di Inggris, virus Usutu diketahui pernah dikaitkan dengan penurunan populasi burung hitam di sejumlah wilayah. Selain burung penyanyi, virus ini juga dapat menginfeksi burung hantu dan burung pemangsa lainnya.
"Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk kemungkinan besar akan semakin mudah berkembang di Inggris, termasuk di Skotlandia, seiring dengan terus berubahnya lingkungan kita," ujar Profesor Heather Ferguson dari Universitas Glasgow, dilansir NDTV.
Menurutnya, perubahan lingkungan dapat menciptakan kondisi yang lebih mendukung bagi bertahannya patogen yang sebelumnya terbatas pada wilayah beriklim hangat.
3. Risiko bagi manusia rendah, pengawasan diperketat
Otoritas kesehatan menegaskan bahwa risiko virus Usutu terhadap manusia saat ini masih rendah. Hingga kini belum ada kasus infeksi manusia yang terkonfirmasi di Britania Raya. Jika terjadi, infeksi pada manusia umumnya bersifat ringan dengan gejala menyerupai flu. Kasus berat dilaporkan sangat jarang.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat dianjurkan mengurangi tempat berkembang biak nyamuk dengan menguras genangan air dan menjaga kebersihan lingkungan. Warga juga diminta melaporkan temuan bangkai burung kepada otoritas tanpa menyentuhnya secara langsung.
"Di Skotlandia, kita harus memanfaatkan temuan ini sebagai peluang untuk berinvestasi dalam sistem pengawasan yang kuat demi meningkatkan kesiapsiagaan deteksi dan respons," kata Profesor Heather Ferguson.
Peningkatan pengawasan dinilai penting untuk mendeteksi lebih awal penyebaran virus yang ditularkan nyamuk lainnya dan berpotensi muncul di masa depan.
















