Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BEM SI Akhirnya Angkat Bicara soal Isu Demo Besar Agustus

BEM SI Akhirnya Angkat Bicara soal Isu Demo Besar Agustus
Koordinator Pusat BEM SI periode 2026-2027, Andira Yofi Sulendra di atas mobil komando saat menyampaikan orasi aksi (dok. Istimewa)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • BEM SI belum memutuskan akan menggelar aksi turun ke jalan pada Agustus 2026.
  • Organisasi masih menyolidkan kepengurusan dan menyatukan pembacaan isu setelah Musyawarah Nasional.
  • Yofi mengingatkan mahasiswa memeriksa fakta sebelum menyebarkan informasi viral atau mengambil sikap.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) angkat bicara soal isu rencana demonstrasi besar pada Agustus 2026. BEM SI memastikan hingga kini belum memutuskan, apakah akan menggelar aksi turun ke jalan.

Koordinator Pusat BEM SI periode 2026-2027, Andira Yofi Sulendra, mengatakan organisasinya masih melakukan konsolidasi setelah Musyawarah Nasional (Munas). Konsolidasi dilakukan untuk menyolidkan struktur kepengurusan sekaligus menyatukan pembacaan terhadap berbagai isu yang berkembang.

1. BEM SI tak mau demo hanya karena isu sedang tren

BEM SI Jelaskan Isu Demo Besar Agustus, Masih Proses Konsolidasi
Demo BEM SI terkait satu tahun Prabowo-Gibran di kawasan Monas, Jakarta, Senin (20/10/2025). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu)

Andira menegaskan, BEM SI tidak ingin gerakan mahasiswa dibangun secara reaksioner atau sekadar mengikuti isu yang sedang ramai diperbincangkan publik. Menurutnya, mahasiswa tetap memiliki posisi sebagai gerakan intelektual dan moral. Karena itu, setiap keputusan untuk turun ke jalan harus melalui pembacaan masalah dan konsolidasi yang matang.

"Kami tidak ingin gerakan BEM SI sifatnya reaksioner atau sekadar ikut karena sedang ramai. Prinsip kami tetap, mahasiswa itu punya peran sebagai gerakan intelektual dan gerakan moral," katanya.

Andira mengatakan BEM SI tetap terbuka untuk menggelar demonstrasi apabila hasil konsolidasi menunjukkan ada persoalan yang memang perlu dikawal melalui aksi massa.

"Kalau dari hasil konsolidasi dan pembacaan kami memang ada persoalan yang harus dikawal sampai turun ke jalan, tentu kami akan turun. Tapi kalau belum sampai ke sana, kami juga tidak akan memaksakan aksi hanya karena ada isu bahwa akan ada demo besar," ujar Andira.

Menurutnya, demonstrasi bukanlah tujuan akhir dari gerakan mahasiswa, melainkan salah satu instrumen untuk memperjuangkan kepentingan publik.

"Buat kami, aksi itu salah satu alat perjuangan, bukan tujuan akhirnya. Yang penting isu yang kami bawa jelas dan gerakannya benar-benar punya dampak," tutur Andira.

2. Pandangan BEM SI soal setahun kasus driver ojol meninggal dilindas rantis polisi

BEM SI Jelaskan Isu Demo Besar Agustus, Masih Proses Konsolidasi
BEM SI gelar aksi teatrikal saat demo di gerbang utama Gedung DPR RI Jakarta Pusat pada Kamis (4/9/2025). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Terkait agenda khusus untuk memperingati peristiwa yang melibatkan pengemudi ojek online (ojol) meninggal dunia ditabrak rantis polisi Affan Kurniawan, Andira mengatakan, BEM SI masih melihat dinamika serta hasil konsolidasi yang berjalan.

Andira menekankan, BEM SI tidak ingin momentum tersebut hanya menjadi peringatan tahunan, tanpa ada upaya menyelesaikan persoalan yang melatarbelakanginya.

"Tapi yang jelas, kami tidak ingin peristiwa itu hanya diperingati setiap tahun kemudian selesai. Yang lebih penting justru bagaimana kita melihat persoalan yang ada di balik peristiwa tersebut, dan memastikan hal serupa tidak kembali terjadi," katanya.

Karena itu apabila BEM SI nantinya mengambil sikap, kata Andira memastikan langkah tersebut tidak sekadar seremonial.

"Jadi kalau nantinya BEM SI mengambil sikap, kami ingin bukan sekadar memperingati, tetapi ada substansi dan persoalan masyarakat yang memang kami kawal," ujar dia.

3. Ingatkan mahasiswa tak terjebak informasi viral di medsos

BEM SI Jelaskan Isu Demo Besar Agustus, Masih Proses Konsolidasi
Ilustrasi media sosial yang digunakan anak muda. (IDN Times/Aditya Pratama)

Di tengah munculnya isu mengenai aksi besar pada Agustus, Andira juga mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati terhadap informasi yang beredar di media sosial. Ia menyoroti adanya video lama yang kembali beredar seolah-olah menggambarkan kejadian baru.

Menurut Andira, informasi semacam itu berpotensi membentuk persepsi publik yang keliru. Namun, dia meminta publik tidak buru-buru menyimpulkan bahwa penyebaran konten tersebut merupakan bentuk framing atau agenda setting tertentu tanpa bukti.

"Apakah ini sebuah framing atau agenda setting tertentu, menurut saya kita jangan langsung menyimpulkan tanpa bukti. Yang paling penting justru bagaimana kita kembali melihat fakta dan kondisi sebenarnya di lapangan," ungkap dia.

Andira menilai mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk memastikan informasi yang diterima sebelum menyebarkan maupun mengambil sikap.

"Jangan sampai karena sebuah isu viral, kita langsung ikut menyebarkan atau mengambil sikap tanpa tahu kebenarannya," ujarnya.

Meski demikian, Andira menegaskan, BEM SI menghormati demonstrasi sebagai bentuk penyampaian aspirasi yang sah selama dilakukan secara kondusif. Sebaliknya, dia menolak segala bentuk anarkisme dan perusakan.

"Demonstrasi mahasiswa itu bagian dari penyampaian aspirasi yang sah. Selama dilakukan secara kondusif, kami tentu menghormati itu. Tapi kami tidak pernah membenarkan anarkisme atau pun perusakan," katanya.

Andira juga membantah anggapan bahwa mahasiswa saat ini sudah tidak kritis atau memilih "tiarap". Menurutnya, yang berubah adalah cara mahasiswa dalam menyampaikan kritik.

BEM SI, menurut Andira, tetap konsisten mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai perlu dikoreksi. Namun, demonstrasi bukan satu-satunya jalur yang dapat ditempuh.

"Ada audiensi, kajian, advokasi, dan berbagai jalur lain yang legal dan konstitusional," tuturnya.

Ke depan, BEM SI ingin membangun gerakan mahasiswa yang tidak hanya bereaksi ketika sebuah isu menjadi viral. Mereka ingin terlebih dahulu turun ke lapangan, mendengar masyarakat, mengumpulkan fakta, dan mengkaji persoalan sebelum menentukan langkah.

"Kami ingin turun langsung, melihat masalahnya, ngobrol dengan masyarakat, mengumpulkan fakta, kemudian mengkaji apa yang sebenarnya perlu diperjuangkan," ujar dia.

Andira berharap BEM SI ke depan tidak hanya menjadi pihak yang merespons isu, tetapi mampu menjadi penggerak isu atau lead the issue.

"Jadi kami yang datang melihat masalahnya, memahami persoalannya, kemudian menentukan bagaimana gerakan mahasiswa bisa hadir dan memberikan dampak," katanya.

Bagi Andira, keberhasilan gerakan mahasiswa tidak semata-mata diukur dari frekuensi aksi demonstrasi, tetapi dari perubahan yang mampu dihasilkan.

"Karena menurut saya, ukuran gerakan mahasiswa bukan cuma seberapa sering kita turun ke jalan, tapi seberapa jauh gerakan itu bisa membawa perubahan," tutur Andira.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More