AS dan Iran Gagal Damai, Ma’ruf Amin: RI Harus Siap Hadapi Dampak

- Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan setelah lebih dari 20 jam negosiasi, dengan kedua pihak masih memiliki perbedaan mendasar.
- Ma’ruf Amin menilai kegagalan ini disebabkan oleh kepentingan terselubung yang menghambat tercapainya solusi damai untuk kebaikan bersama.
- Ma’ruf mengingatkan Indonesia agar bersiap menghadapi dampak global dari konflik AS-Iran yang berpotensi memengaruhi berbagai sektor nasional.
Jakarta, IDN Times - Kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran akan dampak yang lebih luas secara global. Mantan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, mengingatkan Indonesia untuk bersiap menghadapi berbagai konsekuensi yang mungkin timbul dari situasi tersebut.
Menurut Ma’ruf, kegagalan negosiasi tidak lepas dari adanya kepentingan masing-masing pihak yang belum menemukan titik temu.
“Kalau tidak ada kepentingan, kepentingannya untuk kebaikan bersama, pasti tidak akan terjadi kegagalan. Tapi kalau gagal, berarti ada kepentingan terselubung, tidak sungguh-sungguh untuk mencari solusi damai,” kata Ma’ruf kepada wartawan di Jakarta Pusat, Minggu (12/4/2026).
1. Dampak ke Indonesia

Ia menilai, konflik yang berkepanjangan hanya akan membawa dampak negatif secara luas, tidak hanya bagi kedua negara yang berseteru, tetapi juga bagi negara lain, termasuk Indonesia.
“Perang ini menyusahkan semua, membawa kesusahan di seluruh sektor. Semua negara pasti terkena dampaknya,” ujarnya.
2. Indonesia tidak bisa hindari efek dinamika global

Ma’ruf juga menekankan bahwa Indonesia tidak bisa menghindari efek dari dinamika global tersebut. Oleh karena itu, kesiapan menghadapi dampak menjadi hal yang penting.
“Kita mungkin tidak menginginkan itu, tapi ketika sudah terjadi, kita harus siap menghadapi dampaknya. Indonesia pasti juga akan terdampak di berbagai sektor,” jelasnya.
3. Pembicaraan damai Amerika Serikat dan Iran belum ada hasil

Pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung intens selama lebih dari 20 jam belum menghasilkan kesepakatan konkret. Wakil Presiden AS JD Vance mengakui perundingan tersebut masih menemui jalan buntu.
Berbicara kepada wartawan di Pakistan pada Minggu (12/4/2026), Vance menyampaikan, delegasi Amerika Serikat telah meninggalkan ruang negosiasi dan bersiap kembali ke Washington.
Ia menegaskan, masih terdapat sejumlah perbedaan mendasar antara kedua pihak. Menurutnya, Iran belum bersedia menerima sejumlah syarat yang diajukan oleh Amerika Serikat.
“Masih ada kekurangan dalam pembicaraan dan Iran memilih untuk tidak menerima syarat dari AS,” kata Vance, dilansir Al Jazeera.
Perundingan ini sendiri menjadi momen penting karena merupakan pertemuan tatap muka pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran pada 1979.


















