3 Gebrakan Baru IAPVC 2026 di Taman Safari Bogor, Makin Inklusif!

- IAPVC 2026 di Taman Safari Bogor memasuki penyelenggaraan ke-35 dengan tema “Mata yang Berbicara”, sebagai ajang fotografi, edukasi, dan kampanye pelestarian satwa liar.
- Panitia memperluas akses peserta dengan menyediakan pinjaman alat bagi yang tidak membawa kamera profesional serta membuka partisipasi kreator smartphone.
- Kategori lomba bertambah untuk pengguna action camera, kamera 360, smartphone, jurnalis, remaja, dan People's Choice Award yang melibatkan pilihan publik.
Bogor, IDN Times - Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor kembali menggelar ajang fotografi satwa bergengsi tahunan, International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) 2026. Memasuki penyelenggaraan ke-35, roadshow perdana resmi dibuka pada Sabtu (8/8/2026) dengan menyedot ratusan fotografer dari berbagai kalangan.
Mengusung tema besar "Mata yang Berbicara", kompetisi ini bukan sekadar wadah berburu visual, melainkan ajang edukasi dan kampanye pelestarian satwa liar.
Senior Vice President Marketing TSI Group, Alexander Zulkarnain, membeberkan sejumlah gebrakan dan inovasi baru pada gelaran IAPVC tahun ini. Berikut tiga hal menarik yang membuat IAPVC 2026 semakin inklusif dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
1. Fasilitas pinjam alat hingga wadah untuk kreator smartphone

IAPVC 2026 membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin berkontribusi dalam kampanye konservasi. Pada hari pertama, tercatat ada 300 peserta fotografi profesional yang berpartisipasi, disusul 300 peserta lainnya yang telah terkonfirmasi pada hari kedua.
Menariknya, panitia tidak membatasi partisipasi hanya pada pemilik kamera DSLR atau mirrorless. Masyarakat umum yang tidak membawa kamera profesional tetap bisa ikut serta berkat terobosan baru dari panitia.
"Hari pertama memang menggunakan kamera profesional dan hari kedua menggunakan smartphone. Namun, yang hari pertama ini juga cukup menarik, karena bagi mereka yang tidak membawa kamera profesional pun bisa tetap datang," kata Alexander.
Alexander mengatakan, panitia tahun ini memberikan satu gebrakan untuk mengelaborasikan sekaligus mengkolaborasikan antara fotografer dan kreator ini, agar tetap bisa berkontribusi mengkampanyekan kelestarian alam, lingkungan, dan juga satwa liar.
"Maka dari itu, kita menyediakan alat-alat bagi mereka yang belum membawa atau belum punya alat yang proper, karena ini merupakan salah satu bentuk edukasi," ujar dia.
2. Penambahan kategori baru: Jurnalis, People's Choice Award, hingga remaja

Alexander menjelaskan, memahami perkembangan teknologi dan lanskap media sosial saat ini, TSI Group memperluas rentang kategori lomba. Tak hanya kamera profesional, penggunaan action camera, kamera 360, hingga smartphone kini diakomodasi dalam kategori khusus.
Selain itu, IAPVC 2026 juga menghadirkan kategori khusus jurnalis serta People's Choice Award untuk melibatkan suara publik dalam penentuan karya favorit.
"Teknologi sekarang kan bukan hanya menggunakan kamera profesional, tetapi juga kamera smartphone, 360, ataupun action camera untuk membuat konten. Maka besok kita adakan khusus untuk kategori demikian. Tahun ini juga spesial khusus untuk teman-teman jurnalis, kita buka kategorinya," kata Alexander.
"Selain itu, karena begitu banyak audiens yang menanyakan foto favorit mereka, tahun ini kita adakan People's Choice Award. Foto-foto yang paling menarik menurut audiens di luar akan dipilih menjadi salah satu pemenang. Kategori tahun ini semakin bertambah, ada juga untuk anak-anak remaja yang menyukai konten, sehingga tidak terbatas hanya bagi profesional," lanjutnya.
3. Makna mendalam di balik tema "Mata yang Berbicara"

Alexander menyampaikan, pemilihan tema “Mata yang Berbicara” pada IAPVC ke-35 ini membawa pesan emosional yang mendalam tentang hubungan manusia, satwa, dan ekosistem alam. Lewat sorot mata satwa, para peserta diharapkan mampu menangkap pesan kejujuran dan ekspresi dari para penghuni alam liar tersebut.
"Tema 'Mata yang Berbicara' dipilih karena mata adalah jendela hati. Satwa adalah bagian dari ekosistem alam yang memiliki nurani dan hati yang tulus. Jadi, mata satwa liar inilah yang merefleksikan kebahagiaan mereka," kata Alexander.


















